Hari pertama di sekolah baru seharusnya jadi momen yang bikin gugup... tapi yang kurasakan malah campuran antara cemas, penasaran, dan... jujur aja, takut. Bukan takut karena pelajaran atau guru. Tapi karena segala hal yang sudah kudengar soal sekolah ini.
SMA Sayap Hitam.
Namanya saja udah kayak tempat hukuman buat penjahat. Waktu aku bilang ke temanku di SMA Berlian kalau aku pindah ke sini, dia cuma bisa bilang, "Serius? Tempat itu... sekolah atau zona eksperimen?"
Aku tertawa hambar saat itu, menganggapnya sebagai candaan belak. Tapi sekarang, berdiri di depan gerbang yang cat hitamnya terkelupas dan papan namanya miring sebelah, aku mulai bertanya-tanya... jangan-jangan yang dia bilang itu serius.
Langkahku masuk ke lingkungan sekolah ini terasa berat. Bukan karena ransel, tapi karena tatapan. Beberapa murid menatapku kayak aku alien baru mendarat. Ada yang bisik-bisik sambil ngelirik ke arahku. Aku mencoba tetap tenang, menarik napas dalam-dalam, lalu jalan ke ruang TU untuk daftar ulang dan ambil jadwal.
Setelah selesai, aku diantar ke kelasku: XI MIPA 2.
Katanya, ini kelas sains. Tapi semua deskripsi yang kudengar dari forum-forum online dan obrolan orang-orang tentang kelasku yang baru ini-menyebutnya sebagai "kandang anomali"-membuatku ragu. Kelas ini disebut tempat berkumpulnya murid-murid paling tidak waras, paling absurd, dan paling... jenius?
Ya, kontradiksi di setiap cerita itulah yang bikin aku semakin bingung.
Aku berdiri di depan pintu kelas, mengetuk pelan. Pintu terbuka sendiri karena engselnya rusak. Di dalam, kelas terlihat lebih seperti laboratorium rahasia ketimbang ruang belajar. Ada rak penuh alat aneh, kabel menjuntai dari langit-langit, dan papan tulis yang masih penuh coretan rumus entah dari berapa minggu lalu.
Seseorang menyapaku dari belakang. "Kamu murid baru?"
Aku menoleh. Seorang guru perempuan dengan cardigan abu-abu berdiri dengan kacamata tergantung di leher. Wajahnya serius, tapi matanya tampak tajam dan penuh analisis. "Saya Bu Mariska. Wali kelasmu."
Aku mengangguk cepat. "Sandy, Bu. Sandy Sandoro."
"Masuk, Sandy."
Langkah pertamaku ke kelas ini terasa seperti masuk ke dimensi lain. Semua mata menoleh. Tapi anehnya, bukan tatapan menilai. Lebih seperti... men-scan. Meneliti.
Cowok di baris depan main game di laptop dan nulis rumus kalkulus di buku secara bersamaan.
Cowok di sebelahnya sedang mengutak-atik drone mini di bawah meja.
Di sudut belakang, cowok yang tidur dengan hoodie menutupi wajahnya terlihat seperti tidak terganggu sama sekali, padahal suara drone menderu-deru di sekitarnya.
Bu Mariska menunjuk ke depan. "Silakan perkenalkan dirimu."
Aku menelan ludah, maju ke depan, dan memperkenalkan diri, "Saya Sandy Sandoro. Pindahan dari SMA Berlian."
Seketika, kelas bergemuruh. Bukan heboh, tapi lebih kayak... tertarik.
Cowok berambut silver dengan earphone di lehernya bersiul, "Anak Berlian, huh? Wah, selamat datang di Sayap Hitam, tempat semua batu bara yang ditekan bisa jadi berlian... atau meledak."
Tawa kecil menyebar. Tapi bukan tawa mengejek. Lebih ke... sambutan hangat yang aneh.
"Duduklah di sebelah Alea" kata Bu Mariska.