Mentari duduk di beranda rumahnya, menatap langit malam yang dihiasi bulan separuh. Luka di kakinya masih terasa perih, namun jauh lebih perih hatinya yang telah dikhianati. Mentari baru saja menutup pintu rumah ketika suara langkah cepat terdengar dari arah jalan. Lica, sahabatnya muncul dengan wajah penasaran bercampur geram.
“Tar, Tar!," seru Lica sambil langsung duduk di sampingnya.
Mentari menarik napas panjang, matanya masih sembab.
“Lii… ternyata bener mereka sudah berhubungan dari lama. Kemarin Utte menggenggam tangan Safeea, seolah aku tak pernah ada. Rasanya seperti dunia runtuh di depan mataku.”
Lica mengepalkan tangan, jelas marah.
“Kurang ajar! Aku sudah lama curiga sama Safeea, tapi tak menyangka Utte tega. Tar, kamu nggak pantas diperlakukan begitu,". Lica menatap Mentari dengan sorot mata penuh emosi. Ingatan lamanya tiba-tiba menyeruak, membawa kembali momen tiga tahun silam.
“Aku masih ingat jelas,” ucap Lica dengan nada getir. “Hari itu Utte tiba-tiba ngenali Safeea ke kamu. Katanya hanya teman kuliah, tapi aku sudah mencium ada yang tidak beres. Safeea tersenyum dengan muka polosnya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi tatapan matanya… aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan.”
Mentari terdiam, hatinya semakin perih mengingat kembali momen itu.
“Dan aku percaya saja waktu itu. Aku pikir aku terlalu cemburu kalau curiga.” Mentari akhirnya menghela napas panjang, lalu menatap Lica dengan mata yang masih merah tapi penuh tekad.
“Lii, aku cuma mau move on. Jadi tolong ya, jangan lagi bahas Utte atau Safeea di depanku. Aku nggak mau dengar kabar mereka, nggak mau tahu apa yang mereka lakukan. Aku pengen fokus sembuh, pelan-pelan lupain semua sakitnya.”
Lica mengangguk cepat, wajahnya serius tapi penuh sayang.
“Tenang aja, Tar. Mulai sekarang aku nggak bakal bocorin apa-apa soal mereka. Kalau ada gosip lewat, aku langsung buang jauh-jauh. Yang penting kamu bisa jalan terus tanpa bayangan mereka.”
Mentari tersenyum tipis, merasa sedikit lega.
“Thanks, Lii. Aku butuh itu. Aku butuh kamu jadi temen yang jagain aku dari hal-hal yang bikin aku mundur lagi.”
Lica menepuk bahunya dengan santai.
“Udah pasti, Tar. Kita fokus ke hal-hal yang bikin kamu bahagia aja. Urusan mereka? Anggap aja udah tamat.”
Malam itu, obrolan mereka berubah jadi lebih ringan. Dari topik luka hati, perlahan bergeser ke rencana kecil untuk bikin hidup Mentari lebih berwarna lagi.
Pagi itu, meski hatinya masih campur aduk, Mentari tetap melangkah ke kampus. Ia tahu kalau berdiam diri di rumah hanya akan membuat pikirannya semakin kacau.