Regina datang ke rumah dengan wajah cemas keesokan paginya. Tantri tidak ingat berapa lama tertidur, karena saat bangun kamarnya masih dalam keadaan gelap gulita. Bahkan dirinya tidak tahu kapan Atma pulang. Dia hanya ingat saat kembali ke rumah dan menangis sejadi-jadinya hingga terlelap.
“Aku udah tahu semuanya,” ucap Regina memeluk Tantri yang penampilannya sangat berantakan. Bekas air mata terpampang jelas di wajah yang menghitam seperti mata panda. “Kemarin Valentine telepon dan menceritakan semuanya. Sebaiknya hari ini nggak usah ke toko dulu, Tri.”
Benak Tantri masih terasa nyeri mengingat kejadian kemarin. “Aku tetap mau ke toko, Na.”
“Kamu yakin?”
Tantri mengangguk. “Hanya dengan membuat kue aku bisa mengalihkan semua ini, Na. Aku nggak mau berdiam diri di kamar dan meratapi betapa bodohnya selama ini.”
Regina tersenyum. “Kamu perempuan tangguh, Tri, pasti bisa melewati semua ini. Inget, kamu nggak sendirian. Masih ada Atma, aku, dan teman-teman yang lain. Nggak ada gunanya meratapi semua ini.”
Tantri berusaha menyunggingkan senyum. “Jam berapa sekarang?”
“Jam sepuluh pagi,” jawab Regina merapikan rambut Tantri. “Sebaiknya mandi dulu, Atma semalaman suntuk nggak bisa tidur karena cemas.”
Tantri tidak berpikir sejauh ini. Tentu saja Atma cemas dan takut terjadi sesuatu dengannya. Pengalaman ditinggalkan orang terdekat membuat Atma pasti ketakutan setengah mati. Betapa bodohnya dia meratapi semua ini, dan menyebabkan luka di benak Atma kembali muncul.
“Di mana Atma?”
“Tadi Nolan yang mengantarkan Atma ke Bintang Kehidupan.”
“Nolan datang ke sini?”
Regina mengangguk. “Atma meneleponnya karena khawatir kamu nggak keluar kamar sejak semalam.”
Perasaan tidak nyaman langsung menjalar ke tubuh. Dia tidak pernah menyangka Nolan datang saat sedang rapuh seperti ini.
“Sudah siap-siap dulu, nanti kuantar ke toko,” ucap Regina. “Kutunggu di bawah, ya.”
Tantri mengangguk.
*
Ponsel Tantri berdering saat selesai merapikan penampilan. Nama Sonya terpampang di layar.
“Ada apa, Nya?”
“Astaga, akhirnya diangkat juga. Kamu baik-baik saja, kan?” Suara Sonya terdengar khawatir. “Aku udah hubungin kamu dari kemarin dan ngasih tahu ke karyawan kalau mendadak ada acara.”
“Aku baik-baik aja. Makasih, Nya, aku benar-benar kacau kemarin. Maaf karena ninggalin kamu begitu saja.”
“Aku paham perasaanmu, Tri, jadi kamu nggak usah minta maaf. Aku cuma mau bilang begitu keluar dari resto, aku masuk dan menumpahkan minuman ke wajah Julian.”
“Kamu apa?”
“Menumpahkan minuman ke wajah Julian,” Sonya terkikik di ujung telepon. “Harusnya kamu lihat gimana ekspresi Julian mendapat serangan itu, belum lagi cerewetnya pacar baru itu.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Julian hanya diam seperti balok kayu,” jawab Sonya semangat. “Habis itu aku nggak tahu apa yang selanjutnya terjadi karena langsung pergi setelah menamparnya.”
Hening.
“Kamu beneran nggak apa-apa, Tri?” ulang Sonya. “Apa perlu ke sana?”
“Aku nggak apa-apa. Ada Regina di sini.”
“Oh, syukurlah,” ucap Sonya terdengar lega. “Sebaiknya cuti beberapa hari untuk menenangkan diri, Tri. Aku tahu perasaanmu sekarang setelah mengetahui kelakuan Julian.”
“Aku tetap mau ke toko, Sonya. Hanya itu caranya bisa mengalihkan kenangan soal Julian.”
“Kalau ada apa-apa kabari saja.”
“Ya.”
Telepon terputus.
Tantri mematut wajah di cermin, berusaha menyamarkan mata yang sembap dengan sapuan make-up. Dia tidak ingin apa yang kemarin terjadi memengaruhi kualitas dalam bekerja.