Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #7

Rasa

Mentari merapikan meja kerjanya setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan lewat dari pukul tujuh malam, dan hampir semua rekan kerjanya sudah pulang. Divisi kreatif tampak sunyi, hanya lampu meja Mentari yang masih menyala, menyoroti wajahnya yang lelah namun puas. Ia menarik napas panjang, bersiap untuk pulang. Tas sudah ia gantungkan di bahu, laptop dimasukkan ke dalam sleeve, dan ia melangkah menuju lift.

Saat pintu lift terbuka, Mentari terkejut melihat sosok yang tak ia sangka akan muncul malam itu. Resa, atasannya yang hari ini sedang cuti, berdiri di sana dengan wajah sedikit tergesa.

“Saya cuma balik sebentar, charger, ketinggalan di meja,” kata Resa sambil tersenyum canggung.

Mentari ikut tersenyum, merasa sedikit lega ada teman yang muncul di tengah kesunyian kantor. Mereka pun masuk ke lift bersama. Suasana di dalam lift terasa berbeda. Hening, hanya suara mesin lift yang bergerak turun. Mentari menatap angka-angka di panel, sementara Resa sesekali melirik ke arahnya. Ada rasa kikuk, tapi juga hangat, sebuah pertemuan singkat yang tak direncanakan.

“Jarang banget aku lihat kamu pulang selarut ini,” ujar Resa, mencoba membuka percakapan.

Mentari tersenyum tipis. “Deadline , jadi harus beres hari ini. Kalau nggak, besok pasti makin numpuk.”

"Tapi kan hari ini saya cuti, kenapa nggak ditunda aja?" tanya Resa.

"Kemarin kan saya liburan, ya ini kerjar target walau nggak Kak Resa suruh," ungkap Mentari.

Hari itu, suasana kantor terasa lebih serius dari biasanya. Mentari baru saja menyelesaikan tiga tahun masa kerjanya. Sebagai bagian dari evaluasi tahunan, ia dipanggil ke ruang meeting.

Di ruangan itu sudah ada Resa, yang kini menjabat sebagai atasan langsungnya, bersama Jessica dari divisi HR. Mereka duduk berhadapan dengan meja penuh dokumen evaluasi. Tak lama kemudian, Otto juga masuk, membawa berkas untuk menilai kinerja Aldo, bawahannya.

Mentari duduk dengan tenang, meski jantungnya berdegup lebih cepat. Resa membuka pembicaraan dengan nada profesional namun tetap hangat:

“Mentari, tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Kami ingin membicarakan perjalananmu di sini, kontribusi, dan arah ke depan.”

Jessica menambahkan catatan tentang konsistensi Mentari dalam menghasilkan ide-ide segar. Otto, yang sempat menjadi atasannya di masa lalu, mengungkapkan bahwa meski Mentari pernah berada di timnya, ia melihat Mentari lebih berkembang di bawah arahan Resa.

Diskusi berlangsung cukup panjang, membandingkan pencapaian, gaya kerja, dan potensi pengembangan. Akhirnya, semua sepakat: Mentari tidak akan kembali ke tim Otto. Ia akan tetap berada di bawah divisi kreatif yang dipimpin Resa, karena di sanalah ia menemukan ruang untuk tumbuh dan bersinar.

Mentari menghela napas lega. Keputusan itu terasa seperti pengakuan atas kerja kerasnya. Ia menatap Resa, lalu Jessica, dan tersenyum. Resa menutup rapat dengan kalimat singkat namun penuh makna “Mentari, perjalananmu baru saja dimulai. Tiga tahun ini hanyalah fondasi. Kami percaya kamu bisa lebih besar dari yang kamu bayangkan.”

Sejak rapat evaluasi itu, posisi Mentari semakin jelas: ia tetap berada di bawah divisi kreatif yang dipimpin Resa. Keputusan tersebut membuat hubungan profesional mereka semakin erat. Resa mulai lebih sering melibatkan Mentari dalam proyek-proyek penting, bukan hanya sebagai staf kreatif, tetapi juga sebagai orang yang ia percaya untuk memimpin ide-ide besar. Setiap kali ada pitching ke klien, Resa selalu memastikan Mentari hadir, duduk di sampingnya, dan menyampaikan konsep dengan penuh percaya diri.

Di luar rapat resmi, keduanya juga semakin sering berdiskusi panjang. Kadang di ruang kerja, kadang di pantry sambil menikmati kopi. Resa melihat Mentari bukan sekadar bawahan, melainkan rekan yang mampu menyeimbangkan idealisme dengan realitas produksi.

Mentari pun merasakan hal yang sama. Ia mulai melihat Resa bukan hanya sebagai atasan, tetapi sebagai mentor yang membimbingnya. Ada rasa nyaman setiap kali Resa memberi masukan, bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan dorongan yang membuatnya semakin berani.

Jessica, yang sering mengamati interaksi mereka, bahkan sempat berkomentar, “Kalian berdua punya chemistry kerja yang jarang ada. Rasanya ide-ide kalian saling melengkapi. Akhirnya Resa nggak sekaku itu lagi”

Sementara Otto, yang dulu sempat menjadi atasannya, kini hanya bisa mengakui bahwa Mentari memang lebih berkembang di bawah Resa. Hari-hari berlalu, dan kedekatan profesional itu perlahan membentuk dinamika baru. Mentari semakin percaya diri, Resa semakin yakin bahwa ia menemukan sosok yang bisa menjadi tulang punggung timnya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan profesional Mentari dan Resa semakin sulit dipisahkan dari nuansa personal. Mereka sering pulang larut malam setelah rapat, dan tanpa disadari, obrolan mereka mulai bergeser dari sekadar pekerjaan ke hal-hal yang lebih pribadi.

Suatu malam, setelah menyelesaikan presentasi untuk klien besar, Resa mengajak Mentari makan malam di sebuah restoran sederhana. Obrolan mereka mengalir begitu saja, tentang masa kecil, tentang mimpi yang belum tercapai, bahkan tentang rasa lelah yang kadang menghantui.

Mentari tersenyum ketika Resa bercerita tentang hobinya mengoleksi miniatur mobil, sesuatu yang jarang ia bagikan kepada orang lain. “Saya nggak nyangka Kak Resa punya sisi itu,” kata Mentari sambil tertawa kecil.

Resa menatapnya, ada kilatan hangat di matanya. “Dan saya nggak nyangka kamu bisa membuat saya cerita hal-hal yang biasanya aku simpan sendiri.”

Sejak malam itu, ada perubahan kecil yang terasa. Resa mulai lebih perhatian, bukan hanya sebagai atasan, tetapi sebagai seseorang yang peduli. Mentari pun merasakan kenyamanan yang berbeda, meski ia masih berusaha menjaga batas profesional.

Jessica, yang sering melihat mereka bekerja bersama, mulai menyadari ada sesuatu yang lebih dari sekadar chemistry kerja. “Kalian berdua… kayaknya punya ikatan yang nggak bisa dijelaskan,” ucapnya suatu hari dengan nada menggoda. Mentari hanya tersenyum, sementara Resa menunduk, menyembunyikan perasaan yang perlahan tumbuh.

Resa mulai lebih sering memperhatikan detail kecil tentang Mentari, seperti kebiasaannya menulis puisi di sela kerja, atau cara ia selalu menambahkan sentuhan personal pada setiap konsep pekerjaan. Kadang, Resa sengaja menunggu samapi Mentari selesai lembur, lalu menawarkan untuk pulang bersama.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Resa berkata pelan, “Saya nggak tahu kenapa, tapi saya selalu merasa lebih tenang kalau kamu ada di tim.”

Mentari menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum. Kalimat itu sederhana, tapi ada kehangatan yang membuat suasana hening sejenak. Tatapan mereka bertemu, dan meski tak ada kata lanjutan, keduanya merasakan sesuatu yang samar sebuah perasaan yang mulai tumbuh, meski belum diucapkan.

-----

Proyek talkshow TV kali ini membawa tim kreatif ke Kota Solo. Bagi Mentari, perjalanan ini terasa istimewa, bukan hanya karena proyek besar yang sedang ia tangani bersama Resa, tetapi juga karena Solo adalah kampung halamannya.

Begitu tiba, Mentari merasakan nostalgia yang kuat. Jalan-jalan yang dulu ia lalui saat kecil, aroma makanan khas yang familiar, dan suasana kota yang hangat membuatnya tersenyum. Resa, yang melihat ekspresi itu, berkata pelan, “Saya bisa lihat kamu bahagia sekali di sini.”

Hari-hari mereka dipenuhi persiapan produksi: mengatur tata panggung, koordinasi dengan kru TV, hingga memastikan konsep visual berjalan mulus. Namun di sela kesibukan, Mentari sempat mengajak Resa mencicipi kuliner lokal. Mereka duduk di warung sederhana, menikmati nasi liwet sambil berbincang.

“Saya dulu sering makan di sini sama keluarga,” kata Mentari sambil tersenyum.

Resa menatapnya dengan hangat. “Terima kasih sudah ajak saya. Rasanya saya bisa melihat sisi lain dari kamu, bukan hanya sebagai staf kreatif, tapi sebagai seseorang yang punya cerita.”

Malam sebelum acara tayang, Mentari membawa Resa berjalan di sekitar set lokasi. Lampu kota berkilau, dan suasana terasa intim. Resa berkata pelan, “Saya nggak tahu kenapa, tapi saya merasa semakin dekat denganmu di sini. Mungkin karena Solo adalah bagian dari dirimu, dan aku beruntung bisa melihatnya langsung.”

Mentari terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menatap Resa, lalu tersenyum samar. “Mungkin Solo memang punya cara untuk membuat orang merasa lebih dekat.”

Malam setelah acara selesai, Resa mengajak Mentari berjalan di sekitar alun-alun. Lampu kota berkilau, suara gamelan dari kejauhan menambah suasana hangat. Mereka duduk di bangku taman, membiarkan angin malam Solo menyapu wajah.

Resa menatap Mentari cukup lama, lalu berkata dengan suara pelan namun tegas, “Mentari, saya harus jujur. Selama kita bekerja bersama, saya selalu berusaha menjaga batas profesional. Tapi di Solo ini, saya sadar… saya punya perasaan lebih dari sekadar rekan kerja terhadap kamu.”

Mentari terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia menunduk, mencoba mencerna kata-kata itu. Resa melanjutkan, “Saya tahu ini bisa rumit, karena kita bekerja di tempat yang sama. Tapi saya nggak bisa lagi pura-pura. Pak Resa bukan hanya bagian penting dari tim, juga bagian penting dari hidupku.”

Mentari menatap Resa, matanya berkaca-kaca. Ada kehangatan yang tak bisa ia sembunyikan. “Kak Resa… saya juga merasakan sesuatu. Saya takut kalau perasaan ini bisa mengganggu pekerjaan kita.”

Resa tersenyum, lalu berkata mantap, “Kalau kita sama-sama jujur dan dewasa, saya yakin kita bisa menjaga keduanya, karier dan perasaan.”

Malam itu, di kampung halaman Mentari, pengakuan yang selama ini tertahan akhirnya terucap. Hubungan mereka tak lagi samar, melainkan mulai nyata, meski jalan di depan masih penuh tanda tanya.

Resa menatap langit yang masih basah oleh sisa hujan. Di dadanya, kata-kata yang tadi diucapkan Mentari bergema, seakan menuntut jawaban yang lebih dalam.

"Mengapa berat mengungkapkan cinta? Padahal ia ada…" pikir Resa.

Ia merasakan betul, cinta itu hadir di setiap detik kebersamaan mereka. Dalam rinai hujan yang menetes di jendela, dalam terang bulan yang menyinari wajah Mentari, bahkan dalam sendu yang kadang menyelinap di sela percakapan mereka.

Resa tahu, yang membuatnya sulit bukan karena cinta itu tak nyata, melainkan karena ia begitu berharga. Mengaku cinta berarti membuka pintu rapuh dalam dirinya, pintu yang bisa saja membuatnya kehilangan kendali. Namun justru di situlah cinta terasa paling hidup dalam rindu yang menyesakkan, dalam dendam yang tak pernah benar-benar ada, dalam hening malam yang membuatnya terus memikirkan Mentari.

Mentari menatapnya, matanya basah, namun senyumnya perlahan merekah. Malam itu, di bawah cahaya bulan dan sisa hujan, Resa akhirnya berani mengaku: cinta yang selama ini ia simpan, kini telah menemukan suaranya

Mentari menatap Resa dengan hati yang bergejolak. Ia tahu, perasaan itu nyata, cinta yang tumbuh diam-diam, mengakar semakin dalam. Namun, di balik tatapan hangatnya, ada keraguan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Aku mencintainya… tapi apakah aku berhak?" pikir Mentari.

Resa bukan sekadar lelaki yang membuatnya merasa hidup kembali, ia juga atasan yang setiap hari berhubungan dengannya dalam pekerjaan. Menyatukan cinta dengan karier bukan perkara mudah.

Bayangan masa lalu pun menghantui. Pernah gagal berumah tangga membuat Mentari lebih berhati-hati. Ia takut mengulang luka, takut anaknya menolak, takut orang tuanya tak memberi restu. Semua itu menjadi tembok yang menghalangi kata 'ya' keluar dari bibirnya.

Dengan suara pelan, Mentari akhirnya berkata, “Kak Resa… saya tidak bisa membohongi hati saya. Mungkin saya memang punya rasa yang sama. Tapi saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, tentang pekerjaan kita, tentang anakku, tentang orang tuaku. Saya ingin cinta ini berjalan dengan benar, bukan hanya karena rasa yang menggebu.”

Resa menatapnya, tidak kecewa, justru semakin lembut. “Saya mengerti, Mentari."

Lihat selengkapnya