BUKU HARIAN BAPAK

Ragiel JP
Chapter #3

SEBUAH POLARITAS

Seorang pemuda bertubuh jangkung melambaikan tangannya dengan semangat ketika Tantri membuka pintu toko yang langsung menyambutnya dengan aroma lezat perpaduan antara moka dan vanila. Pemuda itu melompat-lompat seperti kelinci setiap kali melihat Tantri. Kausnya yang bergambar Superman berlumuran cat berwarna hijau dan kuning.

“Aku sudah melukis dinding di belakang,” ujar Atma tersenyum. “Kak Tantri harus lihat.” Atma menarik tangan Tantri ke sebuah dinding di sebelah toilet. Di sana Atma sudah melukis mural bergambar dua belas zodiak dan beberapa planet penuh warna. Cahaya lampu bahkan membuat mural itu terlihat lebih indah bila dilihat dalam suasana malam seperti ini.

“Bagus, kan, Kak?” Atma menarik-narik ujung sweater yang dipakai Tantri.

“Bagus banget,” puji Tantri mengelus kepala Atma. “Kamu memang hebat, Atma. Apalagi zodiak Sagitarius itu sangat indah. Makasih, ya.”

Atma tersenyum seraya bertepuk tangan seperti anak kecil. Atma memang berbeda dengan pemuda seusianya, walau usianya sekarang sudah menginjak dua puluh dua tahun, Atma masih sering bertingkah seperti anak kecil karena kelainan autisme yang dideritanya.

“Sebagai hadiah karena telah melukis dinding itu, kakak mau ngasih kue yang sangat spesial.”

Atma kembali bertepuk tangan. Mereka duduk di bangku yang menjadi favorit Atma. Tantri sengaja membuat kue dengan icing bergambar Capricorn dan bola-bola menyerupai planet Saturnus, karena tahu Atma sangat menyukai zodiak dan juga semua yang berbau angkasa luar, mulai dari planet-planet, astronot, alien dan lain sebagainya.

“Saturnus … aku suka Saturnus,” wajah Atma berbinar. “Saturnus adalah planet yang menaungi zodiak Capricorn.”

Tantri tersenyum sembari mengelus kepala Atma dengan lembut.

“Kakak tinggal sebentar, ya,” ucap Tantri saat Atma asyik menikmati kue dengan segelas susu cokelat panas. “Nanti kita pulang bareng.”

Atma mengangguk saat pintu bakery kembali terbuka. Lonceng yang ada di atas pintu bergemerincing merdu ketika seorang lelaki bertubuh jangkung seperti raksasa masuk ke toko. Wajah lelaki itu sangat tampan sampai membuat beberapa karyawan perempuan terkagum-kagum saat lelaki itu menghampiri etalase untuk memilih kue.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tantri ramah.

Pemuda beraroma lavendel itu menunjuk beberapa kue mulai dari cupcake, kue bolu, brownise, muffin, dan beberapa biskuit dengan beraneka toping. Setelah membeli semua pesanannya, pemuda itu menghampiri kasir untuk membayar.

“Mau debit atau tunai?” tanya sang kasir yang bernama Winda dengan tangan gemetar.

“Tunai saja,” jawab pemuda itu tersenyum membuat Winda semakin grogi. Tantri yang melihat ekspresi Winda hanya terkekeh. Tantri sudah tahu betul Winda paling lemah kalau menghadapi pelanggan tampan.

Pemuda itu menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Winda yang tangannya semakin tremor ketika tanpa sengaja kulit mereka bersentuhan. Beberapa baker yang melihat itu hanya terkekeh melihat Winda yang salah tingkah.

“Terima kasih, semoga suka dan datang kembali,” ucap Winda saat menyerahkan uang kembalian.

Tawa karyawan lain langsung meledak saat Winda terduduk begitu pemuda tampan itu keluar dari toko. Sinta tak henti-hentinya memegang perut karena tertawa melihat ekspresi Winda. Begitu juga dua orang baker dan asisten chef yang bernama Bening, mereka menggelengkan kepala melihat kelakuan Winda.

Lihat selengkapnya