Udara di dalam kamar itu terasa berat, pekat oleh bau kertas tua dan tinta yang belum sepenuhnya menguap. Di sudut meja belajar yang lapuk dimakan usia, tumpukan buku-buku tebal menumpuk tak beraturan, seolah ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda pemiliknya. Kulit sampul buku yang beragam warna itu kini terlihat kusam, pinggiran kertasnya melipat berantakan, seakan sering kali ditarik keluar dengan tergesa-gesa lalu dilempar kembali tanpa perlakuan yang layak. Nadia berdiri terpaku di hadapan gunungan literatur itu, napasnya ditarik perlahan namun terasa sesak saat turun ke paru-paru. Jemari tangannya yang sedikit gemetar perlahan terulur, menyentuh punggung buku metodologi penelitian yang tebalnya nyaris dua jari, lalu menyapu lembaran jurnal-jurnal ilmiah yang ujung-ujung kertasnya mulai keriting karena terlalu sering dibaca di bawah cahaya lampu yang kurang terang. Di sanalah letak tumpukan yang paling ia kenal — bundelan draf skripsinya sendiri, ribuan kata yang telah ia susun dengan keringat dan air mata selama berbulan-bulan lamanya, setiap kalimat seakan membawa jejak lelah yang belum hilang sepenuhnya.
Merapikan meja belajar seharusnya adalah pekerjaan sederhana yang cukup diselesaikan dalam sepuluh menit saja. Namun malam itu, setiap kali ia mengangkat sebuah buku tebal dan memindahkannya ke tepi meja, dadanya terasa berdenyut nyeri, seakan ada jarum halus yang menusuk perlahan di balik tulang rusuk. Berat buku-buku itu seolah adalah cerminan langsung dari berat beban yang kini bersemayam di dalam rongga dadanya. Sebuah beban yang begitu pekat dan senyap, menghimpit perlahan namun tak kunjung mereda, menyisakan sesak napas yang tak mampu lagi diusir sekadar dengan menarik dan mengembuskan udara berulang kali.
Tepat satu minggu. Tujuh hari yang lalu, dunia yang selama ini ia kenal seakan runtuh tanpa suara. Kepergian Papanya — kepergian yang datang begitu tiba-tiba hingga tak sempat memberi waktu untuk bersiap — telah menguras air mata gadis berusia dua puluh satu tahun itu sampai terasa tak ada lagi sisa yang tersisa di kantung matanya. Yang tersisa hanyalah rasa sembab yang menekan pelipis setiap kali ia mengedipkan mata, tenggorokan yang terasa kering dan kasar seakan digosok kertas amplas, serta kerinduan liar yang tak tahu harus dikirimkan ke mana. Selama tujuh hari itu, waktu seakan berjalan dengan langkah yang aneh — kadang melambat begitu lama hingga satu jam terasa seperti sehari penuh, kadang melesat begitu cepat hingga ia hampir tak sanggup mengikutinya. Waktu meninggalkan Nadia berdiri diam di tengah pusaran duka yang begitu pekat, duka yang belum sepenuhnya sanggup ia urai menjadi kata-kata apa pun.
Pandangannya perlahan jatuh kembali pada tumpukan kertas draf skripsi yang tersusun di sisi lain meja. Sidang akhir itu sudah semakin dekat, tinggal menghitung hari. Angka-angka di kalender yang melingkari hari sidang seakan menatapnya tajam, menuntut janji yang telah lama ia buat pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dicintainya.
Dulu, saat pertama kali melangkahkan kaki ke gerbang kampus, menapaki lorong-lorong panjang yang berbau kapur dan semangat muda, Nadia sering membayangkan hari itu dengan begitu jelas. Ia membayangkan diri berdiri tegak mengenakan toga yang menjuntai hingga ke mata kaki, dengan kerudung yang rapi di bawah topi segi empat, senyum merekah di wajah sementara tangan memeluk erat seikat bunga segar yang wanginya memenuhi udara. Ia membayangkan menatap ke barisan kursi penonton, mencari sepasang mata yang selama ini menjadi sumber kekuatannya, lalu tersenyum bangga — bukan karena dirinya hebat, melainkan karena ia tahu mereka turut bangga atas apa yang telah diperjuangkan anaknya. Namun kini, saat garis finis itu akhirnya tampak di depan mata, makna perjuangan itu telah bergeser sepenuhnya. Bayangan wajah yang paling ingin ia tatap di hari itu kini telah tiada, terbenam jauh di bawah tanah, meninggalkan kekosongan yang tak sanggup diisi oleh apa pun di dunia ini.
Skripsi itu bukan lagi sekadar lembaran kertas yang harus dipertahankan di hadapan dewan penguji demi sebuah gelar. Setiap huruf yang sempat diketik hingga jari terasa kaku, setiap malam yang dilewati dengan menahan kantuk yang berat demi menyelesaikan satu bab lagi, setiap argumen yang dipatukkan perlahan agar dapat diterima oleh para pembimbing — semuanya kini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Semua itu ditujukan untuk kedua orang tua. Menyekolahkan Nadia hingga ke jenjang ini adalah pengorbanan terbesar yang pernah mereka berikan, sesuatu yang tak akan pernah sanggup dibalas seumur hidup pun. Bagi gadis sederhana seperti dirinya, pendidikan adalah jembatan satu-satunya, kompas yang menuntun langkah keluar dari ketidakpastian menuju jalan kehidupan yang sedikit lebih terang dan pasti.
Nadia memejamkan mata sejenak, punggung tangannya perlahan mengusap sudut mata yang kembali terasa hangat. Ia mengembuskan napas perlahan, berusaha melapangkan dada yang sempit oleh sesak. Ia harus kuat. Kalimat dari Papanya yang terus berputar di kepalanya bagaikan mantra yang diulang tanpa henti.