Bukan Salah Hari Ini

mahmudah romadhona
Chapter #5

Jeda di tengah

Tidak ada yang lebih melelahkan daripada mengabaikan suara yang berteriak di dalam kepala sendiri, sementara dunia di sekitar menuntut untuk tetap tenang dan tersenyum. Rasanya seperti memikul beban yang tak terlihat — semakin lama dipikul, semakin berat terasa, padahal orang‑orang lain hanya melihat punggungmu yang tegak dan langkah yang tetap berjalan seolah tak ada apa‑apa yang sedang retak di dalamnya.


Semuanya dimulai ketika kebisingan di dalam kepala itu datang tanpa diundang, tumbuh perlahan dari bisikan menjadi riuh yang tak pernah selesai. Bagi orang lain yang melihat dari luar, kamar Nadia mungkin selalu tampak sunyi — pintu tertutup rapat, cahaya lampu meja menyala lembut, hanya suara pena yang sesekali menyentuh kertas. Jalanan di depan rumahnya pada sore hari mungkin selalu terlihat sepi, hanya sesekali dilewati kendaraan yang suaranya perlahan menjauh dan lenyap di ujung jalan. Angin berhembus pelan menggoyangkan daun pohon mangga tua di halaman depan, membuat bayangan bergerak pelan di atas tanah, lalu semuanya kembali hening dan diam.


Namun, di dalam sana, tepat di balik tempurung kepalanya, ada riuh yang tidak pernah selesai berdebat. Ada suara‑suara asing yang saling bersahut‑sahutan — satu berkata “ini jalan yang benar”, yang lain membentang “kamu belum siap”, lalu yang ketiga berbisik pelan “kamu hanya sedang mencari tempat pulang yang tak ada lagi”. Keraguan yang tumpuk menumpuk hingga setinggi langit, dan rasa cemas yang dingin merayap naik perlahan dari perut ke dada — membuatnya terus terjaga di malam‑malam yang panjang dan sunyi, saat orang lain sudah terlelap dalam damai dan mimpi yang tenang.


Nadia masih mengingat sore itu dengan sangat jelas — setiap detik, setiap rasa, setiap napas yang terasa berat di kerongkongan. Sore saat pertahanan yang dibangun berbulan‑bulan dengan susah payah akhirnya runtuh sepenuhnya, seolah dinding tipis yang selama ini menahan air bah tak lagi kuat menahan tekanan yang makin hari makin besar. Hari itu, ia pulang ke rumah membawa seluruh kelelahan yang menumpuk lama sekali — bukan hanya lelah berjalan ke sana‑kemari atau sibuk seharian mengerjakan terjemahan dan urusan rumah, melainkan rasa lelah yang jauh lebih dalam dan jauh lebih menyakitkan: lelah karena harus berpura‑pura kuat dan baik‑baik saja di depan banyak orang, terus‑menerus, tanpa jeda sedetik pun untuk bernapas atau menjadi lemah.


Begitu melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakangnya, Nadia langsung menjatuhkan diri di atas kasur tanpa sempat memikirkan hal lain — seolah seluruh tenaga tiba‑tiba habis seketika. Tubuhnya terasa berat seolah tertambat kuat ke bumi, tak sanggup bergerak lagi. Ia bahkan tidak memiliki sisa energi sekadar untuk melepas sepasang sepatu putih yang masih membungkus kakinya, atau meluruskan rok midi yang tampak kusut karena tertekuk dan terlipat seharian bergerak ke sana kemari. Kain kerudung yang dipakainya masih melilit rapat, membungkus daun telinganya dengan rapi — kain yang selalu ia jaga dengan teliti sebagai bagian dari dirinya dan keyakinannya. Secara logika, kain tipis itu seharusnya bisa menjadi pelindung dari bisingnya suara dunia luar, penghalang yang lembut namun kokoh. Namun kenyataannya, kain itu sama sekali tak sanggup menjadi benteng untuk menahan gemuruh pikirannya sendiri yang sudah sangat menggebu‑gebu dan tak terkendali di dalam sana.


Di sisi yang lain, kain itu adalah perpanjangan dari keteguhan yang senantiasa ia jaga di hadapan dunia — tanda bahwa ia berdiri tegak meski tanah di bawah kaki terasa bergoyang. Namun, saat jemarinya perlahan menyentuh lipatan kain itu di dada, teringatlah ia akan pesan Papanya — pesan yang dulu diucapkan begitu tenang, begitu meyakinkan, dan kini terasa makin sayang untuk sekadar disimpan dalam ingatan tanpa kehadiran pemilik suara itu di sisinya. Kerinduan itu datang lagi, menyelinap di celah keteguhan hatinya yang retak, membuat ambisi yang dibangun perlahan terasa sepi dan hampa tanpa makna. Untuk siapa sebenarnya aku berlari mengejar semuanya ini? bisik hatinya yang rindu dan lelah. Siapa yang paling ingin aku banggakan, namun kini tak lagi berdiri di sana menyambut keberhasilanku dengan senyum dan tepukan pelan di pundak?


Ada rongga di dadanya yang terasa makin lebar dan dingin — kebutuhan hatinya yang mendesak untuk berlabuh, untuk berhenti sebentar berlari sendirian, untuk merasa aman di samping seseorang yang tak menghakimi dan tak membandingkan dengan siapa pun. Kadang ia merasa lelah menjadi teguh terus‑menerus, lelah menjadi orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kadang ia ingin saja menjadi lemah, bersandar pada bahu yang kokoh, dan tak perlu menjawab pertanyaan‑pertanyaan dunia yang selalu menuntut kepastian dan jawaban yang pasti.


Sambil menatap langit‑langit kamar yang mulai gelap karena cahaya matahari perlahan memudar dan berubah menjadi kelabu, Nadia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan premis yang paling realistis dan masuk akal yang ia temukan: Tapi, bukannya semua hal ini terasa normal? Bukankah semua orang dewasa di luar sana juga memikul masalah dan keraguan yang sama beratnya? Mungkin memang begitulah rasanya tumbuh besar — semakin banyak yang harus dipikirkan, semakin berat beban yang harus dibawa di pundak, semakin jarang waktu untuk sekadar duduk diam tanpa tanggung jawab.


Proses menjadi dewasa memang berarti harus belajar berjalan berdampingan dengan pilihan‑pilihan yang sulit — pilihan yang tidak sepenuhnya ia rancang sendiri, jalan yang tidak sepenuhnya ia pilih dari awal. Kadang kita hanya diberi jalur yang sudah terlihat terang dan aman, lalu diminta melangkah di atasnya sambil berharap semoga tanahnya tak licin dan tak tiba‑tiba amblas di bawah kaki saat kita sedang berjalan sendirian.


Tenang, Na. Tenang, bisiknya pada diri sendiri berulang kali, merapalkan mantra yang sama persis seperti biasanya — kata‑kata yang sudah begitu sering ia ucapkan hingga rasanya mulai kehilangan makna dan kekuatannya, namun tetap diucapkan karena tak ada kata lain yang lebih pas atau lebih menenangkan saat ini.


Nadia menarik napas perlahan dan dalam, mencoba menenangkan debaran cemas yang mulai terasa liar dan menyiksa di dalam dada — berpacu cepat seolah ingin melompat keluar dari rongga tubuhnya. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas pelan namun tak pernah melepaskan genggamannya. Saat ini, ia hanya memilih untuk bersandar diam pada kasur, berusaha memahami kebutuhan hati yang terasa makin mendesak oleh harapan‑harapan yang tak pernah berkesudahan — harapan orang lain padanya, harapan masa depan yang cerah dan sempurna, harapan agar semuanya berjalan mulus tanpa cela atau kesalahan sedikit pun.


Lagipula, orang tuanya menyetujui langkah besar ini dengan tulus dan penuh kasih sayang. Mereka sudah melihatnya sejalan dengan kompas kehidupan yang mereka siapkan dengan penuh rasa kehati‑hatian dan perhatian untuk dirinya. Mereka tak pernah memaksakan apa pun, katanya berulang kali — namun tatapan mata penuh harap itu, ucapan syukur yang meluap‑luap, rencana yang sudah tersusun rapi sampai ke detail terkecil: semuanya terasa begitu berat untuk ditolak atau diubah sedikit pun. Bukankah melangkah di atas jalur yang sudah dirasakan aman dan direstui oleh orang tua rasanya akan jauh lebih menenangkan? Ini keputusan paling logis untuk meredam semua riuh rendah di dalam kepala, pikirnya yang terus berulang, berputar dalam lingkaran yang sama berulang‑ulang kali tanpa pernah benar‑benar menemukan jalan keluar.


Kerap kali ia meyakinkan hatinya sekali lagi bahwa pilihan untuk menerima jalan ini sudah sangat tepat dan benar. Ini bukanlah sebuah tanda bahwa aku menyerah pada keadaan atau membuang semua impianku ke depan. Ini hanyalah sebuah bentuk kepasrahan yang damai — sebuah ketetapan hidup yang memang sangat dibutuhkan saat ini untuk berhenti terombang‑ambing di laut lepas yang tak bertepi dan tak berpantai. Keperluan hari ini mungkin sekadar menurunkan sedikit ego anak muda, berhenti mengejar bayang‑bayang idealis yang terlalu tinggi di dalam kepala, dan mulai belajar berjalan dengan mantap di atas realitas yang lebih stabil dan berpijak pada tanah nyata yang kokoh. Semuanya akan baik‑baik saja, pikirnya saat itu, berusaha meyakinkan diri sendiri lebih keras daripada biasanya. Semua pasti ada jalannya. Setiap orang pasti melewati fase ini saat tumbuh dewasa.


Namun, ketika Nadia memaksakan diri untuk bangkit perlahan dan keluar dari kamar, realitas di luar sana langsung menyambutnya tanpa jeda — seolah dunia tak pernah memberi waktu sedetik pun sekadar untuk menarik napas panjang atau menyusun kembali potongan hati yang berantakan.


Di ruang tengah, kesibukan keluarga makin hari memang terasa makin nyata dan riuh. Di atas meja kayu besar yang biasanya kosong dan bersih, kini tumpukan kotak‑kotak bingkisan, seragam keluarga, dan berbagai pernak‑pernik lainnya sudah kian siap dan menumpuk rapi. Semuanya menunggu giliran untuk disusun, dilipat, diberi pita indah, dan disatukan dalam kerapian sempurna oleh tangan‑tangan yang cekatan dan penuh sukacita. Ruangan itu terasa hangat, penuh harapan, sibuk menyambut lembaran baru kehidupan — namun bagi Nadia yang sedang berjalan mendekat dengan langkah berat dan hati yang gemetar, suasana itu justru terasa seperti dinding yang makin merapat perlahan, sempit dan menekan dadanya sampai sesak.


Mama duduk di sudut sofa yang biasa ia tempati. Jemarinya bergerak konstan mencatat sesuatu di sebuah buku catatan kecil dengan begitu teliti dan hati‑hati, sesekali mengerutkan dahi lalu mengangguk puas saat hal yang dicatatnya sudah pas dan benar. Mama memastikan tidak ada satu pun detail kecil yang terlewat untuk menyambut lembaran baru kehidupan putrinya ini — setiap tamu, setiap warna kain, setiap jam pertemuan. Wajah Mama terlihat lelah karena sibuk mengurus segalanya sendirian, tetapi ada pendar kebahagiaan yang sangat tulus di sana — sinar mata yang bersinar bangga dan bahagia, membuat hati Nadia terasa teriris tajam karena tak tega mengecewakannya atau merusak kebahagiaan itu dengan keraguannya sendiri.

Lihat selengkapnya