Lampu kamera menyala dari berbagai arah.
Suara wartawan saling bersahutan memenuhi area depan backdrop poster film. Beberapa kru sibuk mondar-mandir memastikan acara berjalan lancar, sementara para tamu mulai memenuhi XXI Epicentrum tempat gala premier diadakan.
Aku berdiri di samping Ansar. Sampai sekarang rasanya masih aneh.
Satu tahun lalu, aku bahkan nyaris tidak sanggup menyelesaikan satu revisi skenario tanpa merasa hancur di tengah jalan. Sekarang aku berdiri di gala premier untuk dua film sekaligus. Film horor yang naskahnya kutangani selama berbulan-bulan dan film adaptasi novel Ansar.
Semuanya terasa seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.
“Deg-degan?”
Suara Ansar terdengar pelan di sebelahku. Aku menoleh. Dia berdiri rapi dengan setelan hitam sederhana. Rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya, tapi ekspresinya tetap sama—tenang dan santai seperti orang yang tidak pernah benar-benar panik menghadapi apa pun.
“Lumayan,” jawabku jujur.
Ansar tertawa kecil. “Padahal yang diwawancara bukan cuma lo.”
“Aku takut salah ngomong.”
“Kalau salah, tinggal senyum.”
Aku memicingkan mata. “Emang semudah itu?”
“Lumayan works.” Aku tertawa kecil. Anehnya aku memang sedikit lebih tenang setelah itu.
Suara MC memanggil nama para tim produksi untuk naik ke area media. Tepuk tangan terdengar. Lampu kamera langsung menyala lebih terang. Aku berjalan bersama Ansar menuju depan backdrop. Beberapa wartawan langsung mulai mengangkat mikrofon.
“Mas Ansar! Mas Ansar!”
“Mbak Ashlyn, sini!”
Aku berdiri di sampingnya. Berusaha tetap tersenyum meski jantungku mulai tidak karuan.
“Mas Ansar, gimana rasanya novel akhirnya diangkat jadi film?”
Ansar menerima mikrofon. Seperti biasa dia terlihat tenang.
“Campur aduk sih,” jawabnya sambil tersenyum kecil. “Karena waktu nulis novel ini, saya nggak nyangka bakal sampai di titik ini.”
Wartawan lain langsung menyambung. “Katanya proses adaptasinya cukup panjang?”
Ansar mengangguk. “Iya. Karena kami nggak mau cuma mindahin cerita ke layar. Tapi juga mempertahankan emosinya.”
Aku diam-diam menoleh. Untuk beberapa detik aku hanya memperhatikannya. Cara dia menjawab pertanyaan dengan memilih kata-kata yang pas, dia tetap tenang di tengah sorotan.
Dulu aku pikir Ansar hanya cowok santai yang suka bercanda dan kelihatan tidak pernah serius. Ternyata aku salah. Dia cerdas. Bukan tipe cerdas yang berusaha terlihat pintar. Justru itu yang bikin menarik.
“Mas Ansar ikut terlibat langsung dalam revisi skenario?”
“Iya,” jawabnya. “Tapi yang paling banyak kerja tetap Ashlyn.”
Refleks aku menoleh. Ansar tersenyum kecil ke arahku sebelum melanjutkan, “Dia yang paling keras kepala soal detail emosi karakter.”
Beberapa wartawan tertawa kecil. Pipiku langsung terasa panas. “Karena itu penting,” jawabku akhirnya.
“Kenapa penting?” tanya salah satu wartawan.
Aku menarik napas. “Karena penonton mungkin lupa alur cerita, tapi biasanya mereka ingat perasaan yang mereka rasakan waktu nonton.”
Beberapa wartawan mengangguk. Di sampingku Ansar tersenyum tipis. Tatapan itu kecil, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa aneh. Sesi wawancara berjalan lebih lama dari yang aku kira. Pertanyaan berganti dari proses produksi sampai hubungan para tim di balik layar.
“Mas Ansar sama Mbak Ashlyn kelihatannya dekat banget ya selama proses film ini?”
Aku langsung menahan napas kecil. Ansar tertawa santai. “Karena kalau nggak dekat, mungkin kami udah bunuh-bunuhan pas revisi. Kebetulan kami satu kantor. Jadi bukan sekadar penulis novel dan penulis skenarionya.”
Semua orang tertawa.
“Jadi sering berantem?”
“Sering beda pendapat,” jawab Ansar santai. “Tapi itu normal.”
Aku ikut tersenyum kecil. Padahal aku tahu dia sengaja membuat semuanya terdengar ringan. Tidak ada yang tahu kalau selama satu tahun terakhir Ansar selalu ada saat aku breakdown karena revisi berantakan, aku diam berhari-hari karena tiba-tiba teringat Mama dan aku mulai ragu sama diri sendiri lagi.
Dia selalu ada. Tanpa memaksa. Tanpa menuntut. Tanpa mengingatkan kalau dulu dia pernah menyatakan cinta dan aku menolaknya. Justru itu yang kadang membuatku merasa bersalah karena semakin tulus seseorang—semakin terasa berat saat kita tidak bisa membalasnya.
“Last question!”
Suara panitia terdengar.
Seorang wartawan perempuan mengangkat tangan. “Kalau boleh jujur, apa hal tersulit selama proses film ini?”
Aku berpikir sebentar, tapi sebelum aku menjawab, Ansar lebih dulu bicara. “Percaya sama proses.”
Ruangan langsung sedikit lebih tenang. Ansar melanjutkan, “Karena ada masa di mana semuanya terasa lambat. Revisi nggak selesai-selesai, produksi berantakan, bahkan kami sendiri capek.”
Dia tertawa kecil. “Tapi ternyata beberapa hal memang butuh waktu supaya hasilnya benar-benar matang.”
Aku menatapnya lagi. Entah kenapa kalimat itu terasa bukan cuma tentang film, tapi tentang hidup kami juga.
Acara akhirnya selesai. Lampu kamera mulai redup. Wartawan berpindah ke talent lain. Aku menghembuskan napas panjang.
“Capek?” tanya Ansar.
“Lumayan.”
Dia menyerahkan botol air mineral ke arahku. “Nih.”
“Thanks.”
Kami berjalan pelan keluar dari area media. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara. Justru di dalam diam itu aku sadar satu hal. Aku nyaman. Sangat nyaman. Terlalu nyaman. Aku menoleh ke arah Ansar yang sedang membalas pesan di ponselnya. Rasa bersalah itu muncul lagi.
Satu tahun terakhir dia tetap ada di sampingku. Tetap memperlakukanku dengan baik. Tetap mendukungku. Tetap menjadi tempat paling tenang yang aku punya setelah semua kekacauan hidupku. Sementara aku masih belum bisa memberikan jawaban yang dia inginkan.
“Ashlyn?”
Aku tersadar.,“Hm?”
Ansar menatapku. “Kamu kenapa?”