Pagi ini seharusnya biasa saja. Seperti hari-hari lain yang gue jalani selama bertahun-tahun—datang ke kantor, nyalain laptop, buka email, lalu tenggelam dalam rutinitas yang makin lama makin terasa… kosong. Namun, tiba-tiba gue mendapatkan kejutan, sesuatu nggak disangka.
Satu email. Paling atas.
Subject:
“Congratulations – Editor in Chief Position | Tribun Pontianak”
Jari gue berhenti di atas touchpad. Nggak langsung klik. Seolah kalau gue buka, hidup gue bakal berubah. Gue belum siap, tapi penasaran dan jari gue sengaja tetap gue klik.
Kepada Yth.
Andika Sena
Dengan hormat,
Berdasarkan hasil proses seleksi yang telah Anda jalani, kami dengan ini menyampaikan bahwa Anda dinyatakan LOLOS dan DITERIMA untuk bergabung bersama kami di Tribun Pontianak sebagai:
PEMIMPIN REDAKSI (Editor in Chief)
Penempatan: Pontianak, Kalimantan Barat
Tanggal mulai kerja: 1 mimggu sejak tanggal surat ini
Status: Karyawan tetap (setelah masa percobaan 3 bulan)
Kami menilai bahwa pengalaman, kemampuan editorial, serta visi Anda terhadap industri media digital sangat sesuai dengan kebutuhan perusahaan kami saat ini.
Sebagai Pemimpin Redaksi, Anda akan bertanggung jawab untuk:
- Mengelola tim redaksi secara keseluruhan
- Menentukan arah editorial dan strategi konten
- Mengembangkan kualitas jurnalistik berbasis digital
- Membangun jaringan media dan kolaborasi
Kami berharap Anda dapat memberikan kontribusi terbaik serta membawa inovasi baru bagi Tribun Pontianak.
Harap memberikan konfirmasi penerimaan dalam waktu maksimal 3 (tiga) hari kerja sejak email ini diterima.
Hormat kami,
HRD Tribun Pontianak
Gue baca. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Masih sama. Masih nyata.
“Diterima!”
Gue bersandar ke kursi. Tatapan kosong ke langit-langit. Harusnya gue senang. Ini impian gue. Dunia media. Dunia tulisan. Dunia yang dulu gue pilih sebelum hidup bawa gue ke arah lain dan sesuai dengan jurusan jurnalistik saat kuliah
Anehnya, gue rasain justru tenang. Itu lebih menakutkan dari bahagia karena gue tahu memang sudah siap pergi.
***
Tanpa sadar, pandangan gue beralih ke arah satu meja. Ashlyn.mDia duduk di sana. Menatap layar. Serius. Seolah dunia nggak menyakitinya. Padahal gue tahu dia cuma lagi bertahan. Di situ gue ngerti satu hal. Kalau gue tetap di sini semuanya bakal makin rumit. Gue, dia dan Ansar.
“Udah waktunya…”
Jari gue mengarahkan kursor mouse buka Microsoft word. Surat resign gue tulis tanpa banyak drama.
Kepada Yth.
Bapak Eko
Direktur AT Picture
di Tempat.
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: Andika Sena
Jabatan: Line Produser
Dengan ini mengajukan pengunduran diri dari posisi saya sebagai Line Produser di AT Picture, terhitung sejak tanggal [isi tanggal terakhir kerja].
Keputusan ini saya ambil setelah melalui pertimbangan yang matang. Saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan media online sebagai Pemimpin Redaksi, yang merupakan bidang yang telah lama ingin saya kembangkan secara profesional.
Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak dan seluruh tim AT Picture atas kepercayaan, kesempatan, serta pengalaman berharga yang telah saya dapatkan selama bekerja di sini. Banyak hal yang saya pelajari, baik secara profesional maupun pribadi.
Saya juga memohon maaf apabila selama bekerja terdapat kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Untuk memastikan kelancaran transisi pekerjaan, saya bersedia membantu proses serah terima tugas selama masa pemberitahuan ini. Saya juga ingin merekomendasikan Saudara Ansar Siri sebagai kandidat yang saya nilai memiliki kompetensi, visi, dan integritas untuk melanjutkan posisi yang saya tinggalkan.
Demikian surat pengunduran diri ini saya sampaikan. Atas pengertian dan dukungan Bapak, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Andika Sena
Surat yang gue ketik seketika langsung gue print. Gue beranjak dan kursi dan mulai melangkahkan kaki ke ruangan Pak Eko.
“Masuk.” Suara Pak Eko.
Gue buka pintu. Masuk. “Pagi, Pak.”
“Pagi, Dik. Duduk.”
Gue tetap berdiri. Letakkan surat itu di meja. Pak Eko baca. Pelan. Lalu, berhenti.
“Kamu resign?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
Langsung. Tajam. “Saya diterima di Tribun Pontianak. Pemimpin redaksi.”
Hening.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kamu tahu posisi kamu sekarang nyaman?”
“Tahu.”
“Gaji jelas. Tim jelas. Karier jelas.”
“Iya.”
“Terus kenapa pergi?”