Bukan Salah Hari Ini

mahmudah romadhona
Chapter #7

Koper dan Alamat Baru

Hari itu — hari yang sudah lama Nadia ukir sebagai janji di sela detak jantungnya — akhirnya tiba. Tidak ada lagi keraguan yang melintas, tak ada jari yang gemetar atau napas yang tercekat berulang kali. Keningnya tenang, matanya jernih. Nadia sudah siap untuk pergi.


Langkah pertamanya melangkah keluar pintu terasa ringan namun mantap, disambut sinar matahari pagi yang menyelinap lembut di sela daun‑daun pohon mangga, menaburkan bintik‑bintik cahaya keemasan di atas ubin teras yang masih lembap sisa embun pagi. Angin menyapu pelan ujung kerudungnya, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh merambat di pagar — aroma rumah yang ia kenal seumur hidup, namun kali ini tak lagi membuat dadanya terasa sempit dan tertekan.


Di tangan kanannya, koper hitam berukuran sedang tergantung kokoh. Saat diangkat, gagang plastiknya terasa dingin menekan telapak tangan, dan ia merasakan berat yang nyata menarik ke bawah. Namun beban itu bukan sekadar tumpukan pakaian, buku catatan, atau benda‑benda kesayangan yang ia masukkan ke sana—termasuk bingkai foto kecil Papa yang terselip rapi di saku paling dalam, terasa hangat meski tak terlihat mata. Setiap lipatan baju yang terasa padat di dalamnya membawa kehangatan lain — kain‑kain bersih yang dilipat penuh harap, baju‑baju terbaik bersama doa serta wangi sabun mandi kesukaan Mama terselip rapi, dan tumpukan perhatian yang begitu besar hingga nyaris terasa bentuknya: kasih sayang yang tak terukur angka.


Mama melipat semuanya satu per satu dengan telapak tangan yang lembut namun pasti, meratakan kerutan ujung lengan, menyusun rok‑rok rapi hingga tak ada yang tertekuk berantakan, memastikan setiap sudut terisi cukup tanpa melukai lipatan kain. Matanya sesekali melirik ke arah Nadia yang berdiri di ambang pintu, lalu kembali menunduk — seolah dengan setiap lipatan itu Mama sedang menyusun jaminan: bahwa di mana pun anak perempuannya berada, ia tak akan pernah kekurangan kehangatan, tak akan pernah merasa sendirian. Bahwa kasih sayang ini akan tetap melingkarinya, utuh dan tak berkurang sedikit pun, sejauh apa pun kakinya melangkah meninggalkan rumah.


Jalanan kota bergulir perlahan di balik kaca jendela mobil yang naik turun mengikuti aspal. Nadia menyandarkan kepala di bantalan pintu yang empuk, menatap deretan pohon rindang yang bergerak mundur beriringan, deretan toko dengan papan nama yang melintas lalu memudar, lampu lalu‑lintas yang berganti warna, dan kendaraan lain yang saling berpapasan — semua sibuk bergegas menuju tempat tujuannya masing‑masing. Angin sejuk dari pendingin udara menyapu pelan pipinya, membuat rambut halus di dahi bergerak lembut. Pikirannya melayang tenang, tak lagi berputar gelisah dalam lingkaran yang sama berulang‑ulang kali. Sesekali jari telunjuknya menyentuh saku baju bagian dalam—merasakan keberadaan foto itu, seolah Papa ikut duduk di sampingnya, menemaninya melangkah ke alamat yang belum pernah diketahui sebelumnya.


“Kalau memang kamu niatkan untuk belajar, mencari wawasan baru, Ayah ikut senang sih, Kak,” suara Ayah terdengar lembut membelah keheningan yang tadi hanya diisi suara mesin halus.


Pria setengah baya itu menatap sekilas ke arah spion depan, mata mereka bertemu sejenak di pantulan kaca, lalu Ayah tersenyum tipis — senyum yang selalu tenang, tak banyak bicara namun penuh pengertian.


“Jaga diri baik‑baik ya di sana,” ucapnya pelan namun tegas, jari telunjuknya mengetuk pelan setir seolah menegaskan pesan itu—kebiasaan kecil yang selalu Nadia ingat. “Usia Kakak yang sekarang ini harus dinikmati dengan hal‑hal baik. Dan belajar itu jalan yang paling bagus. Supaya nanti ada manfaatnya yang bisa kamu bagikan buat orang banyak.”


Kata‑kata itu mengalir begitu tenang, jernih seperti air sungai yang tak terburu arus deras. Bagi Nadia, kalimat itu adalah restu yang paling menyejukkan hati — datang dari pria yang tak berbagi darah dengannya, namun sejak hari pertama hadir di hidup Nadia selalu berusaha membentangkan ruang yang seluas‑luasnya agar jiwa anak perempuan ini bisa tumbuh leluasa. Ayah tak pernah memaksa ia harus menjadi siapa atau mencapai apa; ia hanya selalu ada, mendengarkan sabar saat Nadia bercerita hingga larut malam, lalu menepuk pundak pelan dan berkata bahwa segala sesuatu pasti ada jalannya.


Di mata mereka — Mama dan Ayah — kepergian Nadia ini adalah perjalanan untuk menambah ilmu, membuka wawasan, mencari pengalaman yang belum pernah dirasakan anak muda seusianya. Sebuah jeda yang wajar, sehat, dan perlu — sebelum kewajiban‑kewajiban besar datang menuntut ia menetap, berakar, dan tak lagi berpindah tempat. Mereka melihatnya sebagai langkah maju, bukan pelarian. Dan Nadia membiarkan mereka melihat begitu saja — karena kadang, melindungi hati orang yang menyayangimu berarti juga tak perlu membiarkan mereka ikut menanggung beban yang tak seharusnya mereka pikul.


Nadia tersenyum kecil, mengangkat tangan kanannya sedikit ke arah jok depan. “Iya, Yah. Terima kasih ya… Nadia bakal ingat terus pesan Ayah.”


Perjalanan memakan waktu cukup lama—meninggalkan gedung‑gedung kota, berkelok melewati sawah yang membentang luas, hingga akhirnya mobil melambat pelan memasuki jalan setapak yang dikelilingi pepohonan hijau rimbun. Ban karet bergeser halus di atas halaman berpasir, lalu berhenti di bawah naungan pohon besar yang dedaunannya rimbun menaungi atap bangunan berwarna krem yang sederhana namun rapi—Pesantren tempat ia akan menetap, sebuah alamat baru yang sampai saat ini hanya pernah ia dengar namanya. Suara mesin mati perlahan, menyisakan keheningan yang tiba‑tiba terasa lebih luas, lebih sejuk, dan lebih damai dibandingkan hiruk‑pikuk yang selama ini ia kenal. Nadia membuka pintu mobil, udara pagi yang segar langsung menyambut — berbau tanah, daun hijau, dan air yang mengalir pelan dari keran dekat teras.


Di sinilah momen itu — momen yang kelak akan selalu terukur jelas di ingatannya, seolah baru saja terjadi detik ini juga.

Lihat selengkapnya