Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #6

Jejak Hati

Hari ulang tahun kantor itu dirayakan sederhana, hanya sesi makan bersama di aula yang dihias seadanya, dengan panggung kecil untuk live musik. Suasana hangat terasa, semua karyawan bercampur tanpa sekat jabatan. Di tengah musik akustik yang mengalun, Otto tiba-tiba iseng menoleh ke Mentari. “Tar, gimana kalau lo duet sama gue? Katanya suara lo bagus banget,” ucapnya sambil tersenyum.

Mentari sempat tertawa kecil, “Kata siapa, nggak ah.”

Percakapan itu sempat terdengar oleh Resa yang duduk di sebelah Otto. Ia melirik sekilas ke arah Mentari, lalu buru-buru kembali fokus ke ponselnya, seolah tak mau terlihat memperhatikan. Jessica yang duduk di dekat mereka ikut menimpali dengan nada menggoda, “Ayo, Tar! Sekali-sekali lo kasih kita hiburan. Gue yakin semua orang bakal suka.” Mentari tersipu, menunduk sebentar, lalu akhirnya mengangguk kecil. “Ya udah deh, "

Sebelum naik ke panggung, Otto dan Mentari sempat briefing sebentar di sisi ruangan. Otto dengan gaya santainya berkata, “Tar, gimana kalau kita bawain lagu Surga Cinta? Itu kan pas banget buat suasana kayak gini.”

Mentari tersenyum, agak ragu tapi akhirnya mengangguk, “Boleh,". Otto tertawa kecil, “Tenang aja, gue backup lo. Yang penting lo enjoy.” Percakapan ringan itu sempat terdengar oleh Resa yang duduk tak jauh dari mereka. Ia melirik sekilas ke arah Mentari, lalu buru-buru kembali menunduk ke ponselnya, berusaha menutupi rasa penasaran yang muncul.

Jessica yang ikut mengamati, dengan nada menggoda berkata, “Ayo Tar, jangan ragu. Suara lo kan emas, semua orang pasti seneng kalau lo nyanyi.” Suasana kantor pun makin hangat. Semua orang menunggu duet Otto dan Mentari, sementara Resa diam-diam menahan rasa berdebar, seolah tahu momen ini akan jadi titik baru dalam pandangannya terhadap Mentari.

Mentari akhirnya naik ke panggung bersama Otto. Lampu sorot sederhana dari panggung kecil itu membuat wajahnya terlihat jelas di hadapan semua orang. Otto mulai memetik gitar, lalu memberi aba-aba kecil.

Begitu Mentari membuka suara, ruangan seketika hening. Lagu Surga Cinta mengalun lembut, dan suara emas Mentari benar-benar memukau. Nada-nadanya jernih, penuh perasaan, membuat semua orang terdiam menikmati. Beberapa karyawan bahkan saling melirik kagum, tak menyangka rekan kerja mereka punya suara seindah itu.

Otto sesekali tersenyum, bangga bisa duet dengan Mentari. Jessica yang duduk di depan panggung tampak puas, seolah merasa ide memaksa Mentari tampil tadi adalah keputusan tepat.

Sementara itu, Resa yang duduk agak jauh mencoba tetap fokus ke ponselnya. Tapi setiap kali suara Mentari mengalun, ia tak bisa menahan diri untuk melirik. Ada sesuatu yang goyah dalam dirinya, reputasi keras yang selama ini melekat pada Mentari di benaknya mulai retak, digantikan oleh rasa kagum yang semakin kuat.

Ketika lagu berakhir, tepuk tangan meriah memenuhi ruangan. Mentari tersenyum malu, menunduk sebentar, lalu kembali ke tempat duduknya. Namun bagi Resa, momen itu terasa seperti titik balik. Ia mulai melihat Mentari bukan hanya sebagai sosok yang dibicarakan orang, tapi sebagai seseorang yang punya pesona nyata, yang perlahan mengguncang hatinya.

Setelah acara ulang tahun kantor selesai, suasana mulai lebih santai. Beberapa karyawan masih bercengkerama, ada yang sibuk membereskan meja, sementara sebagian lain menikmati sisa makanan.

Mentari berjalan keluar dari area panggung dengan senyum malu-malu, masih menerima pujian dari rekan-rekan yang kagum dengan penampilannya. Di lorong menuju pantry, ia berhenti sebentar untuk mengambil minum. Saat itulah Resa kebetulan lewat, membawa ponselnya di tangan.

Momen singkat terjadi, mereka berpapasan, dan untuk pertama kalinya Resa punya kesempatan kecil untuk berinteraksi langsung.

“Suara lo tadi bagus banget,” kata Resa pelan, agak canggung tapi tulus.

Mentari menoleh, sedikit terkejut Resa menyapanya. Senyumnya muncul lagi, hangat seperti pagi di pantry. “Makasih, Pak," jawabnya singkat.

Resa mengangguk, mencoba menahan ekspresi yang terlalu jelas. “Ya, kedengeran natural. Semua orang kayaknya terpesona.”

Percakapan itu singkat, hanya beberapa detik sebelum mereka sama-sama kembali ke arah masing-masing. Tapi bagi Resa, momen kecil itu terasa besar. Ada rasa hangat yang tertinggal, seolah senyum dan suara Mentari benar-benar mulai menembus dinding keras yang selama ini ia bangun.

Resa menunggu sampai suasana kantor agak tenang, lalu ia menghampiri Jessica yang sedang menatap layar penuh grafik. Dengan suara yang hati-hati tapi tegas, ia membuka percakapan:

“Jes, gue tahu tim Otto lagi sibuk banget, tapi gue pengin bicara soal Mentari,” ucap Resa, berusaha menjaga nada tetap profesional.

Jessica mengangkat alis, sedikit terkejut. “Lo mau Mentari pindah ke tim lo? Itu bukan permintaan kecil, Resa.”

Jessica terdiam sejenak, menimbang. Ada ketegangan halus di udara, tapi Resa tetap menatapnya dengan keyakinan. Baginya, ini bukan sekadar soal strategi tim ini adalah langkah untuk mendekatkan dirinya pada seseorang yang diam-diam mulai memberi arti lebih.

"Ada maksud apa lo? Mendadak banget minta Mentari, inget Res, cewek di tim lo nggak pernah awet, sebulan paling lama terus resign, jangan deh ngada-ada Mentari itu aset," timpalnya.

Jessica akhirnya menarik napas panjang. “Baiklah, gue buat pertimbangkan. Tapi lo harus siap menjelaskan alasannya ke manajemen. Kalau memang masuk akal, gue akan bantu prosesnya.”

Resa tersenyum tipis, ada rasa lega sekaligus antisipasi. Ia tahu ini baru permulaan, tapi keberanian untuk meminta sudah membuka jalan. Rapat bersama pimpinan perusahaan pun berlangsung di ruang besar dengan suasana yang tegang. Resa duduk tegak, menunggu gilirannya berbicara. Begitu kesempatan datang, ia membuka suara dengan nada mantap:

“Tim saya sedang menghadapi fase krusial. Kami butuh keseimbangan antara analisis yang tajam dan energi yang bisa menjaga semangat tetap hidup. Karyawan baru yang bergabung enam bulan lalu, Mentari punya kualitas itu. Saya percaya, dengan kehadirannya, tim saya bisa lebih solid dan produktif.”

Beberapa kepala mengangguk, tapi Otto segera menimpali, suaranya terdengar penuh tekanan. “Saya tidak bisa setuju begitu saja. Mentari sudah membawa perubahan besar di tim saya. Kalau dia dipindahkan, kami akan kehilangan momentum yang baru saja terbentuk.”

Ruangan mendadak hening, ketegangan terasa jelas. Resa menatap Otto, lalu kembali menoleh ke arah manajemen. “Saya mengerti keberatan Otto. Tapi mari kita lihat dari perspektif yang lebih luas. Mentari bukan hanya memberi semangat, dia juga punya kemampuan adaptasi yang tinggi. Justru di tim saya, dia bisa mengembangkan potensi itu lebih jauh, karena proyek yang kami jalankan menuntut interaksi lintas divisi. Itu akan memperluas pengaruh positifnya, bukan membatasi.”

Keputusan pimpinan perusahaan akhirnya jatuh: Mentari resmi dipindahkan ke tim Resa. Alasannya jelas dan tegas, manajemen ingin menguji potensi Mentari dalam konteks yang lebih menantang. Mereka menetapkan masa evaluasi enam bulan; jika performanya tidak sesuai harapan, Mentari akan dikembalikan ke tim Otto.

Suasana rapat sempat kembali tegang setelah pengumuman itu. Otto terlihat menahan ekspresi kecewa, meski ia berusaha tetap profesional. “Saya hanya berharap keputusan ini tidak merusak progres yang sudah kami bangun,” katanya dengan nada berat.

Resa menatap Otto sejenak, lalu mengangguk. “Saya mengerti, Otto. Saya akan pastikan Mentari tetap bisa berkontribusi, bukan hanya untuk tim saya, tapi juga untuk perusahaan secara keseluruhan.”

Manajemen menutup rapat dengan kalimat singkat: “Kita akan lihat hasilnya enam bulan ke depan. Fokus kita bukan sekadar siapa yang mendapat siapa, tapi bagaimana kita bisa memaksimalkan talenta yang kita punya.”

Resa keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk, lega karena keinginannya dikabulkan, tapi juga sadar bahwa tanggung jawab besar kini ada di pundaknya. Mentari bukan sekadar anggota baru; ia adalah ujian bagi Resa, baik sebagai pemimpin maupun sebagai pribadi yang diam-diam mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar profesionalitas.

Jessica memanggil mereka ke ruang rapat kecil, suasana mendadak serius. Mentari dan Aldo saling bertukar pandang, jelas bingung dengan meeting dadakan itu. Otto duduk dengan wajah penuh tanda tanya, sementara Resa berusaha menahan ekspresi agar tetap netral.

Jessica membuka pembicaraan dengan nada tegas namun tenang:

“Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk hadir. Saya tahu ini mendadak, tapi ada keputusan penting dari manajemen yang harus segera saya sampaikan. Mulai minggu depan, akan ada perubahan komposisi tim.”

Mentari dan Aldo semakin bingung, saling menatap seolah mencari jawaban. Jessica melanjutkan:

“Mentari akan dipindahkan ke tim Resa. Sementara itu, Aldo akan bergabung dengan tim Otto. Keputusan ini dibuat untuk melihat potensi masing-masing dalam konteks berbeda. Mentari akan dievaluasi selama enam bulan di tim Resa, dan Aldo di tim Otto.”

Otto langsung bersandar ke kursinya, ekspresinya sulit dibaca, antara kecewa dan pasrah. Resa tetap menunduk sedikit, menahan senyum yang hampir muncul. Mentari tampak terkejut, matanya melebar, sementara Aldo mengangkat alis tinggi, jelas tidak menyangka.

“Kenapa harus ada switch seperti ini?” tanya Aldo, suaranya penuh rasa ingin tahu.

Jessica menatap mereka satu per satu. “Karena perusahaan ingin melihat bagaimana kalian beradaptasi. Mentari sudah menunjukkan pengaruh positif di tim Otto, sekarang kami ingin tahu apakah pengaruh itu bisa lebih luas di tim Resa. Sementara Aldo, kami percaya kamu bisa membawa stabilitas dan perspektif baru ke tim Otto.”

Lihat selengkapnya