Malam perlahan merayap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka, membawa udara sejuk menyentuh kulit lengan Nadia yang telanjang. Setiap kali tangannya menyentuh lipatan kain, bayangan wajah Papa muncul begitu saja—bukan sebagai bayangan yang kabur dan jauh, melainkan suara yang hidup di dalam kepala dan di setiap denyut nadinya. Pesan‑pesan yang Papanya utarakan saat pertemuannya yang terakhir kali, selalu ia ingat dalam memorinya dengan jelas dan jernih. Mengingatkan Nadia selalu pada tempat pulang, bahwa Tuhan lebih besar dibanding segala kekhawatirannya—Yang akan selalu membersamai langkah demi langkahnya dalam hidup ini. Sehingga ia bisa mantap mengambil keputusan atas rencana kecil demi keberlangsungan hidupnya ke depan sana.
Ia tahu benar: kepergian ini bukan lari. Bukan melarikan diri dari kewajiban, bukan membuang kasih sayang yang sudah dipersiapkan orang‑orang di sekitarnya. Ia pergi karena sadar—kalau terus berdiri diam di tempat yang hatinya belum siap, ia justru akan kehilangan dirinya sendiri perlahan‑lahan, tanpa suara, tanpa tahu sejak kapan mulai hilang. Ia butuh tempat bernaung—bukan rumah yang berdiri dari batu dan semen, melainkan ruang hening di mana ia boleh duduk diam, mendengarkan apa yang selama ini batinnya teriakkan lirih, menyusun kembali kepingan‑kepingan hati yang masih berantakan karena rindu dan rasa kehilangan yang tak pernah benar‑benar diobati. Ia ingin pulang—bukan ke alamat yang tertulis di kartu nama, melainkan kembali ke dirinya sendiri yang dulu pernah tahu persis apa yang ia cintai dan inginkan, sebelum dunia mulai menyodorkan daftar “harus” dan “seharusnya” yang makin lama makin menumpuk tinggi di atas pundaknya.
Pagi akhirnya tiba—cahaya matahari menyelinap pelan di celah tirai jendela, menyentuh ujung lantai kayu yang berkilau lembut. Angin pagi berhembus membawa udara yang segar, menandakan hari baru benar‑benar telah datang. Nadia berdiri tegak di ambang pintu kamar, koper sudah tertutup rapat di samping kakinya, bingkai foto Papa terselip aman di saku dada dekat jantung. Ia mengenakan pakaian sederhana—kemeja berwarna putih bersih dan rok panjang berwarna biru langit, kain kerudung yang lembut tergantung rapi menutupi bahunya. Tidak ada riasan wajah yang berlebih, tidak ada senyum yang dipaksakan—wajahnya tenang, matanya jernih, meski jantung di dalam dada berdegup kencang seolah hendak melompat keluar. Ini momen yang sudah ia bayangkan berulang kali di dalam kepala semalaman—namun saat kenyataannya benar‑benar tiba, rasanya tetap jauh lebih berat daripada sekadar kata‑kata.
Langkah kakinya pelan menyusuri lorong rumah menuju ruang tengah. Suara pintu kamar Mama terbuka, lalu langkah kaki mendekat—dan sesaat kemudian Mama berdiri di hadapannya, mata melebar perlahan menatap koper di lantai, lalu beralih ke wajah putrinya yang berdiri diam menanti. Wajah Mama perlahan berubah pucat, bibirnya sedikit terbuka seolah hendak bertanya tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Tak lama kemudian Ayah juga muncul dari arah ruang makan, berhenti beberapa langkah di belakang istrinya—alisnya berkerut samar, tatapannya beralih dari koper ke wajah Nadia berulang kali, seolah berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
“Ibu, Ayah… maafkan Nadia,” suaranya terdengar tenang namun bergetar halus, setiap kata terasa berat namun harus diucapkan. “Nadia belum bisa melangkah ke pernikahan itu sekarang. Bukan karena laki‑laki yang dipilihkan salah, bukan karena keluarganya tidak baik—mereka semua orang baik, sopan, dan tulus menerima Nadia. Tapi masalahnya ada di sini…” Ia meletakkan telapak tangan kanannya perlahan di atas dada, tepat di tempat jantung berdetak. “…di dalam hati Nadia sendiri. Hati ini belum utuh sepenuhnya. Masih ada rindu yang setiap hari mengetuk pintu, masih ada bagian diri yang hilang sejak Papa pergi dan belum pernah kutemukan kembali. Dan belakangan ini Nadia sadar—tanpa sadar rasanya seakan Nadia ingin melangkah ke pernikahan itu bukan karena cinta yang sudah tumbuh tegak dan kuat, melainkan karena ingin mencari tempat bersandar. Ingin meminta orang lain datang mengisi kekosongan yang seharusnya kututup sendiri.”
“Lalu apa yang kau inginkan, Nak?” tanya Ayah akhirnya—suaranya rendah, penuh kehati‑hatian dan sesuatu yang menyerupai pemahaman yang perlahan mulai tumbuh. “Ke mana kau akan pergi? Dan berapa lama?”
Nadia menarik napas panjang lagi—merasakan udara dingin memenuhi dadanya, memberi kekuatan untuk melanjutkan kalimat yang paling berat sekaligus paling penting.
“Nadia tidak pergi selamanya,” ucapnya lembut namun tegas, menggeleng pelan. “Nadia hanya minta izin untuk mundur sebentar—berhenti sejenak dari semua tuntutan dan rencana yang sudah disusun, menarik napas panjang, dan mencari tempat bernaung yang tenang. Ada sebuah tempat—sebuah pesantren kecil di kaki bukit yang dulu pernah Nadia dengar ceritanya. Di sana tidak ada yang bertanya kapan lulus, kapan menikah, kapan punya pekerjaan tetap. Tidak ada yang membandingkan jalan hidup Nadia dengan orang lain. Hanya ada waktu—waktu untuk berdoa, belajar, dan yang paling penting: berbicara jujur dengan diri sendiri dan Tuhan sampai hati ini perlahan kembali tenang, sampai Nadia tahu persis siapa dirinya dan apa yang benar‑benar diinginkan tanpa dipengaruhi suara siapa pun.”