Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #1

Takdir Bertemu di Langit Timur

Langit pagi itu cerah, pesawat menuju Labuan Bajo perlahan mengisi kursi dengan penumpang yang membawa harapan dan cerita masing-masing. Bulan duduk di dekat jendela, matanya menatap awan yang berarak, seolah mencari ketenangan dari riuh pikirannya. Tak lama berselang, seorang perempuan dengan senyum hangat meminta izin duduk di sebelahnya, Mentari, mahasiswa semester lima yang cukup antusias menyambut petualangannya di Kota Seribu Sunset.

Awalnya hanya sapaan singkat, lalu percakapan ringan tentang perjalanan dan destinasi. Namun semakin lama, Bulan merasa ada sesuatu yang familiar dalam cara Mentari berbicara. Tawa mereka menyatu dengan deru mesin pesawat, menciptakan suasana yang tak terduga.

"Ke Labuan Bajo?" tanya Bulan sambil menatap Mentari yang terlihat kerepotan membawa barang bawaannya. "Iya, kak," jawab mahasiswa yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-19 ini.

Bulan menyadari, Mentari tampak kikuk saat duduk di kursi pesawat. Dari cara ia memegang tiket dan sesekali menatap jendela, jelas sekali ini adalah perjalanan pertamanya. Bulan tersenyum, mencoba mencairkan suasana.

“Pertama kali traveling ya?” tanyanya pelan. "Umm, nggak sih, kalau ke Labuan Bajo baru pertama kali ini, kenalin aku Mentari," ucapnya kepada Bulan.

Bulan mengangguk, lalu menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Aku Bulan. Kebetulan banget kita bisa duduk bersebelahan. Aku sering jalan-jalan, bahkan bikin konten YouTube tentang traveling. Asal dari Bandung, dan memang suka banget menjelajah tempat baru," bebernya.

Mentari tertawa kecil, matanya berbinar. “Wah, seru banget. Aku masih belajar menikmati perjalanan. Labuan Bajo ini kayak mimpi yang akhirnya kesampaian," jelasnya lagi.

Percakapan ringan itu membuat suasana di pesawat terasa hangat. Dua orang asing yang ternyata punya benang takdir, mulai menemukan titik temu di langit timur.

Mentari yang mulai nyaman bertukar cerita dengan bulan mulai menceritakan niatnya mengunguji pulau dengan julukan Kota Komodo ini. Hari itu tepat tanggal 5 Februari artinya esok adalah hari anniversary ke-5 Mentari dan Utte, kekasihnya. “Sebenernya aku ke Labuan Bajo bukan cuma buat liburan,” ucapnya pelan. “Aku ke Bajo buat kasih surprise, pacarku. Dia lagi KKN di sana. Kita udah lima tahun pacaran, jadi rasanya perjalanan ini spesial banget.”

Bulan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada rasa kagum sekaligus haru melihat semangat Mentari. Baginya, perjalanan bukan hanya tentang destinasi, tapi juga tentang alasan di balik langkah kaki seseorang. “Kadang perjalanan bukan soal tempat yang kita tuju, tapi tentang alasan yang membuat kita melangkah. Kamu beruntung punya seseorang yang jadi tujuanmu,” urai perempuan 24 tahun asal Kota Kembang ini.

Perlahan Bulan mulai membuka kisahnya sendiri “Aku juga punya pacar,” ucap Bulan lirih. “Kami sudah lama bersama, tapi orang tuaku memaksa agar aku cepat menikah. Sayangnya, dia belum mapan, jadi hubungan kami tidak direstui.”

Bulan menatap keluar jendela pesawat, seolah mencari jawaban di balik awan. “Daripada terus larut dalam masalah itu, aku memilih traveling. Rasanya lebih bebas, lebih tenang. Aku juga kerja sebagai YouTuber, biar nggak terlalu stress mikirin hal-hal yang nggak bisa aku kendalikan.”

Mentari menatapnya dengan kagum, merasa ada kesamaan dalam semangat mereka: sama-sama menjadikan perjalanan sebagai pelarian sekaligus pencarian makna hidup.

Mentari tersenyum mendengar kisah Bulan, lalu berkata, “Aku rasa kita sama-sama punya alasan kuat untuk mencintai perjalanan.”

Bulan mengangguk, matanya berbinar. “Iya, setiap langkah selalu punya cerita. Buatku, traveling itu bukan sekadar melihat tempat baru, tapi cara untuk menemukan diri sendiri.”

Mentari menatapnya penuh rasa kagum. “Kalau aku, traveling itu kesempatan untuk berbagi momen dengan orang yang aku sayang. Rasanya setiap perjalanan jadi lebih berarti kalau ada tujuan hati di ujungnya.”

Percakapan itu membuat keduanya merasa semakin dekat. Di langit timur, dua jiwa yang berbeda mulai menemukan kesamaan: bahwa perjalanan bukan hanya tentang jarak, melainkan tentang makna yang dibawa pulang.

Pesawat perlahan mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Suara roda pesawat bergesekan dengan landasan membuat hati Mentari berdebar, membayangkan kejutan yang akan ia berikan pada Utte.

Bulan menoleh padanya dengan senyum hangat. “Eh, sebelum kita turun, follow IG aku ya. Aku sering upload vlog traveling, siapa tahu bisa jadi inspirasi buat kamu juga.”

Mentari tertawa kecil, lalu mengeluarkan ponselnya. “Boleh, kasih tahu username-nya.” "@journeyrembulan." “Eh, kok di bio ada nama Viviane Alunadila?” tanyanya penasaran.

Bulan tertawa kecil, lalu menjelaskan, “Itu sebenarnya nama asliku, Viviane Alunadila. Tapi aku lebih suka dipanggil Bulan, rasanya lebih dekat dengan diriku sendiri. Nama itu juga jadi identitas di dunia traveling dan konten YouTube-ku.”

Mentari mengangguk, seolah menemukan sisi lain dari teman barunya. “Unik banget, Bulan. Nama asli tetap indah, tapi panggilanmu terasa lebih hangat.”

Setelah pesawat mendarat di Bandara Komodo, keduanya mengambil koper masing-masing. Suasana bandara terasa ramai, penuh dengan wisatawan yang antusias menanti petualangan di Labuan Bajo.

Bulan menatap Mentari sambil tersenyum. “Senang bisa ngobrol sama kamu di perjalanan. Semoga kejutanmu buat Ute berjalan lancar.”

Mentari mengangguk, matanya berbinar. “Terima kasih, Bulan. Semoga kontenmu di sini juga sukses. Sampai ketemu lagi, ya.”

Mereka pun berpisah, melangkah menuju hotel masing-masing. Namun, di hati keduanya tersisa rasa hangat sebuah pertemuan singkat yang terasa berarti, seolah takdir sudah menyiapkan cerita lain di kota seribu sunset itu.

Dengan penuh semangat Mentari mendatangi basecamp KKN secara tiba-tiba, berharap bisa menghadirkan senyum kejutan untuk Utte, kekasih yang sudah lima tahun menemaninya. Namun, yang ia temukan justru membuat langkahnya terhenti.

Utte, yang dua hari terakhir sulit dihubungi, tampak begitu kaget melihat Mentari muncul. Tapi bukan hanya Ute yang terkejut, Mentari pun terperanjat. Di ruangan itu, Utte sedang berduaan dengan Safeea.

Perempuan itu bukan sosok asing. Selama ini, Mentari sering mendengar orang-orang menjodoh-jodohkan Utte dengan Safeea. Awalnya ia menganggapnya hanya guyonan, candaan yang tak perlu dipikirkan. Namun kini, kenyataan terpampang jelas di depan matanya: Utte dan Safeea ternyata telah lama menjalin hubungan di belakangnya. Hati Mentari seakan runtuh. Kejutan yang ia siapkan berubah menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Mentari berdiri terpaku, tubuhnya seakan membeku. Dadanya terasa sesak, seolah udara di sekitarnya mendadak hilang. Matanya bergetar menatap Utte dan Safeea, tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Air mata mulai menggenang, namun ia berusaha menahannya. Bibirnya bergetar, ingin berkata sesuatu, tapi suara tercekat di tenggorokannya. Hatinya berteriak, “Kenapa harus begini? Kenapa di hari aku ingin membahagiakanmu, justru aku yang dihancurkan?”

Tangannya yang masih menggenggam koper terasa dingin, jari-jarinya gemetar. Ia melangkah mundur perlahan, mencoba menjaga wibawa di hadapan mereka, meski hatinya remuk. Setiap langkah terasa berat, seakan dunia runtuh di bawah kakinya.

Mentari akhirnya berbalik, meninggalkan ruangan itu dengan mata berkaca-kaca. Kejutan yang ia siapkan berubah menjadi luka paling dalam, dan untuk pertama kalinya ia merasakan betapa pahitnya dicintai tapi dikhianati.

Mentari akhirnya tak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia melangkah maju, menatap Ute dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keberanian.

“Jadi ini alasannya kamu susah dihubungi? Aku datang jauh-jauh ke sini buat kasih kejutan kamu, ini hari anniversary kita yang ke-5, tapi ternyata kamu sudah punya kejutan sendiri,” suaranya bergetar, campuran antara marah dan sedih.

Utte terdiam, wajahnya pucat. Safeea menunduk, tak berani menatap Mentari.

Mentari melanjutkan, “Selama ini aku kira orang-orang cuma bercanda waktu menjodohkan kamu dengan Samira. Tapi sekarang aku lihat sendiri… ternyata kalian memang ada sesuatu di belakangku.”

Air mata akhirnya jatuh, tapi ia tak berusaha menyembunyikannya. “Lima tahun, Utte. Lima tahun aku percaya sama kamu. Apa semua itu nggak berarti apa-apa?”

Suasana ruangan mendadak hening, hanya suara napas berat Mentari yang terdengar. Utte mencoba membuka mulut, tapi kata-kata seakan tersangkut di tenggorokannya. Mentari menatap Utte dengan mata yang penuh luka. Suaranya pecah, namun tegas.

“Jadi ini alasannya kamu menghilang? Aku datang jauh-jauh ke sini, berharap bisa bikin kamu bahagia, tapi ternyata kamu sudah bahagia dengan cara lain… bersama Safeea.”

Utte terdiam, wajahnya pucat. Safeea menunduk, seolah ingin menghilang dari pandangan Mentari.

Mentari melangkah lebih dekat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Lima tahun, Utte. Lima tahun aku percaya sama kamu. Apa semua itu nggak ada artinya? Apa aku cuma pengisi waktu sampai kamu benar-benar bersama dia?”

Suasana menjadi hening, hanya suara napas berat yang terdengar. Utte mencoba membuka mulut, namun kata-kata tersangkut di tenggorokannya.

Mentari menatapnya sekali lagi, dengan tatapan yang campur aduk antara cinta, marah, dan kecewa. “Aku pantas tahu jawabannya sekarang, Utte. Jangan diam. Katakan… apa aku memang sudah bukan siapa-siapa buatmu?”

Lihat selengkapnya