Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #5

Gelita

Vivie dan Resa masih tinggal di bawah satu atap yang sama, namun seakan hidup di dunia yang berbeda. Mereka tidak lagi saling sapa, bahkan sekadar menanyakan kabar pun sudah hilang dari rutinitas. Dua tahun berlalu dalam keheningan yang mencekam, hanya suara televisi atau derap langkah yang menjadi tanda keberadaan masing-masing.

Vivie sering menatap Resa dari kejauhan, berharap ada percikan kecil yang bisa mengembalikan kehangatan. Namun Resa sudah terlalu letih, hatinya tertutup oleh luka yang tak pernah diobati. Malam-malam mereka dipenuhi sunyi, tanpa percakapan, tanpa tawa. Di titik jenuh itu, rumah yang dulu penuh harapan kini berubah menjadi ruang asing.

Ketegangan yang selama ini terpendam akhirnya pecah menjadi konflik nyata. Resa pulang larut malam, wajahnya dingin tanpa sapaan, sementara Vivie yang menunggu di ruang tamu tak lagi bisa menahan perasaan.

“Apa kita harus terus begini, Res?” suara Vivie bergetar, penuh luka.

Resa menoleh sekilas, lalu menjawab dengan nada datar, “Kamu yang memulai semua ini," timpalnya tanpa basa-basi.

Kata-kata itu membuat Vivie terdiam, namun juga marah. “Aku menutup diri karena kamu berubah! Dulu kamu hangat, sekarang bahkan menatapku pun enggan.”

Resa menghela napas panjang, menaruh tas kerjanya di meja. “Aku berubah karena kamu tak pernah peduli. Dua tahun kita hidup seperti orang asing, Vivie. Apa kamu tidak sadar?”

Suasana rumah yang sunyi mendadak dipenuhi suara hati yang pecah. Vivie menangis, Resa menahan emosi, keduanya sama-sama terluka. Konflik itu bukan sekadar pertengkaran, tapi juga tumpukan dari rasa kecewa yang dipendam Resa selama bertahun-tahun.

Vivie akhirnya bicara dengan nada lebih santai, mencoba meredakan ketegangan. “Res, aku jujur aja, empat tahun kita menikah, aku masih belum bisa nerima kamu sepenuhnya. Rasanya kayak ada jarak yang nggak pernah hilang.”

Resa menatapnya sebentar, lalu menghela napas. “Aku ngerti, tapi kamu juga harus tahu, aku capek hidup di rumah yang dingin kayak gini. Kita udah dua tahun nggak saling sapa, Vivie. Itu bukan pernikahan lagi.”

Vivie menunduk, suaranya lirih. “Aku juga merasa gagal. Kita belum punya anak, dan itu bikin beban makin berat. Kadang aku merasa semua ini cuma bikin kita makin jauh.”

Resa duduk di sofa, menatap kosong ke depan. “Aku cuma kecewa. Aku pengen kita bahagia, tapi kalau terus kayak gini… aku nggak tahu apa masih bisa bertahan.”

Suasana jadi hening, tapi kali ini bukan sekadar dingin. Ada kejujuran yang akhirnya keluar, meski pahit. Mereka sama-sama sadar, hubungan itu sudah sampai di titik yang harus diputuskan: bertahan dengan luka, atau berani melepaskan demi mencari kebahagiaan masing-masing.

Resa dan Vivie akhirnya sampai pada keputusan yang tak bisa lagi ditunda. Setelah percakapan panjang penuh kejujuran, keduanya sepakat untuk bercerai. Sebelum proses itu benar-benar dijalani, Resa dengan penuh tanggung jawab mengantar Vivie pulang ke rumah orang tuanya.

Di hadapan Ayah Vivie, Resa berbicara dengan tegas namun tetap hormat. Ia menjelaskan alasan perceraian mereka karena hubungan yang sudah lama dingin, rasa jenuh yang tak bisa dipulihkan, dan kenyataan bahwa pernikahan itu tidak lagi bisa dipertahankan. “Jujur saya tidak ingin terus memaksakan sesuatu yang sudah hilang, Pa. Lebih baik kami berpisah dengan baik daripada terus saling melukai,” ucap Resa dengan nada mantap.

Resa juga menyinggung soal tanggung jawabnya. Ia menyampaikan bahwa sejumlah aset akan diberikan kepada Vivie sebagai bentuk penghargaan atas kebersamaan mereka selama ini. Selain itu, ia menegaskan akan tetap menafkahi Vivie sampai salah satu dari mereka menikah lagi. “Saya ingin memastikan Vivie tetap aman secara finansial, sampai waktunya dia atau saya memulai hidup baru,” tambahnya.

Momen itu penuh keharuan. Meski pahit, perceraian mereka dilakukan dengan cara yang dewasa dan penuh tanggung jawab. Vivie menunduk, menahan air mata, sementara Ayahnya mengangguk pelan, menerima keputusan yang sudah bulat. Kini, jalan hidup mereka akan berbeda, namun setidaknya berakhir dengan kejelasan dan tanpa dendam.

Butuh waktu lama bagi keduanya untuk benar-benar menerima kenyataan pahit itu. Resa, meski berusaha tegar di depan keluarga Vivie, justru menjadi salah satu pihak yang paling terpukul. Sejak awal, ia menerima perjodohan itu karena permintaan ibunya, dan selama empat tahun pernikahan, ia sudah berusaha memberikan yang terbaik dengan memfasilitasi kebutuhan Vivie, membimbingnya dengan sabar meski dirinya seorang mualaf, dan mencoba menjaga rumah tangga tetap hangat.

Sayangnya, semua pengorbanan itu tidak pernah membuat Vivie bisa mencintainya. Malam setelah akta cerai resmi terbit, Resa duduk sendiri di kamarnya. Ia merenung panjang, menatap kosong ke arah jendela, merasakan hampa yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, ia memutuskan mengambil cuti kerja beberapa hari, tentu saja itu hal yang jarang sekali ia lakukan.

Dalam kesendirian itu, Resa mencoba berdamai dengan luka. Ia tahu, cinta yang dipaksakan tidak akan pernah tumbuh, dan mungkin inilah jalan terbaik bagi keduanya. Namun tetap saja, rasa kehilangan begitu dalam, karena ia merasa perjuangannya selama ini berakhir tanpa arti. Malam itu, Resa berjanji pada dirinya sendiri: meski hatinya hancur, ia akan bangkit lagi, belajar menerima bahwa tidak semua pengorbanan berbuah cinta.

Sementara Resa larut dalam kesedihan dan memilih menyendiri, Vivie justru merasakan kelegaan yang besar. Ia tak lagi harus memaksakan perasaan yang tak pernah tumbuh, dan kini bisa memulai hidupnya dari awal dengan lebih jujur pada diri sendiri.

Vivie memutuskan berhenti dari pekerjaannya yang selama ini hanya menambah beban pikiran. Ia ingin fokus pada hal yang benar-benar membuatnya bahagia. Dengan semangat baru, Vivie memilih jalan sebagai seorang konten kreator. Dunia digital memberinya ruang untuk berekspresi, membagikan cerita, dan perlahan menyembuhkan luka yang pernah ia pendam.

Hari-hari Vivie kini dipenuhi dengan ide-ide kreatif, proses belajar, dan interaksi dengan orang-orang baru yang mendukungnya. Meski perjalanan itu tidak mudah, ia merasa lebih bebas, lebih ringan, dan lebih dekat dengan versi dirinya yang selama ini terkurung.

Sejak perceraian itu, Resa benar-benar menyalurkan seluruh energinya ke dunia kerja. Luka yang ia rasakan justru membuatnya semakin gila bekerja, seolah-olah kesibukan adalah cara terbaik untuk melupakan masa lalu. Dua tahun berlalu, dan hasilnya terlihat jelas: ia mampu memiliki jauh lebih banyak, baik dari segi materi maupun posisi.

Namun, budaya kerja yang ia bangun di kantor menjadi sangat keras. Perfeksionisme Resa membuat timnya kewalahan. Ia menuntut standar tinggi, detail yang sempurna, dan ritme kerja yang nyaris tanpa henti. Awalnya timnya berusaha mengikuti, tapi lama-kelamaan banyak yang tak sanggup. Rata-rata karyawan perempuan memilih mengundurkan diri karena merasa tidak betah dengan tekanan yang terus-menerus.

Resa sendiri tidak menyadari bahwa cara kerjanya yang ekstrem mulai menciptakan jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya fokus pada pencapaian, tanpa melihat bahwa keberhasilan tim seharusnya juga bergantung pada keseimbangan dan kenyamanan. Di balik semua pencapaian itu, Resa masih menyimpan kekosongan. Ia berhasil menutup luka dengan kerja keras, tetapi belum tentu berhasil menemukan kebahagiaan sejati.

Sejak budaya kerja Resa semakin keras, label 'atasan menyebalkan'mulai melekat padanya. Perfeksionisme yang ia terapkan membuat banyak orang di tim merasa tertekan. Hingga suatu sore, setelah meeting panjang, Resa duduk bersama Otto dan Jessica, sesama eksekutif produser di sebuah kafe untuk ngopi.

Otto membuka percakapan dengan nada hati-hati. “Res, gue tahu lo pengen hasil sempurna, tapi tim lo udah kewalahan. Banyak yang resign bukan karena nggak kompeten, tapi karena nggak tahan sama ritme kerja lo.”

“Lo hebat, Res. Dua tahun ini pencapaian lo luar biasa. Tapi kalau semua orang pergi, lo bakal kerja sendirian. Perfeksionis itu bagus, asal nggak bikin orang lain kehilangan semangat," timpal Jessica.

Resa terdiam, menatap cangkir kopinya. Ia sadar, kata-kata mereka bukan sekadar kritik, melainkan bentuk kepedulian. Selama ini ia terlalu sibuk menutup luka dengan kerja keras, sampai lupa bahwa keberhasilan bukan hanya soal hasil, tapi juga bagaimana ia memimpin orang-orang di sekitarnya.

Resa menatap Otto dan Jessica, lalu menghela napas panjang. Dengan nada lebih santai tapi tetap serius, ia menjawab,

“Gue ngerti maksud kalian. Gue sadar banget kalau gaya kerja gue bikin orang nggak betah. Tapi jujur aja, kerja itu satu-satunya cara gue bertahan setelah semua yang gue lewatin. Kalau gue nggak perfeksionis, kalau gue nggak ngejar target, gue takut jatuh lagi ke titik yang sama.”

Otto mengangguk pelan, mencoba memahami. Jessica menatapnya dengan tatapan penuh simpati. Resa melanjutkan, “Gue tahu banyak yang resign, terutama tim cewek. Gue nggak pernah niat bikin orang tertekan, cuma… gue nggak bisa santai. Buat gue, hasil itu segalanya. Gue udah kehilangan banyak hal dalam hidup, jadi gue nggak mau kehilangan pencapaian yang udah gue bangun.”

Ia meneguk kopinya, lalu menambahkan dengan suara lebih lirih, “Mungkin gue emang jadi atasan yang nyebelin. Tapi ini cara gue bertahan. Kalau gue berhenti, gue takut nggak ada lagi yang tersisa dari diri gue.”

Otto dan Jessica saling berpandangan. Mereka tahu, di balik sikap keras Resa, ada luka yang belum sembuh. Dan mungkin, yang dibutuhkan Resa bukan sekadar nasihat kerja, tapi ruang untuk benar-benar berdamai dengan masa lalunya.

Jessica akhirnya tak bisa menahan kekesalannya. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit keras di meja, lalu menatap Resa tajam.

“Res, lo tau nggak tiap bulan gue harus repot ngurus rekrutmen buat tim lo? Capek banget rasanya. Orang-orang keluar karena nggak tahan sama gaya kerja lo, dan gue yang harus nutupin lubangnya. Gue bener-bener kewalahan,” ucap Jessica dengan nada kesal.

Otto mencoba menengahi, tapi Jessica melanjutkan, “Gue serius, kalau lo nggak berubah, gue bakal buka lowongan khusus buat pendamping lo. Biar ada orang yang bisa nge-handle sisi perfeksionis lo, dan tim nggak langsung kena tekanan. Lo butuh orang yang bisa jadi jembatan antara lo sama tim, Res.”

Resa terdiam, menatap Jessica dengan wajah yang sulit dibaca. Kata-kata itu menusuk, tapi juga membuka matanya. Ia sadar, bukan hanya tim yang kewalahan, bahkan rekan sesama eksekutif pun mulai lelah menghadapi dirinya.

Beberapa minggu setelah obrolan itu, Jessica benar-benar membuktikan ucapannya. Ia membuka proses rekrutmen besar-besaran untuk menambah tenaga di perusahaan. Puluhan orang mendaftar, dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Proses seleksi berlangsung ketat, karena Jessica ingin memastikan kandidat yang masuk bisa bertahan menghadapi budaya kerja yang keras, terutama di tim Resa.

Setelah serangkaian tes dan wawancara, hanya dua orang yang akhirnya diterima. Pertama, seorang laki-laki bernama Aldo, yang diputuskan untuk ditempatkan di tim Resa. Jessica berharap Aldo bisa menjadi sosok yang cukup tangguh menghadapi perfeksionisme Resa, sekaligus menjadi penyeimbang di dalam tim.

Kedua, seorang perempuan bernama Mentari, yang akan ditempatkan di tim Otto. Karakternya yang hangat dan komunikatif dianggap cocok untuk mendukung gaya kepemimpinan Otto yang lebih fleksibel.

Jessica menyampaikan hasil rekrutmen itu dengan nada lega, meski masih ada kekesalan tersisa. “Gue cuma bisa nerima dua orang dari puluhan yang daftar. Aldo gue taruh di tim lo, Res, biar ada yang bisa ngimbangin lo. Kalau sampe dia juga kabur, jangan salahin gue. Dan Mentari gue taruh di tim Otto, karena gue yakin dia bakal lebih berkembang di sana.”

Resa hanya mengangguk, sementara Otto tersenyum tipis. Momen itu jadi awal babak baru: bagaimana Aldo akan bertahan di bawah tekanan Resa, dan bagaimana Mentari akan membawa warna baru di tim Otto.

-----

Hari pertama Aldo dan Mentari kerja tiba, Jessica sudah menyiapkan penyambutan sederhana untuk dua pegawai baru yang lolos seleksi.

Di lobi, Aldo dan Mentari berdiri dengan wajah penuh antusias sekaligus gugup. Jessica menyambut mereka dengan senyum hangat. “Selamat bergabung, kalian berdua. Saya tahu proses seleksinya nggak gampang, jadi kalian harus bangga bisa sampai di sini.”

Setelah memberi arahan singkat tentang budaya kerja perusahaan, Jessica mengantar mereka ke ruangan masing-masing. Pertama, ia membawa Aldo ke tim Resa. “Aldo, ini ruangan tim yang dipimpin sama Pak Resa. Kamu bakal banyak belajar di sini, tapi juga harus siap dengan standar tinggi yang dia terapkan. Jangan sungkan buat komunikasi kalau ada yang bikin lo kewalahan.” Aldo mengangguk mantap, meski terlihat sedikit tegang.

Lihat selengkapnya