Pontianak ternyata cocok buat gue. Bukan karena kotanya ramai. Justru karena ritmenya lebih pelan. Orang-orangnya nggak terlalu terburu-buru, jalanannya nggak segila Jakarta, dan entah kenapa gue lebih gampang bernapas di sini. Atau mungkin karena selama di Pontianak, gue terlalu sibuk buat mikirin hal-hal yang sebenarnya masih belum selesai di kepala gue sendiri.
“Pak Andika, kopi susu gula aren satu ya?”
Barista kafe itu bahkan sudah hafal pesanan gue karena hampir tiap pulang kerja datang ke AT Cafebook. Selain tempatnya aesthetic, ramah buat kerja, penuh novel terbaru, menunya cemilan lengkap, kopinya pas di lidah dan paling penting dekat rumah.
Gue tertawa kecil sambil mengangguk. “Hari ini jangan terlalu manis.”
“Tumben.”
“Lagi pengin hidup sehat.”
Barista itu langsung ketawa. Gue ikut senyum kecil.
Gue memang jadi lebih sering keluar sejak pindah ke Pontianak. Kadang habis kerja gue sengaja muter-muter nyari kafe baru. Kadang nyobain tempat makan random cuma karena lihat review orang. Kadang bahkan ngobrol sama orang asing yang duduk di sebelah meja gue.
Ansar pernah bilang gue terlalu ekstrovert buat jadi pemimpin redaksi. Padahal menurut gue itu justru penyelamat. Karena kalau gue terlalu lama sendirian pikiran gue mulai ke mana-mana.
Ashlyn masih sesekali muncul di kepala. Tidak sesering dulu, tapi tetap ada. Seperti lagu lama yang kadang tiba-tiba terputar sendiri tanpa diminta. Sialnya perasaannya masih sama.
Usai ngopi, gue datang ke kantor lebih cepat dari biasanya. Suasana ruang redaksi masih setengah hidup. Beberapa anak tim baru datang sambil membawa sarapan. Ada yang langsung duduk depan laptop, ada yang masih sibuk ngobrol.
Gue baru mau masuk ruang kerja ketika Dinda memanggil. “Pak!”
Gue menoleh. “Ada apa?”
“Rizky izin sakit.”
Langkah gue berhenti.
“Rizky Kurniawan?”
Dinda mengangguk cepat. “Demam tinggi katanya.”
Gue langsung menghela napas. Kalau jurnalis lain sakit mungkin nggak terlalu masalah, tapi kalau Rizky beda cerita. Anak itu pemegang rubrik horor dan misteri paling niat di kantor. Dia rela masuk hutan, naik motor tengah malam, sampai ikut ritual adat cuma demi bahan artikel. Hari inimdia punya jadwal liputan penting.
“Padang 12 ya?” tanya gue.
Dinda langsung meringis.
“Nah…”
Gue penasaran sama Padang 12 Kalbar. Gue merogoh saku celana. Lalu, mengambil ponsel. Gue research tentang Padang 12 Kalbar di Chatgpt biar lebih cepat.
Padang 12 Kalbar lagi ramai dibahas beberapa bulan terakhir. Tempat itu terkenal sebagai salah satu lokasi paling misterius di Kalimantan Barat. Konon katanya di kawasan itu ada kota gaib yang hidup berdampingan dengan dunia manusia. Mirip cerita Saranjana di Kalimantan Selatan.
Nama “Padang 12” sendiri berasal dari jalur kilometer panjang di daerah Mempawah yang diapit hutan dan jalan sunyi. Kalau siang, tempat itu terlihat biasa saja. Jalan panjang, pepohonan tinggi, dan beberapa warung kecil di pinggir jalan.
Cerita orang-orang berubah begitu malam datang. Katanya beberapa pengendara pernah mendengar suara pasar ramai dari dalam hutan. Ada suara orang tertawa, musik dangdut, bahkan suara pedagang… padahal saat dicari, tidak ada apa-apa selain pohon gelap.
Ada juga yang mengaku melihat deretan lampu kota muncul di balik pepohonan. Lampunya terang seperti perumahan modern. Tapi semakin didekati, lampu itu hilang begitu saja.
Cerita paling terkenal adalah soal “Manusia Limun”. Warga lokal percaya ada makhluk dari dunia lain yang tinggal di kawasan itu. Mereka disebut menyerupai manusia biasa, hidup seperti manusia, bahkan punya kota sendiri. Bedanya, mereka tidak hidup di dunia yang sama dengan manusia normal.
Konon beberapa orang pernah “diajak masuk” ke kota Limun itu. Mereka merasa cuma sebentar berada di sana. Padahal di dunia nyata mereka hilang berhari-hari. Karena itu orang-orang lokal punya banyak pantangan kalau melewati Padang 12: jangan sembarang ngomong, jangan nantang, jangan nunjuk sembarangan, dan jangan pernah menerima makanan asing kalau tiba-tiba ada orang misterius muncul di tengah jalan.
Sebagian orang percaya. Sebagian lagi nganggep semua itu cuma urban legend, tapi satu hal yang pastimPadang 12 selalu punya cerita.
Gue mengangguk. “Hmmm … menarik tempatnya, Dan itu alasan artikel Rizky penting banget buat tayang minggu ini.”
“Kalau dibatalin, narasumbernya susah dihubungi lagi,” kata Dinda pelan.
Gue diam sebentar. Lalu, melepas jas tipis gue dan menaruhnya di kursi. “Yaudah. Gue aja yang berangkat.”
Dinda langsung melotot. “Hah? Serius, Pak?”
“Iya.”
“Tapi itu jauh.”
“Makanya jangan tambah bikin lama.”
Satu jam kemudian gue sudah duduk di mobil kantor bersama satu kameramen dan sopir. Jujur aja gue nggak keberatan. Malah agak senang. Sudah lama gue nggak turun langsung liputan lapangan. Sebagian besar waktu gue sekarang habis di kantor, ngurus revisi berita, evaluasi tim, dan rapat yang kadang nggak penting-penting amat. Padahal dulu bagian paling gue suka dari dunia jurnalistik adalah perjalanan. Ketemu tempat baru serta cerita baru.
Mobil mulai meninggalkan pusat kota Pontianak. Gedung-gedung mulai berkurang. Diganti jalan panjang dan pepohonan besar di kanan kiri. Langit mendung tipis. Cocok buat suasana horor.
“Pak, katanya tempat ini serem bener ya?” tanya kameramen di sebelah gue.
Gue tertawa kecil. “Kalau ada setan sekalian aja diwawancara.”
“Jangan gitu juga, Pak…”
Sopir di depan langsung ikut nyeletuk. Gue makin ketawa.
Semakin jauh perjalanan berjalan suasana mulai berubah. Jalan makin sepi. Sinyal mulai hilang muncul. Pepohonan makin rapat. Entah kenapa ada rasa aneh yang pelan-pelan muncul. Bukan takut. Lebih seperti tempat ini menyimpan terlalu banyak cerita.
Mobil akhirnya berhenti di dekat warung kecil pinggir jalan. Beberapa bapak tua duduk sambil ngopi dan merokok. Gue langsung turun sambil membawa recorder kecil.
“Permisi, Pak.”
Salah satu bapak menoleh. “Dari mana?”
“Media, Pak. Mau wawancara soal Padang 12.”
Beberapa orang langsung saling pandang. Ada yang malah ketawa kecil. “Masih aja orang kota suka nyari begituan.”
Gue ikut tertawa. “Namanya juga kerja, Pak.”