Aku dan Fira sampai kantor pukul 08.10. Telat 10 menit gara-gara macet jadi agak lama naik ojol ke kantornya. Begitu tiba di ruanganku, aku kaget sudah ada Om Eko, Mas Dika dan juga Ansar.
“Pagi, Pak. Maaf telat. Biasa macet,” ujarku beralasan. Pandanganku beralih ke Ansar. “Loh, Ansar. Kok bisa ada di sini?”
“Mulai sekarang aku stay di Jakarta. Apartemennya Dika. Soalnya aku dimutasi bos tempat kerjaku. Aku ke sini karena dipanggil Pak Eko buat meeting katanya pagi ini,” jawab Ansar.
“Ayo kita meeting sekarang.”
Aku manggut-manggut. Lalu, mengikuti mereka ke ruang meeting.
“Selamat pagi, semuanya. Meeting kali ini agak berbeda dari biasanya. Kali ini ada Ansar Siri sebagai pemenang novel DKJ 2025. Nah, kita akan membahas plan skenario novelnya karena pihak DKJ sudah mendesak filmnya harus segera tayang di bioskop.” Pak Eko membuka pembicaraan rapat hari ini.
“Ashlyn dan Fira apakah kalian sudah membaca naskah Ansar secara keseluruhan?”
“Sudah, Pak,” jawabku dan Fira bersamaan.
“Ashlyn, menurutmu bagaimana novelnya Ansar? Apakah versi skenario filmnya akan ada perubahan? Berapa persen perubahannya? Coba kamu presentasikan tentang novelnya Ansar.”
Deg!
Jantungku serasa berhenti berdetak karena tahu-tahu Pak Eko menunjukku mempresentasikan novelnya Ansar. Padahal meeting sebelumnya sepakat bahwa novel Ansar ditangani sama Fira. Kenapa malah aku yang ditanya?
Aku melirik Fira seolah memberikan kode padanya, “Lu aja yang jawab.”
Fira menggeleng. Dia sembunyi-sembunyi mengetik pesan di ponselnya. Lalu, dia menyenggol lenganku agar aku baca pesan yang dia ketik di ponselnya.
Kamu aja yang jelasin novelnya Ansar. Soalnya aku nggak gitu paham novelnya Ansar. Naskahnya boring. Bertele-tele banget narasinya. Nggak cocok di aku.
Sial. Terus gunanya dia apa dong kalau ujungnya aku juga yang menangani naskah Ansar? Untung banget aku sempet baca naskahnya sekitar 50%. Namun, aku nggak mungkin bilang ke mereka baru baca 50%. Aku mendesah napas berat.
“Novelnya Ansar itu bagus. Tentang seorang Nenek Sayuti yang mendapat surat-surat dari masa lalunya lewat meja ajaib. Saya suka idenya. Unik. Menurut saya, nggak gitu perlu ada perubahan versi skenario filmnya. Semua bisa full sesuai novelnya. Hanya saja paling dibikin lebih ringkas biar durasi cukup tayang dua jam. Soalnya saya lihat versi novelnya cenderung panjang narasi saja karena detail penjabaran karakter dan setting. Gimana?”
“Good. Saya setuju,” sahut Pak Eko.
“Saya pun juga setuju. Tadinya saya deg-degan, takut versi filmnya bakal sangat berbeda dari versi novelnya sama kayak film-film adaptasi novel lainnya. Untungnya Ashlyn bisa memahami novel saya dengan baik tanpa perlu banyak yang dirombak untuk dijadikan versi filmnya.” Ansar ikut berkomentar.
“Terima kasih telah setuju pemaparan ide saya,” ucapku sambil tersenyum puas. “Selanjutnya saya akan membahas soal karakter dan setting tempat…”
Rapat pun tanpa terasa selesai dalam waktu tiga jam. Aku bernapas lega, hari ini aku berhasil membahas novel Ansar dengan baik.
Pak Eko berdiri dari kursinya. “Terima kasih Ansar telah hadir dalam meeting hari ini.”
Pak Eko mengulurkan tangannya. Ansar menjabat tangan Pak Eko. “Sama-sama, Pak. Justru saya yang harus bilang terima kasih ke Bapak karena tim Bapak telah menangani naskah saya dengan baik.”
Pak Eko akhirnya keluar dari ruang meeting.
“Gila, kamu keren banget memaparkan konsep skenario naskahnya Ansar,” puji Mas Dika.
“Namanya juga the power of kepepet. Tau-tau aja Pak Bos nanya ke saya, padahal kan Fira yang baca full naskahnya Ansar.”
“Ya gimana, Pak Bos maunya kamu yang jelasin. Mungkin lebih afdol dan dipercaya Bos,” celetuk Fira.
“Sebagai ucapan terima kasih saya karena kalian sudah menangani naskah saya dengan baik, gimana kalau kita makan siang bareng? Saya teraktir,” ujar Ansar.
“Asyik,” sahut Mas Dika girang.
Ting!
Ponselku berbunyi. Di buble notifikasi muncul chat dari nomor tidak dikenal.
08214756999
Ashlyn, ini Mama. Kamu pulang kerja jam berapa? Mama sudah ada di apartemenmu, diantar sama sopir Eko.
Mataku melotot membaca chat dari Mama. Kok bisa Mama tiba-tiba ada di Jakarta? Langsung di apartemenku pula. Ini nggak bisa dibiarin.
“Maaf, aku nggak bisa ikut makan siang bareng. Aku harus pulang sekarang. Ada urusan penting dadakan. Ayo Fira kita pulang sekarang!”
Ekspresi Fira terlihat bingung. “Loh, ada apa?”
“Ntar gue jelasin di jalan.”
Akhirnya aku dan Fira buru-buru pulang.
***
Aku sudah sampai di apartemen. Fira masih terus memberondong pertanyaan kenapa buru-buru pulang. Akhirnya, aku jelaskan kalau Mama sudah ada di apartemen.
“Hah? Mamamu sekarang ada di apartemen? Kok bisa?” jerit Fira.
“Ya makanya itu kita harus buru-buru pulang sekarang.”
Tanganku sibuk ubek-ubek tas mencari kartu kunci apartemen. Begitu menemukannya, buru-buru aku tempelkan ke gagang pintu. Pintu terbuka.
Aku langsung berdiri kaku begitu melihat Mama di ruang tamu. Rasanya… seperti ditarik kembali ke tempat yang selama ini aku coba tinggalkan.
“Eh, Ashlyn…”
Mama langsung memelukku. Erat.mSeolah tidak pernah terjadi apa-apa. Itu… yang paling menyakitkan. Aku tidak langsung membalas pelukannya. Tanganku menggantung di samping tubuh.Kaku.
“Mama kangen kamu…”
Aku perlahan melepaskan diri.
“Ngapain ke sini, Ma?”
“Kangen kamu. Dua bulan kamu nggak ada kabar—”
“Kangen? Serius kangen… atau ada yang mau diminta?”
Hening.