Kepala Tantri berdenyut menyakitkan ketika membuka mata. Jutaan kunang-kunang berputar di atas di atas kepala, membuatnya linglung. Tantri mengerjapkan mata, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi hingga berada di tempat ini.
Ruangan yang ditempati cukup gelap dan pengap. Lampu kecil tergantung bersinar remang-remang. Ingatan Tantri melompat mundur saat dia menunggu seseorang di sebuah tempat karena sebuah nomor misterius mengirim foto Atma yang sedang terikat di sebuah kursi.
“Apa maumu sebenarnya?!” hardik Tantri saat si penelepon menghubunginya setelah berpisah dengan Regina.
“Mauku?” jawab suara di ujung telepon yang Tantri yakin milik Rosie. “Kamu ikutin perintahku kalau mau adikmu yang idiot ini hidup.”
“Jangan berani-benari menyentuh Atma!” Dada Tantri bagai dibakar dari dalam. “Kamu bakal nyesel kalo berani menyakiti Atma.”
“Tenang saja, Tantri,” ucap Rosie congkak. “Selama ngikutin permainanku, adikmu pasti baik-baik saja.”
Tantri mengepalkan tangan. “Apa maumu?”
“Datanglah ke suatu tempat yang alamatnya sudah kukasih, dan jangan sampai ada orang lain yang tahu. Entah itu polisi atau Nolan, kalau sampai ketahuan ada yang tahu, kujamin bakal menyesal seumur hidup karena adikmu bakal mati.”
“Berengsek!” umpat Tantri.
Rosie kemudian memberikan sebuah alamat untuk dia datangi. Dengan dada bergemuruh penuh amarah, Tantri pergi ke tempat itu, dan ketika masuk ke sebuah bangunan kosong―ada seseorang yang menghantam tengkuk dan langsung membuatnya pingsan. Begitu membuka mata, dia sudah ada di tempat asing ini.
Dada Tantri berdebar sangat kencang saat mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Langkah itu semakin mendekat dan ketika pintu berderit terbuka—Tantri tidak begitu terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Rosie?”
Perempuan berambut merah itu menyeringai melihat Tantri yang terikat di kursi. Di sebelahnya ada Atma yang tengah tergolek pingsan dengan kaki dan tangan terikat. Tas berisi buku-buku dan robot Superman pemberian Nolan tergeletak menyedihkan.
Sementara itu di hadapannya berdiri dua orang lelaki memakai jaket hitam yang sepertinya anak buahnya Rosie.
“Apa yang kamu lakukan sama Atma?” Tantri berusaha membuka ikatan. Namun, gagal karena tali yang membebatnya sangat erat. “Berengsek kamu.”
Rosie terkekeh seraya mengibaskan rambut. “Tenang saja, dia masih hidup. Cuma tadi adikmu teriak-teriak, makanya kubius.”
Atma pasti sangat ketakutan diperlakukan seperti ini karena pasti teringat dengan trauma masa lalu yang kerap dilakukan sang ayah.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?” tanya Tantri. “Apa salahku?”
“Apa salahmu?!” Rosie menyambar botol air mineral dari lelaki berjaket yang menjadi pengawalnya, lalu menyiramkan ke wajah Tantri. “Bukanya sudah kuperingatin supaya jangan deketin Nolan. Tapi malah keras kepala, dan inilah akibatnya.”
“Jadi cuma karena Nolan kamu ngelakuin semua ini?”
“Bagus kalau kamu sudah menyadarinya,” Rosie bersikap angkuh. “Nolan itu milikku, dan sampai kapan pun nggak ada yang boleh memilikinya.”