Sementara Bulan, akhirnya harus merelakan kisah asmaranya bersama Dony kandas. Hubungan yang dulu penuh janji dan mimpi bersama itu tak mampu bertahan menghadapi kenyataan. Dony memilih merantau ke luar negeri, meninggalkan Bulan dengan kenangan yang sulit dilupakan.
Kesepian dan luka hati membuat Bulan lebih banyak merenung. Namun ia tahu, hidup harus terus berjalan meski cinta pertamanya telah pergi. Di tengah keterpurukan itu, bulan akhirnya menerima perjodohan dari kedua orang tuanya dengan Resa, seorang pria yang tenang dan penuh kesungguhan. Awalnya Bulan ragu, namun perlahan ia menyadari bahwa menerima perjodohan bukan berarti mengkhianati masa lalunya, melainkan memberi kesempatan baru bagi dirinya untuk menemukan kebahagiaan.
Resa sendiri mengambil langkah besar sebelum menikahi Bulan. Ia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf, dengan nama barunya Muhammad Fahressa. Keputusan itu bukan hanya demi pernikahan, tetapi juga lahir dari pencarian spiritual yang tulus. Bulan terharu melihat kesungguhan Resa, dan di hatinya tumbuh rasa hormat serta kepercayaan.
Hari pernikahan tiba, sederhana namun penuh makna. Bulan berdiri di samping Resa, mengenakan kebaya putih yang anggun. Meski hatinya pernah hancur, ia kini memilih untuk menatap masa depan dengan keberanian. Di pelaminan itu, Bulan belajar bahwa cinta tak selalu datang sesuai rencana, tetapi takdir selalu punya cara untuk menuntun hati menuju pelabuhan baru.
Bulan duduk bersisian dengan Resa, sementara suasana penuh doa dan harapan mengelilingi mereka. Namun di dalam hatinya, Bulan merasakan kekosongan yang sulit ia sembunyikan. Sesekali matanya melirik ke sudut ruangan, seakan mencari sesuatu yang bisa mengisi ruang hampa di hatinya, atau mungkin mencari bayangan masa lalu yang tak lagi hadir.
Ketika Resa mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap, Bulan menunduk. Ia tahu dirinya belum mencintai pria yang dikenal sebagai seorang eksekutif produser yang disegani. itu Hatinya masih menyimpan bayangan Dony, cinta pertamanya yang kini jauh di negeri orang. Namun Bulan juga sadar, cinta tak selalu hadir seketika.
Dalam diamnya, Bulan berjanji pada dirinya sendiri: hari demi hari, ia akan belajar membuka hati. Ia yakin, perlahan cinta bisa tumbuh, mengisi kekosongan, dan suatu saat mampu menghapus bayang-bayang Dony dari kehidupannya.
Di pelaminan itu, Bulan bukan hanya menerima Resa sebagai suami, tetapi juga menerima takdir baru yang Tuhan titipkan. Meski langkah awal terasa berat, ia percaya bahwa setiap perjalanan cinta punya waktunya sendiri untuk bersemi.
Sementara itu, Resa sungguh-sungguh mencintai Bulan. Ia menatapnya dengan penuh ketulusan, berjanji dalam hati untuk menjadi imam yang baik, membimbingnya dengan sabar, dan tidak pernah mengkhianati kepercayaan orang tua Bulan yang telah menyerahkan putri mereka kepadanya. Keputusan besar yang ia ambil untuk menjadi mualaf bukan sekadar formalitas, melainkan wujud keseriusan dan komitmen terhadap kehidupan baru yang akan mereka jalani bersama.
Di pelaminan itu, dua hati yang berbeda kondisi bertemu: satu masih kosong dan penuh luka, satu lagi penuh cinta dan tekad. Namun keduanya sama-sama melangkah ke depan, percaya bahwa cinta sejati bisa tumbuh dari kesetiaan, doa, dan waktu.
---
Hari-hari pertama Bulan sebagai istri Resa terasa begitu berbeda dari bayangan indah tentang pernikahan yang dulu pernah ia miliki bersama Dony. Rumah tangga mereka berjalan dengan tenang, namun hambar. 'Vivie' begitu Resa memanggilnya dengan penuh kelembutan, masih sering larut dalam pikirannya sendiri. Ia menerima perjodohan itu bukan karena cinta, melainkan karena takdir yang tak bisa ia tolak.
Resa tentu bisa merasakan jarak itu. Ia tahu Vivie belum sepenuhnya membuka hati, namun ia tidak pernah memperlihatkan kekecewaan. Sebaliknya, ia memperlakukan Vivie dengan penuh kasih sayang, berusaha menumbuhkan rasa aman dan nyaman di setiap langkah. Baginya, mencintai Vivie adalah keputusan seumur hidup, bukan sekadar kewajiban.
Setiap pagi, Resa menyapa dengan senyum tulus, menyiapkan teh hangat untuk Vivie, dan menyebut namanya dengan lembut. “Vivie, jangan lupa sarapan,” ucapnya, seakan ingin menunjukkan bahwa ia hadir bukan hanya sebagai suami, tetapi juga sebagai sahabat dan imam yang siap membimbing.
Di dalam hatinya, Resa berjanji tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan orang tua Vivie. Ia tahu, mereka menitipkan putri yang berharga kepadanya, dan ia ingin membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah. Meski cinta Vivie belum tumbuh, Resa yakin dengan kesabaran dan ketulusan, suatu hari nanti hatinya akan benar-benar dimiliki oleh wanita yang kini menjadi istrinya.
Kesibukan pekerjaan membuat jarak itu semakin nyata. Vivie sibuk dengan aktivitasnya, sementara Resa tenggelam dalam dunia produksi yang menuntut banyak waktu dan tenaga. Mereka sering bertemu hanya di meja makan atau menjelang tidur, dengan percakapan singkat yang lebih banyak seputar rutinitas.
Namun di balik semua itu, Resa tetap mencintai Vivie dengan seutuh hatinya. Ia percaya bahwa cinta bisa tumbuh dari kebersamaan, meski awalnya hambar. Setiap hari ia berusaha menunjukkan perhatian kecil, membawakan makanan kesukaan Vivie, menanyakan kabarnya, atau sekadar menatapnya dengan penuh kesungguhan. Baginya, menjadi suami bukan hanya soal status, melainkan tentang menjaga amanah besar dari orang tua Vivie dan membuktikan bahwa ia layak menjadi imam bagi keluarganya.
Di rumah tangga yang masih berjarak itu, tersimpan dua hati dengan kondisi berbeda: Vivie yang masih belajar menerima, dan Resa yang sudah mencintai sepenuhnya. Waktu menjadi saksi, apakah jarak itu akan perlahan memudar, atau justru menjadi jalan bagi mereka untuk menemukan arti cinta yang sesungguhnya.
“Capek banget hari ini, Vivei. Meeting-nya panjang banget, kepala rasanya mau meledak.” Vivie menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis, “Kerja kamu memang nggak pernah santai, ya. Produser itu kan selalu dikejar deadline.”. “Iya, tapi rasanya hilang capek kalau bisa ngobrol sama kamu.” sahut Resa sambil tertawa kecil.
Vivi pun mengalihkan pandangan ke TV,“Hmm… aku juga capek, kerjaan kantor lagi numpuk.” Resa menatap Vivie, dan mencoba mencairkan suasana. “Besok kalau kamu pulang kerja, mau aku jemput nggak?”. “Nggak usah, aku biasanya pulang bareng teman kantor. Lagian kamu pasti sibuk.”
Hening sejenak. Resa lalu menambahkan dengan nada lembut “Aku tahu kita masih berjarak, Vi, tapi aku nggak akan berhenti berusaha bikin kamu nyaman. Pelan-pelan aja, ya.”, Vivie menunduk, suaranya pelan “Aku tahu, Resa. Aku cuma… butuh waktu.” Resa menghela napas, lalu tersenyum lagi. Baginya, jawaban singkat Vivi sudah cukup jadi harapan.
----
Dua tahun berlalu sejak pernikahan Vivie dan Resa. Rumah tangga mereka masih terasa hambar, jarak itu belum benar-benar memudar. Vivie menjalani perannya sebagai istri dengan baik, tapi hatinya belum sepenuhnya menerima Resa. Sementara Resa, dengan kesabaran yang tak pernah surut, tetap berusaha membuat Vivie nyamandengan berbagai cara, salah satinya mengajak istrinya ke acara keluarga, memperkenalkan pada teman-temannya, berharap kebersamaan bisa menumbuhkan cinta.
Namun bagi Vivie, semua itu justru terasa melelahkan. Setiap kali hadir di acara kumpul keluarga, ia selalu dicecar pertanyaan yang membuatnya risih.
Suatu sore, di rumah keluarga besar Resa, percakapan itu terjadi.
“Res, Vi… sudah dua tahun menikah. Kalian nggak kepikiran punya momongan? Tante lihat kalian berdua cocok sekali jadi orang tua," ujat Tante Vanny. Resa pun tersenyum, menatap Vivi sekilas “Sebenarnya aku udah pengin sekali, Tante. Aku percaya punya anak akan membawa kebahagiaan baru.”
Mendangar ucapan itu, Vivie terdiam, menunduk, hanya memainkan jemarinya di pangkuan, Tante Vanny menatap Vivi, sedikit penasaran “Kalau Vivie gimana? Kamu nggak kepingin?". Resa menjawab cepat, berusaha menutup kekosongan, “Pengin lah Tan, cuma belum dikasih aja sama Tuhan," timpalnya.
Suasana sempat hening. Vivie tetap diam, tidak menambahkan apa pun. Resa paham betul diamnya itu bukan sekadar malu, melainkan tanda bahwa hatinya masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. Meski begitu, Resa tidak pernah berhenti berharap. Ia yakin, dengan kesabaran dan ketulusan, suatu hari nanti Vivi akan membuka hatinya, bukan hanya sebagai seorang istri, tapi juga sebagai pasangan hidup yang benar-benar mencintainya.