Satu tahun berlalu bagai aliran sungai yang tenang namun terus bergerak membawa perubahan di setiap lekuknya. Nadia kini genap berusia dua puluh dua tahun. Gelar sarjana telah resmi melekat di belakang namanya, diperoleh setelah hari-hari panjang yang penuh air mata dan perjuangan akhirnya usai. Namun kini, setelah gerbang kampus tertutup di belakang punggungnya, Nadia memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan orang yang dikenalnya — ia menjadi penerjemah lepas, bekerja dari kamar, duduk berjam-jam di depan layar atau menenggelamkan wajah di antara lembaran buku tebal berbahasa asing. Pilihan ini ia jalani dengan sepenuh hati, namun ternyata setiap pilihan pasti membawa gelombang tantangannya sendiri — dan gelombang itu datang menghantam tepat pada malam pergantian tahun.
Di pangkuannya terbentang sebuah buku bersampul sederhana, novel misteri berlatar kota Bergen di Norwegia. Nadia membiarkan ujung ibu jarinya menyapu perlahan pinggiran kertas yang sedikit kasar dan dingin saat disentuh, lalu dengan gerakan pelan melipat kecil sudut atas halaman dua puluh empat — tanda perhentian bacaan untuk malam itu. Di dalam lembaran buku itu, penulis menggambarkan sebuah kota yang selalu basah, selalu kelabu, selalu dibalut kabut tipis dan rintik gerimis yang seakan tak pernah berhenti sepanjang tahun. Jalanan batu yang licin dan gelap, rumah-rumah kayu yang berdiri rapi di sepanjang pantai, langit berwarna abu-abu baja yang menekuk rendah di atas atap — kota yang sunyi, sejuk, dan seakan memeluk siapa saja yang ingin bersembunyi di dalamnya. Kota yang terasa begitu damai di dalam imajinasinya.
Kenyataannya malam itu justru sebaliknya. Ruang tengah rumah tempat Nadia duduk terasa begitu sempit dan panas, dipenuhi suara dan gerak yang tak kunjung usai. Udara yang seharusnya sejuk justru terasa lembap dan pengap, seakan napas siapa pun yang duduk di ruangan itu tak pernah sepenuhnya berhembus lega. Dari arah televisi atau ponsel di tangan sepupu-sepupunya terdengar bunyi bising yang berulang-ulang — tembakan, ledakan, dan sorak-sorai mereka yang memadati ruangan. Suara tawa tetangga terdengar melengking dari halaman sebelah, diselingi bunyi petasan yang sesekali meledak nyaring hingga menggetarkan kaca jendela. Semua orang tampak begitu riang menyambut angka baru di kalender, seakan mengganti lembaran tanggal saja sudah cukup untuk mengubah segala hal menjadi lebih baik. Sementara Nadia duduk di sudut sofa yang agak terlindung, merasa seakan terperangkap di dalam ruangan yang terus menyusut perlahan di sekelilingnya.
Di sebelah kirinya duduk seorang perempuan setengah baya — Tante-nya. Tangan kanannya sibuk memasukkan sepotong demi sepotong keripik singkong ke mulut dengan bunyi renyah yang terdengar berirama namun bagi Nadia terdengar begitu mengganggu. Dari sudut matanya yang tak sengaja melirik, Nadia dapat merasakan sepasang mata itu menelusuri penampilannya dari ujung rambut yang terikat asal hingga sepatu rumah yang sederhana. Tatapan itu begitu telanjang dan terang-terangan, menilai tanpa usaha sedikit pun untuk menyembunyikannya.
"Pantesan saja, kamu itu terlalu idealis ya, Na," suara Tante terdengar tiba-tiba di sela bunyi kunyahan yang renyah. Nadia tak langsung menoleh. Ia hanya menarik napas dalam-dalam melalui hidung, berusaha menahan getar yang mulai terasa di dadanya. "Coba saja dari dulu kamu mau sedikit menuruti saran orang yang lebih tua. Buka usaha kecil-kecilan, atau melamar kerja di kantor yang jelas jenjangnya. Daripada tiap hari cuma mengurusi buku-buku tebal dan terjemahan yang belum tentu jelas pendapatannya begini."
Nadia meremas pelan ujung kain bajunya yang terlipat di pangkuan. Kata-kata itu jatuh begitu ringan dari mulut Tante, namun menimpa dadanya bagaikan batu yang berat. Selama berbulan-bulan ia bangun sebelum matahari terbit, duduk hingga larut malam menyusun kata-kata agar maknanya mengalir indah dalam bahasa ibu, berjuang melawan kesepian dan ketidakpastian demi sesuatu yang diyakininya berharga. Namun di mata orang lain, semua kerja keras itu seakan tak lebih dari sekadar hobi yang tak jelas arahnya.