BUKU HARIAN BAPAK

Ragiel JP
Chapter #32

TEROR

Seorang perempuan berambut merah melepas kacamata hitam yang digunakan, lalu menaruh di tas yang dibawa dengan sikap angkuh. Dia berjalan mendekati Tantri yang berdiri di belakang etalase dengan tatapan menilai.

“Bisa bicara sebentar,” ucapnya menyibakkan rambut seperti artis iklan shampo.

Tantri teringat perempuan inilah yang menyuruhnya menjauhi Nolan.

“Ada apa?” Tantri tidak menyukai tatapan angkuh di wajah perempuan berambut merah. “Ada yang bisa saya bantu?”

Perempuan itu hanya mengamati Tantri dari ujung rambut hingga ujung kaki yang membuat risih.

“Aku nggak mau basa-basi,” ucapnya sok. “Bukannya udah kuperingatkan supaya ngejauhin Nolan. Tapi kenapa masih kegatelan?”

“Sori?” Tantri mencoba sabar. “Memangnya kamu siapa ngelarang saya berhubungan sama Nolan?”

“Aku pacarnya.” Perempuan berambut merah itu menyeringai. “Jadi sebaiknya jangan godain cowok orang.”

“Nolan nggak punya pacar,” imbuh Tantri tegas. “Dia sudah menceritakan semuanya. Nolan tidak menjalin hubungan dengan perempuan mana pun.”

Si rambut merah tertawa. “Dan kamu percaya?”

“Tentu saja saya percaya.”

Perempuan itu kemudian mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan sesuatu yang membuat Tantri bagai dihantam palu tepat di dalam hati. Dia menatap perempuan di hadapannya, dan kembali menatap sebuah video yang menayangkan Nolan sedang berciuman mesra dengan si rambut merah.

“Ini nggak mungkin,” benar Tantri terasa pedih. “Nolan nggak mungkin melakukan semua ini.”

“Kamu terlalu polos sehingga mudah dikadalin cowok seperti Nolan,” perempuan itu tersenyum penuh kemenangan. “Sebaiknya tinggalin Nolan dan anggap nggak pernah mengenalnya. Aku masih sabar kali ini, tapi kalau sudah ngelewati batas kesabaran, kamu bakal menyesal seumur hidup.”

“Jangan kamu pikir saya percaya begitu saja. Zaman sekarang kecerdasan buatan sudah sangat maju, jadi video itu mungkin hanya akal-akalanmu saja untuk mendapatkan Nolan,” Tantri tidak mau kalah. “Nolan nggak mungkin berbuat sebodoh itu. Bisa jadi itu hanya editan AI.”

“Kita lihat saja,” tantang perempuan berambut merah sinis. “Kalau itu maumu, aku bisa membuat Nolan merasakan akibatnya.”

Perempuan berambut merah itu bergegas meninggalkan Tantri yang yang masih terpukul dengan apa yang dilihatnya. Tantri masih mencoba menampik perihal video yang dilihatnya. Tidak mungkin Nolan berbuat hina seperti itu. Gagasan balas dendam cukup menjadi pembelajaran untuk tidak menuduh sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari mulut Nolan langsung.

Bening menyentuh bahu Tantri yang hampir terguncang selepas kepergian si rambut merah. Dengan jelas dirinya melihat mata Tantri yang berkaca-kaca.

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan sebelum mendengarnya langsung dari Nolan,” pesan Bening saat Tantri menceritakan apa yang dilihat di video. “Zaman sekarang sangat mudah membuat video palsu dengan bantuan AI, Nolan nggak berbuat serendah itu.”

Tantri menyeka mata. Bening benar, dirinya harus mengetahui kebenaran dari Nolan secara langsung.

***

Wajah Nolan pucat pasi saat seseorang menelepon, lalu mengatakan akan menarik semua investasi dari perusahaan. Bahkan tender yang tengah ditanganni memutuskan untuk mendiskualifikasi perusahaan Nolan. Lebih parahnya lagi pihak investor meminta Nolan membayar biaya pinalti sebanyak dua kali lipat karena skandal yang dilakukan berimbas buruk pada para investor.

Awalnya Nolan sama sekali tidak mengetahui skandal apa yang dimaksud. Beberapa karyawan terkejut bukan main saat perusahaan di Malaysia menarik semua kerja sama. Lebih parahnya lagi, ada beberapa berkas perusahaan yang tersebar membuat perusahaan Nolan berada di ujung tanduk.

Nolan sudah berusaha meyakinkan bahwa skandal yang tengah beredar itu hanyalah sebuah kebohongan. Namun, mereka berasumsi skandal akan membuat kerugian yang sangat besar.

“Bagaimana ini, Ta?” wajah Nolan terlihat sangat frustrasi saat menemui Renata. “Bisnisku hancur karena skandal bohong itu.”

Renata hanya terdiam. Dia sudah melihat video yang tengah heboh di media sosial. Video yang menayangkan Nolan sedang melakukan hal tidak senonoh dengan seorang perempuan yang sengaja wajahnya diblur.

“Ini beneran bukan kamu yang ada video kan, Lan?” selidik Renata. “Lalu siapa perempuan itu?”

“Demi Tuhan itu bukan aku.” Tangan Nolan bergetar hebat. “Aku juga nggak kenal siapa perempuan itu. Kenapa ada orang yang tega melakukan ini?”

“Kami percaya sama kamu, Lan,” Renata menepuk-nepuk bahu Nolan. “Christian dan Ian sedang melacak sumber yang sengaja menyebarkan video palsu itu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, mereka pasti akan menangkap penyebar video itu dan menghukum yang setimpal.”

Lihat selengkapnya