Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #16

Chapter XVI: (Ashlyn Aprilia)

Rumah dinas Andika tidak besar, tapi terasa rapi dan tenang. Ada dua kamar. Andika langsung menyerahkan kamar yang satu ke aku tanpa banyak bicara, hanya bilang, "Istirahat dulu. Nanti malam kita makan bareng."

Ansar sudah langsung rebahan di sofa ruang tamu, tutup muka pakai bantal, tidak peduli dunia. Aku masuk kamar, menutup pintu pelan.

Koperku belum kubuka sejak berangkat dari Jakarta kemarin. Aku jongkok di depannya, menarik resleting, dan mulai mengambil baju ganti. Tanganku berhenti. Di sudut koper, terselip di antara lipatan pakaian, buku cokelat kusam itu masih ada. Buku harian Mama.

Aku tidak ingat memasukkannya, tapi sepertinya tanganku melakukannya sendiri waktu membereskan barang setelah dari pemakaman kemarin. Seolah ada bagian dari diriku yang tahu — belum saatnya meninggalkan buku itu di belakang.

Aku mengambilnya. Berdiri. Lalu, keluar dari kamar. Teras belakang rumah dinas Andika menghadap ke halaman kecil yang ditumbuhi pohon pisang dan beberapa tanaman yang aku tidak tahu namanya. Sore Pontianak turun pelan — langitnya jingga tipis, anginnya basah, udara terasa lebih berat dari Jakarta tapi entah kenapa lebih mudah dihirup.

Aku duduk di anak tangga teras. Membuka buku harian Mama dari halaman yang belum sempat kubaca kemarin.

Tulisannya masih sama — miring, tidak rata, seperti orang yang jarang menulis tapi memaksakan diri.

Aku anak pertama dari enam bersaudara. Adik-adikku banyak. Bapakku bilang anak pertama harus jadi contoh. Harus mengalah. Harus sabar. Kalau adik nangis, aku yang disuruh diam. Kalau adik minta mainan, aku yang disuruh kasih. Kata Bapakku, anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Yang penting bisa masak, bisa urus rumah. Anak laki-laki yang disekolahkan jauh karena mereka yang akan jadi kepala keluarga.

Aku menghentikan bacaan sejenak. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadaku. Bukan asing. Justru terlalu familier. Aku melanjutkan membaca.

Adikku yang laki-laki paling bontot — dia yang paling disayang Bapak. Dapat sepatu baru tiap tahun. Dapat uang jajan lebih. Aku tidak pernah protes. Aku hanya diam. Karena kata orang tua, anak yang protes itu durhaka. Dan aku tidak mau jadi anak durhaka. Sampai sekarang aku masih sering diam. Bahkan saat harusnya aku bicara.

Air mataku mulai jatuh.

Aku tidak tahu cara membesarkan anak yang berbeda dari cara aku dibesarkan. Aku hanya tahu satu cara yang diajarkan orang tuaku. Kalau anak nurut, berarti berhasil. Kalau anak diam, berarti aman. Aku tidak pernah tahu bahwa diam bisa menyimpan luka yang sangat dalam. Karena aku sendiri juga diam — dan aku juga luka.

Aku menutup buku itu.

Tanganku gemetar. Bukan karena marah, tapi karena baru sekarang aku benar-benar mengerti.

Mama bukan perempuan jahat. Mama adalah anak kecil yang juga tidak pernah didengar — yang tumbuh menjadi ibu tanpa pernah ada yang mengajarinya cara mencintai anak dengan benar. Lukanya belum sembuh ketika dia mulai membesarkan aku. Jadi tanpa sadar, dia mewariskan luka yang sama. Rantai yang sama.

Di sinilah aku sekarang — duduk di teras rumah seseorang di Pontianak, menangis untuk Mama, menangis untuk diriku sendiri, dan menangis untuk perempuan kecil yang dulu dipaksa diam, tapi tidak pernah ada yang memastikan ia baik-baik saja.

"Ashlyn."

Suara Andika. Aku tidak menoleh, tapi aku dengar langkahnya mendekat. Lalu, langkah lain yang lebih santai — Ansar.

Mereka duduk di sampingku tanpa bertanya apa-apa dulu. Andika di sebelah kanan, Ansar di sebelah kiri. Keduanya diam.

"Buku harian Mama," kataku akhirnya. Suaraku serak. "Ternyata dia juga anak pertama. Punya lima adik. Selalu disuruh mengalah. Tidak dianggap karena perempuan. Tidak pernah didengar karena anak yang diam dianggap aman."

Sunyi. Angin Pontianak bergerak pelan di antara daun-daun.

"Dia nggak tahu cara lain," lanjutku. "Karena nggak ada yang mengajarinya. Dan aku marah sama seseorang yang sebenarnya juga tidak pernah sembuh dari lukanya sendiri."

Andika tidak langsung menjawab. Tangannya menyentuh bahuku — pelan, tidak memaksa. Hanya ada.

Ansar berkata pelan, "Berarti kamu yang memutus rantainya."

Aku menoleh ke arahnya.

"Kamu pergi ke psikolog. Kamu belajar mengenal lukamu. Kamu berani bilang ini menyakitkan." Dia mengangguk kecil. "Mama kamu tidak punya itu. Nenek kamu juga mungkin tidak. Tapi kamu punya. Dan itu bukan hal kecil, Lyn."

Air mataku jatuh lagi, tapi kali ini berbeda. Lebih ringan.

Kami bertiga duduk di teras itu sampai langit benar-benar gelap. Tidak banyak bicara. Tapi justru dalam diam itulah aku merasa paling tidak sendirian.

Lihat selengkapnya