Bukan Salah Hari Ini

mahmudah romadhona
Chapter #3

Gerimis di Bulan Januari

Pagi itu datang membawa suasana yang jauh berbeda dari semalam. Tak ada lagi suara terompet atau letupan kembang api yang memekakkan telinga, tak ada keramaian yang mendesak atau percakapan yang berputar tanpa henti di sekelilingnya. Semua riuh rendah perayaan seakan lenyap ditelan bumi, berganti menjadi keheningan yang sejuk dan segar—keheningan yang tak terasa kosong, melainkan penuh ruang untuk bernapas kembali. Sinar matahari pagi yang keemasan menembus celah gorden yang sedikit terbuka, jatuh berkas‑berkas di lantai kayu yang kusam namun bersih, menari pelan bersama butiran debu yang melayang tenang di udara pagi yang masih sejuk dan murni. Udara yang masuk terasa sejuk dan lembap, membawa aroma tanah basah yang perlahan menguap—bau yang selalu membuat dada terasa lapang dan ingatan melayang pulang ke halaman rumah lama, ke pepohonan rindang dan langit yang tak pernah terasa sempit—menyegarkan paru‑paru sampai ke bagian paling dalam.


Nadia membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa ringan, tak lagi berat menahan kantuk atau kelelahan batin yang biasa. Tidurnya semalam ternyata cukup nyenyak—jauh lebih tenang daripada malam‑malam sebelumnya yang dipenuhi pikiran berputar, suara‑suara batin yang saling bersahutan, dan rasa sesak yang tak kunjung reda. Tubuhnya terasa lebih ringan seketika, seolah ada beban yang disimpan bertahun‑tahun di sela‑sela tulang belulangnya ikut luruh perlahan saat ia terlelap; kepalanya tak lagi terasa penuh sesak seperti toples yang dipaksa ditutup rapat saat isinya masih meluap‑luap. Ia menoleh perlahan ke samping.


Di meja kecil di tepi ranjang, buku yang kemarin dibacanya masih terbuka rapi di halaman dua puluh empat tepat di tempat ia berhenti membaca, sudut halaman itu terlipat halus menjadi tanda perhentiannya—lipatan yang dibuat dengan jari‑jemari yang lelah namun tenang. Nadia tersenyum tipis melihatnya, senyum yang tak sampai bibir namun terasa hangat di dada, lalu menjangkau dan menutup buku itu perlahan, merasakan tekstur sampul yang dingin dan halus di telapak tangan. Kota fiksi yang dingin dan jauh itu ternyata telah menjadi pelarian yang lembut dan menyelamatkannya dari kepedihan semalam—tempat di mana ia bisa melupakan sejenak siapa dirinya, siapa yang hilang, dan apa yang sedang dipertaruhkan.


Ia bangkit perlahan, melipat selimut hingga sudut‑sudutnya tegak lurus dan rapi—kebiasaan lama yang tak pernah hilang—lalu melangkah menuju kamar mandi dalam kamar dengan langkah yang masih sedikit goyah namun mantap. Air yang mengalir dari keran terasa dingin dan segar saat membasuh wajah, menyentuh kulit yang masih terasa hangat sisa tidur, membangunkan setiap saraf dan membuat matanya makin jernih melihat dunia.


Tangannya memutar gagang pintu kamar pelan‑pelan, engselnya berdecit halus biasa, dan melangkah keluar menuju ruang tengah. Ruangan yang semalam terasa penuh sesak, berisik, dan sempit oleh kehadiran banyak orang kini tampak luas kembali, bernapas kembali. Bekas‑bekas perayaan—kertas hiasan, piring tambahan, tumpukan bungkus kado—sudah dibersihkan sepenuhnya; lantai tampak bersih dan berkilau diterangi cahaya pagi yang menyebar lembut, mengembalikan kesederhanaan dan ketenangan yang selalu menjadi rumah sejati bagi Nadia.


Dari arah dapur tercium aroma harum yang makin lama makin kuat dan menggugah selera—aroma bawang merah dan putih yang ditumis hingga kekuningan dan harumnya sempurna, berpadu dengan uap nasi yang baru matang, bumbu rempah yang meresap, dan sedikit rasa manis kecap yang tercium samar‑samar. Nadia melangkah mendekat, telapak kakinya terasa hangat di atas lantai yang belum dingin, lalu menyandarkan bahunya sejenak di bingkai pintu dapur yang berwarna cokelat tua. Ia memandangi punggung wanita yang sedang sibuk mengaduk masakan di atas wajan berasap—gerakan tangannya terbiasa, luwes, tahu persis berapa lama api harus dibiarkan menyala dan kapan bumbu berikutnya harus masuk.


Cahaya pagi menyinari rambut Mama dari samping, menembus helaian‑helaian hitam yang mulai memutih perlahan, memperlihatkan garis‑garis perak yang mulai tampak jelas di sana—tanda bahwa usia terus berjalan, bahwa lelah dan waktu tak jarang menyapa dan menumpuk di kepala orang yang selalu menyayangi kita tanpa pamrih. Namun saat Mama menoleh dan melihat putrinya berdiri diam di ambang pintu menatapnya, senyumnya seketika menyinari seluruh ruangan, membuat kerutan di wajahnya seolah lenyap seketika, membuat wajahnya tampak muda kembali dan damai.


“Pagi, Kak. Sudah bangun rupanya,” sapa Mama lembut sambil mengangkat wajah yang berkeringat tipis namun matanya berbinar ceria, mengelap pelan keringat di pelipis dengan punggung tangan yang bersih. “Tidurnya nyenyak semalam?”


“Pagi, Ma. Alhamdulillah nyenyak sekali,” jawab Nadia pelan sambil melangkah mendekat, tangannya terulur secara alami mengambil piring dan sendok dari rak yang tersusun rapi di dinding—gerakan kecil yang sudah menjadi kebiasaan, cara diam‑diam membantu dan berterima kasih. “Tante dan sepupu sudah berangkat ya?”


Mama terkekeh pelan, suara yang ringan dan tak berbeban sama sekali, sambil memindahkan nasi goreng yang masih mengepulkan uap ke wadah besar keramik berhias bunga sederhana. “Baru saja berangkat tadi pagi, katanya ingin jalan‑jalan ke kota sebelum jalanan ramai dan matahari makin terik. Jadi rumah kita kembali sepi seperti biasa—hanya kita bertiga, suasana lebih tenang lagi.” Nadia mengangguk merasa lega mendengarnya, bahu yang tanpa sadar terangkat tegang perlahan turun kembali rileks. Setidaknya hari ini ia tak perlu terus‑menerus menyembunyikan perasaannya di balik senyum sopan yang menyakitkan, tak perlu menjawab pertanyaan yang tajam atau tatapan yang memandang rendah apa yang dikerjakannya.


Mama menatapnya sejenak—mata yang tajam namun lembut, mata yang sudah melihat Nadia tumbuh dari bayi sampai gadis dewasa—sambil mengelap kedua tangannya di kain lap yang tersampir rapi di pinggang. Tatapannya begitu lembut dan penuh pengertian, seakan mampu membaca setiap baris yang tak sempat terucap dari bibir putrinya, setiap beban yang dipikul dalam diam di sudut hati yang tak pernah dibuka orang lain. “Mama tahu apa yang Tante katakan kemarin malam. Jangan dimasukkan ke hati ya, Kak. Cara pandang orang lain belum tentu sama dengan cara pandang kita. Tante hanya belum mengerti sepenuhnya apa yang kamu kerjakan, dan betapa berartinya hal itu bagimu.”


Nadia menunduk menatap lantai dapur yang berkilau bersih, jari‑jemarinya meremas pelan ujung piring yang dipegang—tekanan kecil yang membantu menahan agar suara tak bergetar saat berbicara. “Sakit sedikit memang, Ma. Bukan karena perkataannya sendiri yang tajam, tapi karena seakan Tante sama sekali tidak melihat betapa lelahnya Nadia berjuang sendirian di kamar setiap hari. Bagi Tante kemarin malam, semua ini hanya sekadar hobi yang tidak berguna, hal yang bisa ditinggalkan kapan saja kalau sudah bosan atau butuh uang lebih banyak.”


Sebuah usapan lembut dan hangat mendarat perlahan di bahunya, beratnya pas—tak terlalu ringan tak pula menekan. Nadia mendongak perlahan dan mendapati Mama berdiri tepat di sampingnya, berdiri sejajar, menatapnya dengan mata yang penuh kasih sayang yang tak terhingga dan keyakinan yang tak tergoyahkan—seolah Mama tahu sesuatu yang bahkan Nadia sendiri belum sepenuhnya pahami. “Itu bukan salahmu, Kak. Bukan salah jalan yang kamu ambil. Kamu menghasilkan karya yang bermanfaat, yang menyambungkan pemikiran dan cerita dari satu tempat ke tempat lain. Itu hal yang patut dibanggakan, bukan direndahkan. Jangan pernah merasa kecil hanya karena orang lain tak cukup luas pandangannya untuk melihat nilaimu.”


Kata‑kata itu sederhana, tak berhias, tak berbunga‑bunga—namun terasa seperti tangan hangat yang menepuk pundak pelan tapi pasti tepat saat bahu sudah hampir membungkuk lelah memikul keraguan orang lain. Nadia menunduk kembali, jari telunjuknya melingkar pelan di pinggiran meja kayu yang halus dan terawat baik. “Terima kasih, Ma. Tapi kadang… rasanya aneh. Semua ini sudah Nadia jalani bahkan sekarang hampir sampai. Tapi terasa masih ada yang belum selesai.”

Lihat selengkapnya