Pesawat baru saja berhenti sempurna ketika suara pengumuman terdengar di dalam kabin. Pontianak. Akhirnya sampai.
Gue tetap duduk beberapa detik setelah sabuk pengaman dilepas. Orang-orang mulai berdiri, mengambil bagasi, bergerak seperti sudah tahu arah masing-masing. Sementara gue masih diam. Ini keputusan gue. Gue yang pilih. Gue yang datang ke sini, tapi anehnya, rasanya tetap seperti didorong. Gue akhirnya berdiri, mengambil tas, lalu mengikuti arus keluar pesawat.
Udara Pontianak langsung terasa begitu keluar dari pintu bandara.
Hangat. Lembap. Gue berjalan melewati pintu kedatangan. Tidak terlalu ramai, tapi tetap hidup. Di antara beberapa papan nama, gue melihat satu tulisan: “ANDIKA SENA”
Seorang pria berdiri di bawahnya. “Pak Andika?”
“Iya.”
“Selamat datang, Pak. Saya Rudi sopir dari kantor. Saya yang akan antar jemput Pak Andika selama berada di Pontianak.”
Kami berjabat tangan. “Makasih, Pak.”
“Perjalanan lancar?”
“Lancar.”
“Mari ikut saya. Mau langsung pulang atau makan dulu?”
“Langsung pulang aja, Pak. Saya sudah makan di bandara tadi,” jawab gue sambil berjalan mengikuti dia ke parkiran.
Mobil sudah siap. Gue masuk, duduk, dan pintu tertutup. Untuk pertama kalinya, gue merasa benar-benar jauh.
Mobil mulai berjalan. Gue menoleh ke jendela. Pontianak bergerak pelan di luar sana. Tidak seramai Jakarta. Tidak setinggi Jakarta, tapi tetap hidup. Warung makan. Motor berlalu. Orang-orang berjalan santai. Semua terasa sederhana. Justru itu yang bikin gue merasa asing.
“Sudah pernah ke Pontianak, Pak?”
“Belum.”
“Biasanya butuh waktu buat menyesuaikan.”
“Sepertinya.”
Mobil terus berjalan. Di tengah pemandangan baru itu, pikiran lama tetap muncul.
Ashlyn. Gue menghela napas pelan. Harusnya ini awal baru, tapi kenapa rasanya seperti membawa semuanya ikut pindah?
“Rumah dinasnya dekat dari kantor, Pak,” kata Rudi.
Mobil berbelok ke jalan yang lebih sepi. Akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Sederhana. Cat putih. Halaman kecil.
“Ini rumah dinasnya, Pak.”
Gue turun. Menatap rumah itu. Tidak buruk, tapi juga tidak terasa apa-apa.
Rudi membuka pagar. “Sudah dibersihkan kemarin, Pak.”
Kami berjalan ke depan pintu. Dia menyerahkan kunci. “Ini kuncinya, Pak.”
Gue menerimanya. Dingin.
“Kalau butuh bantuan, hubungi saya saja.”
“Iya, terima kasih.”
Rudi kembali ke mobil dan pergi. Sekarang hanya gue. Gue berdiri di depan pintu. Sunyi. Gue memasukkan kunci. Berhenti sebentar.
“Ini pilihan lo.”
Klik. Pintu terbuka. Saat gue melangkah masuk—gue tahu satu hal. Ini bukan sekadar pindah kota. Ini awal dari sesuatu yang akan memaksa gue menghadapi semuanya.
***
Hari pertama kerja.
Gue datang lebih pagi dari siapa pun. Bukan karena disiplin, tapi karena aku tidak ingin terlalu lama sendirian di rumah itu.
Gedung kantor berdiri sederhana tapi solid. Tidak megah, tapi punya wibawa. Di dalam, suasana redaksi hidup. Orang-orang berbicara cepat, mengetik cepat, bergerak cepat. Ini dunia yang dulu aku rindukan. Dunia yang katanya jadi alasan gue pergi. Untuk beberapa menit pertama, gue benar-benar percaya itu.
“Pak Andika, direktur sudah menunggu.”
Gue mengangguk. Langkahku mantap. Sampai pintu itu terbuka. Semuanya… retak. Septhi. Wajah itu langsung menarik masa lalu keluar tanpa izin. Tidak ada proses. Tidak ada peringatan. Dia hanya ada. Masih sama, tapi tidak benar-benar sama. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Sesuatu yang dulu tidak ada.
Di sampingnya—suaminya. Direktur. Realitas.
“Ini istri saya.”
Kalimat itu terdengar biasa. Di dalam kepalaku, kalimat itu seperti gema yang tidak berhenti. Istri. Septhi. Istri.
“Hai, Dik. Apa kabar? Senang akhirnya kamu bergabung di kantor ini,” sapa Septhi dengan tersenyum.
“Loh, kalian sudah saling kenal?” tanya suaminya.
Gue ikut tersenyum. Bukan karena ingin, api karena itu satu-satunya respon yang aman. “Teman lama.”
Lucu. Bagaimana dua orang yang pernah hampir menjadi segalanya … sekarang dipaksa menjadi “teman lama”.
***