Kantor masih sama. Meja, kursi, suara keyboard, bahkan aroma kopi dari pantry di ujung ruangan, semuanya tidak berubah. Namun, rasanya kosong.
Aku duduk di depan laptop sejak pagi. File terbuka. Deadline jelas. Sayangnya, pikiranku tidak di situ. Kursor di layar berkedip, seperti menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
“Ashlyn, revisinya mana?”
Suara Aruna terdengar dari seberang. Aku menoleh pelan. “Belum.”
Biasanya dia akan komentar panjang. Sekarang dia hanya mengangguk dan kembali bekerja. Semua orang seperti berjalan normal. Hanya aku yang tertinggal.
Sejak Andika pergi, rasanya seperti ada bagian dari hidupku yang ikut dicabut. Aku selayaknya tidak memiliki arah tujuan hidup lagi. Di saat yang sama, rasa bersalah itu terus datang. Mama. Kalimat terakhirnya terus terulang di kepalaku. “Kalau suatu hari Mama nggak ada, jangan nyesel.”
Aku menutup laptop. Napas terasa berat. Aku kangen Fira. Biasanya di saat aku galau, selalu cerita ke dia. Dia selalu ada di titik terpurukku, menenangkanku dan menyemangati ku. Aku tidak berani menghubunginya.
“Ashlyn.”
Aku menoleh. Ansar berdiri di samping meja.
“Kamu nggak oke.”
Aku tersenyum tipis. “Lumayan.”
“Lumayan itu biasanya parah,” katanya.
Aku tidak menyangkal.
“Kamu belum selesai revisi kan?” lanjutnya.
Oh, ternyata Aruna mengadu ke Ansar. Pantas tadi dia diam saja, “Iya.”
Dia duduk di kursi sebelahku. “Kamu capek?”
Aku mengangguk pelan. “Capek, Sar. Capek banget.”
Kalimat itu keluar dan rasanya seperti bendungan jebol.
“Semua numpuk. Kerjaan, keluarga… diri aku sendiri.”
Ansar tidak langsung menjawab. Dia hanya ada di situ.
“Dika sempat bilang sesuatu ke aku sebelum pergi,” katanya pelan.
Aku menoleh. “Apa?”
“Kalau suatu hari kamu kelihatan hancur… aku harus bawa kamu ke psikolog. Dia juga ngasih rekomendasi psikolog terbaik di Jakarta. Katanya dulu mantannya konsultasi ke psikolog ini dan bisa sembuh dari lukanya.”
Aku menunduk. Tanganku gemetar sedikit. “Aku takut,” kataku pelan.
“Takut apa?”
“Takut kalau aku cerita semuanya, ternyata aku memang salah.”
Ansar menggeleng. “Kalau kamu salah, kamu belajar. Kalau kamu nggak salah, kamu sembuh.”
Aku diam. “Maun temenin aku?” tanyaku akhirnya.
“Iya,” jawabnya tanpa ragu.
***
Klinik Hypnoterapin Dr. Raina C,Ht. Klinik itu tidak besar, tapi tenang.
Dinding putih, lampu hangat, dan aroma lavender yang samar. Aku duduk di ruang tunggu. Tanganku dingin.
“Masih mau lanjut?” tanya Ansar.
Aku mengangguk. “Kalau aku kabur, tahan aku ya.”
Dia tersenyum. “Siap.”
Namaku dipanggil. Aku berdiri, menarik napas panjang. Lalu, masuk. Seorang perempuan cantik duduk di seberang. Wajahnya tenang.
“Halo, Ashlyn. Saya dr. Raina.”
Aku duduk. Tidak tahu harus mulai dari mana.
“Kamu boleh cerita dari mana saja. Coba tarik napas panjang. Lalu, embuskan perlahan,” katanya.
Aku diam beberapa detik. Mulai melakukan perintah dr. Raina.
“Ulangi sampai minimal 3 kali atau saat kamu merasa enakan dan siap bercerita.”
Akhirnya aku mulai bercerita tentang pola asuh orang tua, kakakku, uang, kehadiran Mama di Jakarta, merasa marah campur rasa bersalah, Fira sampai Andika, semua aku ceritakan secara rinci tanpa ada yang terlewat.
Aku tidak berhenti. Air mataku jatuh, tapi aku tidak menahannya.
Saat aku selesai, ruangan itu sunyi.
“Ashlyn,” katanya pelan, “kamu sudah terlalu lama kuat.”
Kalimat itu langsung menembus. Aku mengangguk, menangis lagi.
“Perasaan kamu valid,” lanjutnya. “Apa yang kamu rasakan bukan berlebihan.”
Dadaku terasa lebih ringan.
“Selama ini kamu bertahan tanpa pernah benar-benar didengar,” katanya.
Aku menunduk.
“Sekarang kita tidak akan langsung menyembuhkan luka itu,” lanjutnya. “Kita belajar berdamai.”
“Berdamai gimana?” tanyaku.
“Dengan mengakui luka itu bagian dari kamu, tapi bukan sesuatu yang harus mengontrol kamu.”
Aku mengangguk pelan.
“Kita coba terapi ringan, ya. Hipnoterapi.”
Aku ragu. Tapi akhirnya mengangguk. Aku diminta berbaring di sofa bed telah disiapkan. Lampu diredupkan.
“Tarik napas…”
Aku mengikuti.
“Bayangkan tempat aman…”
Anehnya, yang muncul bukan rumah, tapi ruang kosong.
“Sekarang bayangkan kamu bertemu dirimu yang kecil.”
Dadaku langsung sesak. Aku melihatnya. Versi kecilku. Duduk sendirian.