Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #4

Redup Kilau Mentari

Dua tahun sudah setelah penghianatan Utte dan Safeea, Mentari pun mulai menata hidupnya, kini Mentari sudah bekerja disalah satu perusahaan yang cukup terkenal di kotanya. Mentari mulai menemukan ritme baru dalam hidupnya. Setiap pagi ia berangkat ke kantor dengan semangat yang perlahan tumbuh kembali, meski bayang-bayang masa lalu kadang masih menyelinap di hatinya. Di perusahaan tempat ia bekerja, Mentari dikenal sebagai sosok yang tekun dan penuh dedikasi. Rekan-rekannya menghargai kerja kerasnya, bahkan beberapa atasan mulai melihat potensi besar dalam dirinya.

Namun, luka akibat pengkhianatan Utte dan Safeea belum sepenuhnya hilang. Ada saat-saat tertentu ketika Mentari duduk sendiri di balkon apartemennya, menatap langit senja, dan bertanya dalam hati: apakah ia benar-benar sudah bebas dari masa lalu itu?

Suatu hari, perusahaan mengadakan proyek besar yang melibatkan kerja sama dengan mitra luar kota. Mentari ditunjuk sebagai salah satu anggota tim inti. Di sinilah cerita baru mulai terbuka: proyek itu mempertemukannya dengan orang-orang baru, termasuk seorang rekan bernama Arga, yang perlahan membawa warna berbeda dalam hidup Mentari.

Arga tidak tahu apa yang pernah dialami Mentari, tapi sikapnya yang hangat dan penuh perhatian membuat Mentari merasa dihargai. Dari sinilah perjalanan baru Mentari dimulai antara menata karier, membuka hati, dan menghadapi kemungkinan bahwa masa lalu bisa kembali hadir dalam bentuk yang tak terduga.

Arga ternyata bukan sekadar rekan kerja biasa. Ia memegang jabatan penting sebagai manajer divisi tempat Mentari ditempatkan. Kehadirannya membawa suasana baru di kantor, tegas, berwibawa, namun tetap hangat dalam berinteraksi.

Bagi Mentari, kabar bahwa Arga akan menjadi atasannya adalah sebuah kejutan. Di satu sisi, ia merasa bangga bisa bekerja langsung di bawah sosok yang dihormati banyak orang. Di sisi lain, ada rasa canggung yang muncul, karena hubungan mereka sebelumnya sudah cukup akrab saat proyek bersama. Kini, batas profesional harus dijaga.

Arga sendiri menyadari posisi barunya bisa menimbulkan jarak. Namun, ia berusaha tetap bersikap adil dan profesional. Ia sering memberi arahan dengan jelas, sekaligus sesekali menyelipkan motivasi yang membuat Mentari merasa dihargai. Perlahan, Mentari mulai melihat Arga bukan hanya sebagai atasan, tetapi juga sebagai sosok yang bisa menjadi penopang dalam perjalanan hidupnya.

Desakan orang tua membuat hati Mentari semakin gundah. Mereka khawatir putrinya akan menutup diri selamanya setelah luka yang ditinggalkan oleh Utte. Setiap kali pulang ke rumah, percakapan tentang pernikahan selalu muncul, kadang dengan nada lembut penuh kasih, kadang dengan kekhawatiran yang terasa menekan.

Mentari sebenarnya mengerti maksud baik orang tuanya. Mereka hanya ingin melihat putrinya bahagia, memiliki keluarga, dan tidak terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Namun, bagi Mentari, membuka hati bukanlah perkara mudah. Luka pengkhianatan masih meninggalkan jejak yang membuatnya ragu untuk percaya sepenuhnya pada cinta.

Di tengah kebimbangan itu, sosok Arga hadir sebagai atasan sekaligus figur yang mulai memberi rasa aman. Sikapnya yang dewasa, bijaksana, dan penuh perhatian membuat Mentari perlahan mempertanyakan: mungkinkah ia bisa kembali percaya pada seseorang?

Arga sebenarnya sudah jatuh hati pada Mentari sejak pertama kali melihatnya. Ada sesuatu dalam tatapan mata Mentari yang membuat Arga merasa seolah menemukan sosok yang selama ini ia cari, keteguhan hati yang dibalut kelembutan. Meski ia berusaha menyembunyikan perasaan itu di balik sikap profesionalnya sebagai atasan, setiap kali Mentari berbicara atau tersenyum, hatinya bergetar.

Sebagai manajer, Arga tahu ia harus menjaga batas. Namun, rasa kagum itu semakin tumbuh seiring waktu. Ia melihat bagaimana Mentari bekerja dengan penuh dedikasi, bagaimana ia tetap tegar meski jelas menyimpan luka masa lalu. Justru keteguhan itulah yang membuat Arga semakin yakin bahwa Mentari adalah sosok istimewa.

Sore itu, setelah kerjaan lumayan padat, Arga sengaja ngajak Mentari duduk sebentar di pantry. Suasananya santai, nggak ada tekanan kantor, cuma obrolan ringan. “Kamu tuh kalau kerja serius banget ya, kayak nggak ada waktu buat ketawa,” ujar Arga.

Mentari tersenyum kecil, “Hehe, iya sih. Aku emang suka fokus kalau udah mulai ngerjain sesuatu. Takutnya kalau kebanyakan ngobrol malah nggak kelar.”

“Hmm… tapi hidup kan nggak cuma soal kerja, Tar. Sesekali santai juga nggak apa-apa. Lagian kalau terlalu tegang, nanti malah capek sendiri.”

“Iya juga sih. Kadang aku lupa kalau harus nikmatin prosesnya, bukan cuma hasilnya.”

Arga menatap Mentari sambil tersenyum,“Nah itu. Aku seneng bisa ngobrol kayak gini sama kamu. Rasanya lebih… ringan aja.”

Mentari agak kaget dengan cara Arga ngomong, tapi ia pura-pura tidak terlalu menanggapi. Dalam hati, ada rasa hangat yang muncul. Obrolan sederhana itu bikin suasana jadi lebih akrab, seolah ada sesuatu yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

----

Mentari merasa ada sesuatu yang berbeda. Perhatian Arga terasa tulus, bukan sekadar basa-basi atasan ke bawahan. Sepanjang hari, Arga beberapa kali melontarkan candaan kecil di sela kerja, bikin suasana jadi lebih cair. Sore harinya, saat semua orang sudah pulang, Arga kembali menghampiri Mentari yang masih sibuk di depan laptop.“Kamu masih kerja? Wah, rajin banget. Tapi jangan keseringan lembur, ya. Hidup bukan cuma soal kerja.” ujar Arga. Mentari menutup laptop pelan “Iya, Pak. Kadang aku kebawa suasana aja.”

Arga tersenyum hangat “Kalau gitu, lain kali kita pulang bareng aja. Biar kamu nggak sendirian di kantor.” Mentari terdiam sejenak. Ada rasa hangat yang muncul, bercampur dengan keraguan. Ia tahu Arga punya posisi penting, tapi perhatian kecil itu membuatnya merasa dihargai sebagai pribadi, bukan sekadar bawahan.

Hari-hari berikutnya, perhatian Arga makin jelas terasa. Suatu sore, setelah jam kantor selesai, ia menghampiri Mentari yang sedang beres-beres meja. “Tar, kamu udah ada rencana makan malam? Kalau belum, gimana kalau kita makan bareng? Anggap aja refreshing setelah kerjaan seharian.”

Mentari sedikit kaget, tapi tersenyum, “Hmm… belum sih. Tapi apa nggak apa-apa, Pak? Takutnya nanti orang kantor ngomong macam-macam.” Arga tertawa kecil, “Santai aja. Kita kan cuma makan. Lagian, aku pengen kenal kamu lebih dari sekadar urusan kerja.”

Mentari terdiam, hatinya berdebar. Ia tahu Arga punya posisi penting, dan ia juga sadar betul orang tuanya sedang mendesaknya untuk segera menikah. Perhatian Arga terasa tulus, berbeda dari sekadar basa-basi. Malam itu mereka akhirnya makan di sebuah kafe sederhana dekat kantor. Obrolan mengngalir begitu saja, mulai dari cerita masa kecil, hobi, sampai mimpi masing-masing. Mentari merasa nyaman, sesuatu yang sudah lama hilang sejak pengkhianatan Utte. Arga, di sisi lain, makin yakin kalau perasaan yang ia simpan sejak pertama kali bertemu Mentari bukan sekadar kagum.

Malam itu, setelah beberapa kali makan bareng dan ngobrol santai, Arga akhirnya memberanikan diri. Mereka duduk di sebuah kafe yang agak sepi, suasananya tenang, hanya ditemani lampu temaram. “Tar, ada hal yang udah lama pengen aku bilang. Dari pertama kali ketemu kamu, aku ngerasa ada sesuatu yang beda. Aku kagum sama kamu, bukan cuma karena kerja kerasmu, tapi juga karena cara kamu menghadapi hidup.”

Mentari menatap Arga, sedikit bingung, tapi bisa merasakan keseriusan dari nada suaranya. “Aku nggak mau berlama-lama atau main-main. Aku bukan tipe orang yang suka pacaran lama, Tar. Kalau aku serius sama seseorang, aku pengennya langsung ke arah pernikahan. Dan sekarang… aku serius sama kamu.”

Lihat selengkapnya