Bukan Salah Hari Ini

mahmudah romadhona
Chapter #4

Pesan yang Hanya Dibaca

Hari‑hari berjalan beriringan dengan ritme yang tenang namun perlahan makin memadat. Di dinding kamar Nadia, kalender tua yang kertasnya sudah agak menguning menandai hari‑hari dengan tanda silang kecil berwarna merah—menghitung mundur waktu yang makin sempit. Di atas meja, catatan kecil tentang urusan masa depan mulai menumpuk pelan‑pelan, seolah saling berdesakan menuntut perhatian.


Nadia berdiri di depan lemari kaca yang tinggi, menatap pantulan dirinya sendiri. Di tangan kanannya ia memegang selembar kain kebaya berwarna lembut yang jatuhnya pas di tubuh. Kain itu terasa halus dan dingin di jari‑jemari, beraroma wangi lembut yang khas—persis seperti aroma yang selalu Mama pakai saat hari‑hari istimewa. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan bagaimana nanti hari itu akan terasa: suara musik pelan, orang‑orang tersenyum ramah, bunga‑bunga berwarna cerah tersusun rapi di sudut ruangan. Semuanya seharusnya indah, lengkap, dan membahagiakan.


Tapi kenapa setiap kali membayangkannya, dada Nadia justru terasa semakin sempit dan berat?


Lihat selengkapnya