Pagi itu Resa keluar dari ruangannya dengan wajah sedikit bingung. Meja Mentari kosong, tak ada tanda-tanda kehadirannya. Ia langsung menghampiri Jessica, HRD sekaligus teman lama yang sudah klop banget dengannya.
“Jess, Mentari ke mana? Kok nggak kelihatan dari tadi?” tanya Resa dengan nada santai tapi jelas penasaran.
Jessica menoleh sambil tersenyum tipis. “Oh, dia udah izin, Res. Dia ambil cuti tiga hari. Katanya harus pulang ke kampung, ada urusan keluarga yang mesti diberesin.”
Resa mengernyit, lalu bersandar di meja Jessica. “Serius? Nggak bilang sama aku…”
Jessica terkekeh, nada suaranya ringan. “Ya namanya juga cuti resmi, Res. Dia lapornya ke HRD. Lagian kamu kan bosnya, bukan diary-nya dia.”
Resa hanya menghela napas, mencoba menutupi rasa gelisah. “Hmm… iya juga sih. Tapi aneh aja, tiba-tiba pergi gitu.”
Jessica menatapnya dengan tatapan penuh arti, seolah tahu ada sesuatu di balik kebingungan Resa. “Res, kamu tuh kelihatan banget lagi mikirin dia. Santai aja, mungkin memang ada hal penting yang harus dia urus. Jangan terlalu dipikirin sampai bikin kamu nggak fokus kerja.”
Resa tersenyum tipis, meski hatinya masih penuh tanda tanya. “Ya, semoga aja begitu.”
Suasana di kantor tetap berjalan normal, tapi bagi Resa, ketidakhadiran Mentari terasa seperti ruang kosong yang sulit diisi.
Malam itu, setelah berjam-jam mencoba menahan diri, Resa akhirnya tak kuasa. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan, lalu mengetik singkat:
"Tar, kamu baik-baik saja? Aku cuma ingin tahu kabar kamu."
Pesan itu terkirim, layar ponsel menampilkan tanda centang. Resa menunggu, menatap layar seolah jawaban akan muncul seketika. Lima menit berlalu, sepuluh menit, hingga satu jam, tak ada balasan.
Ia mencoba lagi, kali ini lebih panjang:
"Aku tahu kamu butuh waktu. Tapi jangan diam begini. Setidaknya kasih tahu aku kalau kamu baik-baik saja."
Namun tetap sama, pesan itu hanya terkirim tanpa jawaban. Resa mulai gelisah, berjalan mondar-mandir di ruang tamunya. Gengsi membuatnya tak mau menelepon, tapi hatinya semakin resah.
Ia duduk kembali, menatap ponsel yang sunyi. “Kenapa harus begini… apa dia benar-benar ingin menjauh?” gumamnya lirih.
Malam itu, Resa bergulat dengan rasa kecewa dan ketidakpastian. Ia sadar, mungkin keheningan Mentari adalah cara perempuan itu menegaskan keputusan yang sudah diucapkan. Tapi di dalam hatinya, Resa masih berharap ada satu pesan balasan yang bisa memberi sedikit kelegaan.
Mentari tiba di kampung dengan wajah letih, membawa hati yang masih penuh luka. Di rumah orang tuanya, suasana lebih tenang, tapi pikirannya tetap bergejolak. Malam itu ia duduk di teras bersama Lica, sahabat lamanya yang sudah mengenalnya sejak kecil.
Lica menatap Mentari dengan penuh rasa ingin tahu. “Kamu kelihatan capek banget, Tar. Ada apa sebenarnya?”
Mentari menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. “Aku… selama dua tahun ini sebenarnya punya hubungan sama Resa, atasan ku di kantor. Diam-diam, nggak ada yang tahu di kantor. Dia baik, sabar, bahkan pernah ngajak aku menikah. Tapi aku… aku masih takut, Lic. Aku belum siap untuk menikah lagi.”
Lica terdiam, matanya melebar. “Dua tahun? Kamu nggak pernah cerita sebelumnya. Kenapa harus sembunyi?”
Mentari menunduk, jemarinya meremas ujung kain yang ia kenakan. “Karena aku nggak mau orang lain tahu. Aku takut jadi bahan omongan. Dan aku juga nggak yakin bisa melangkah sejauh itu. Resa serius, dia pengen kepastian. Tapi aku… aku malah memilih mundur. Di kantor Lic, tau kan aku ibu tunggal yang masih butuh biaya untuk Haely.”
Lica meraih tangan Mentari, menggenggamnya erat. “Aku ngerti, Tar. Kamu masih trauma, kan? Tapi kamu juga harus jujur sama diri sendiri. Kalau memang sayang, jangan biarkan rasa takut terus menguasai.”
Air mata Mentari jatuh, ia mengangguk pelan. “Aku sayang dia, Lic. Tapi aku nggak bisa bohong… bayangan masa lalu masih menghantui. Aku nggak mau terburu-buru, aku juga takut Resa cuma bisa menerima aku, bukan menerima Hailey seperti anak kandungnya.”
Di teras rumah yang tenang, Lica menatap Mentari dengan penuh empati setelah mendengar seluruh cerita. Ia menggenggam tangan sahabatnya erat, lalu berkata dengan suara lembut namun tegas:
“Tar, aku ngerti kamu masih takut. Luka lama itu memang nggak gampang hilang. Tapi jangan sampai rasa takut bikin kamu nutup diri selamanya. Kamu berhak bahagia lagi, kamu berhak punya masa depan yang kamu pilih sendiri.”
Mentari menunduk, air matanya jatuh pelan. “Aku cuma takut mengulang kesalahan, Lic. Aku nggak mau gagal lagi.”
Lica menggeleng, senyumnya hangat. “Kesalahan itu bagian dari hidup. Tapi kamu nggak bisa terus bersembunyi. Kalau kamu memang sayang sama Resa, jangan biarkan rasa takut jadi alasan untuk menjauh. Dan kalau kamu memang belum siap, setidaknya jangan menutup pintu selamanya. Pelan-pelan, kamu bisa belajar percaya lagi.”
Mentari terdiam, kata-kata Lica menembus hatinya. Ada rasa lega karena akhirnya ia bisa berbagi, tapi juga muncul kesadaran bahwa ia tak bisa terus berlari dari kenyataan.
Malam itu, di kampung halaman, Mentari mulai menata hati dengan nasihat sahabatnya. Ia tahu perjalanan masih panjang, tapi setidaknya ia punya seseorang yang mengingatkan bahwa cinta tidak selalu harus ditakuti, kadang cukup dijalani dengan keberanian kecil, satu langkah demi satu langkah.
Pagi itu Mentari sudah kembali ke kantornya dengan muka yang sedikit masam. Resa menatap Mentari dengan wajah dingin, nada suaranya penuh ketegasan. “Kamu pikir gampang ya, tiba-tiba cuti tanpa kabar? Aku kirim pesan berkali-kali, tapi kamu nggak balas. Apa memang segitu nggak pentingnya aku di mata kamu?”
Mentari menarik napas, berusaha tetap tenang. “Aku izin ke Kak Jess karena urusan pekerjaan kita sudah selesai. Jadi aku rasa nggak perlu lapor ke kamu lagi.” Jawabannya singkat, tapi cukup untuk membuat suasana makin tegang.
Resa terdiam sejenak, matanya menajam, seolah mencoba membaca isi hati Mentari. Ada rasa tersinggung, tapi juga terselip kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. “Kalau memang selesai, kenapa rasanya kamu justru menjauh? Aku cuma ingin tahu, bukan mau mengatur hidupmu.”
Mentari menunduk, hatinya bergejolak. Kata-kata Lica semalam kembali terngiang, tentang keberanian kecil, tentang tidak menutup pintu selamanya. Ia sadar, mungkin inilah saatnya untuk berhenti bersembunyi.
Dengan suara pelan, ia berkata, “Aku butuh waktu, Kak. Bukan berarti aku nggak peduli. Aku cuma… belum siap.”
Adegan itu menjadi titik awal baru, bukan penyelesaian, tapi sebuah jeda yang memberi ruang bagi Mentari untuk menata hati, dan bagi Resa untuk belajar menahan ego.
Suasana kantor pagi itu mendadak riuh ketika Mentari dan Tasya hampir bersamaan terjatuh di lorong dekat meja kerja. Tasya tersandung kabel yang menjuntai, sementara Mentari ikut kehilangan keseimbangan dan kakinya terkilir.
Resa yang melihat kejadian itu langsung berlari, namun langkahnya terarah ke Tasya. Ia menolong Tasya berdiri, menanyakan apakah baik-baik saja, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mentari.
"Tasya ga kenapa-kenapa kan?"
Mentari yang masih duduk di lantai, menahan perih di pergelangan kakinya, merasakan sesak di dada. Bukan hanya sakit fisik, tapi juga luka hati melihat perhatian Resa yang seolah sudah tak peduli lagi padanya. Air mata hampir jatuh, namun ia buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan perasaan itu.
Otto yang kebetulan lewat segera menghampiri, diikuti Cintya. “Mentari, kamu nggak apa-apa? Sini, aku bantu,” kata Otto sambil meraih tangannya. Cintya menunduk, memeriksa kaki Mentari dengan cermat. “Kayaknya terkilir, kamu harus istirahat dulu. Jangan dipaksa jalan.”
Dengan bantuan Otto dan Cintya, Mentari akhirnya bisa duduk di kursi dekat meja. Ia berterima kasih dengan suara lirih, sementara matanya masih sempat melirik ke arah Resa yang sibuk menenangkan Tasya.
Di dalam hati, Mentari tahu luka itu bukan hanya karena jatuh, melainkan karena rasa yang tak lagi disambut. Namun ia juga sadar, mungkin inilah saatnya benar-benar belajar melepaskan, atau setidaknya berhenti berharap pada seseorang yang sudah memilih untuk menaruh perhatiannya di tempat lain.
Otto dan Cintya segera membawa Mentari ke klinik kantor. Langkah mereka tergesa, sementara Mentari berusaha menahan sakit di pergelangan kakinya. Sesampainya di klinik, tenaga medis langsung memeriksa kondisi Mentari. Ada beberapa luka lebam di bagian kaki, dan pergelangan yang jelas terkilir.
Saat perawat membalut kakinya dengan hati-hati, tiba-tiba tangis Mentari pecah. Air matanya mengalir deras, bukan semata karena rasa sakit fisik, melainkan karena luka batin yang jauh lebih dalam. Otto dan Cintya saling berpandangan, bingung dengan reaksi sahabat mereka.
“Mentari… kamu kenapa? Apa sakitnya terlalu parah?” tanya Cintya dengan suara lembut. Otto menepuk bahunya, mencoba menenangkan.
Mentari hanya menggeleng, suaranya bergetar di sela tangis. “Bukan… bukan cuma sakit ini. Rasanya… aku nggak dianggap lagi.”
Otto dan Cintya terdiam, tak sepenuhnya memahami maksud Mentari. Mereka tahu ada sesuatu yang lebih besar di balik air mata itu, sesuatu yang berkaitan dengan Resa. Namun, mereka memilih untuk tidak mendesak. Otto hanya berkata pelan, “Kalau kamu butuh cerita, kami ada di sini. Jangan dipendam sendiri.”
Tangis Mentari semakin deras, tapi di balik itu ada sedikit rasa lega. Setidaknya, ia tidak sendirian. Meski perhatian Resa kini bukan lagi untuknya, Otto dan Cintya menunjukkan bahwa masih ada orang-orang yang peduli, yang siap menopang ketika ia jatuh.
Resa awalnya sibuk di meja kerjanya, masih berbincang dengan Tasya tentang insiden tadi. Namun ketika ia mendengar kabar bahwa Mentari dibawa ke klinik kantor, ada sesuatu yang bergetar di hatinya. Rasa bersalah perlahan muncul, menyadarkan bahwa ia terlalu cepat mengabaikan kondisi Mentari.
Dengan langkah tergesa, Resa menuju klinik. Begitu masuk, ia melihat Mentari duduk di kursi periksa, kakinya dibalut perban, wajahnya masih basah oleh air mata. Otto dan Cintya berdiri di sampingnya, berusaha menenangkan.
Resa terdiam di ambang pintu, hatinya berdesir. Ia menyadari betapa rapuh Mentari terlihat saat itu, dan betapa sikapnya tadi telah melukai lebih dalam dari yang ia bayangkan. Perlahan ia mendekat, suaranya rendah, penuh penyesalan.
Resa akhirnya memberanikan diri masuk ke ruangan klinik. Otto dan Cintya yang sedari tadi mendampingi Mentari saling berpandangan, lalu dengan cepat berkata, “Kamu istirahat dulu ya. Resa, tolong jagain dia sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban, keduanya bergegas keluar, meninggalkan Resa dan Mentari berdua dalam suasana yang hening.
Resa mendekat, langkahnya ragu. Ia melihat perban di kaki Mentari, wajah yang masih basah oleh air mata, dan hatinya terasa semakin berat. “Aku… aku benar-benar minta maaf, Mentari,” ucapnya pelan. “Aku salah tadi. Aku terlalu cepat mengabaikanmu.”
Mentari menunduk, berusaha menahan emosi yang masih tersisa. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak, ingin menunjukkan betapa sakit hatinya, tapi ada juga bagian yang merindukan perhatian Resa. Suasana klinik terasa sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani. Mentari perlahan mengangkat wajahnya, menatap Resa dengan mata yang masih berkaca-kaca. Ada luka, ada ragu, tapi juga ada secercah harapan yang mulai muncul kembali.
Mentari duduk termenung di klinik kantor, pikirannya berputar pada satu kenyataan: ia dan Resa sudah berakhir. Hubungan itu resmi putus, tapi rasa yang tersisa tak pernah benar-benar hilang.
Resa menatapnya dari kursi sebelah, ragu untuk bicara. Ada jarak yang jelas, tapi juga ada tarikan halus yang membuatnya sulit berpaling. “Kita memang sudah selesai,” ucap Resa pelan, seolah mengakui kenyataan yang tak bisa dihindari. “Tapi entah kenapa… aku masih ingin kembali.”
Mentari menutup mata, air mata kembali mengalir. “Aku juga merasakan hal yang sama. Aku bilang ke diriku sendiri, kita selesai. Tapi hatiku masih saja mencari kamu. Dan setiap kali aku mencoba melupakan, bayanganmu tetap mengintai.”
Suasana klinik menjadi saksi kejujuran yang selama ini tertahan. Luka di kaki Mentari seolah tak sebanding dengan luka di hatinya, sementara Resa mulai menyadari bahwa perasaan mereka belum benar-benar padam.
Resa meraih tangan Mentari, ragu tapi tulus. “Kalau memang masih ada rasa… mungkin kita bisa pelan-pelan. Aku nggak janji semuanya akan mudah, tapi aku janji akan berusaha.”
Mentari menatapnya, matanya penuh keraguan sekaligus harapan. “Aku takut, Kak. Tapi mungkin… aku juga ingin mencoba lagi.”
Hari-hari setelah insiden di klinik menjadi awal yang berbeda bagi Resa dan Mentari. Mereka memang sudah putus, tapi ada rasa yang tak bisa dipungkiri: keinginan untuk kembali, meski perlahan.
Resa mulai menunjukkan perhatian kecil yang dulu sering ia abaikan. Ia menanyakan kondisi kaki Mentari setiap pagi, memastikan ia tidak memaksakan diri berjalan terlalu jauh. Kadang ia membawa segelas teh hangat ke meja Mentari, tanpa banyak kata, hanya sebuah isyarat bahwa ia masih peduli.
Mentari, meski hatinya masih penuh luka, mulai membuka sedikit ruang. Ia tidak langsung membalas dengan kehangatan, tapi ia juga tidak lagi menutup diri sepenuhnya. Senyum tipis, ucapan terima kasih singkat, menjadi tanda bahwa ia bersedia memberi kesempatan.
Mentari sendiri masih sering bergulat dengan rasa takut. Ia ingat nasihat Lica: cinta tidak selalu harus ditakuti, kadang cukup dijalani dengan keberanian kecil. Maka setiap kali Resa mendekat, ia mencoba melangkah satu langkah kecil, menerima perhatian, membiarkan dirinya kembali percaya, meski perlahan.
Resa pun belajar menahan egonya. Ia tidak lagi menuntut jawaban cepat, tidak memaksa Mentari untuk segera kembali seperti semula. Ia tahu, jika memang ingin membangun kembali, jalannya harus sabar, penuh kesadaran, dan dimulai dari hal-hal sederhana.
Beberapa minggu setelah insiden di kantor, kaki Mentari akhirnya pulih. Ia sudah bisa berjalan normal, meski masih berhati-hati. Resa yang selama ini mencoba menunjukkan perhatian kecil, akhirnya memberanikan diri mengajak Mentari keluar dari rutinitas kantor.
“Mentari,” ucap Resa suatu sore, “kamu sudah lama kelihatan penat. Gimana kalau weekend ini kita refreshing? Nggak jauh-jauh, hiking tipis-tipis di gunung dekat kota. Udara segar mungkin bisa bikin kamu lebih rileks.”
Mentari sempat terdiam. Ada keraguan, tapi juga rasa hangat mendengar ajakan itu. Ia tahu, ini bukan sekadar jalan-jalan, melainkan usaha Resa untuk membangun kembali kedekatan mereka. “Hiking tipis-tipis?” tanyanya sambil tersenyum kecil. “Kamu yakin aku sanggup?”
Resa mengangguk mantap. “Aku yakin. Kita nggak perlu buru-buru, jalannya santai saja. Aku cuma ingin kita punya waktu berdua, tanpa gangguan kantor, tanpa beban.”
Akhirnya, Mentari menerima. Hari itu tiba, mereka berangkat pagi-pagi, membawa bekal sederhana. Jalur pendakian ringan dengan pepohonan rindang dan udara sejuk menyambut mereka.
Di sepanjang jalan, Resa sesekali menawarkan tangan untuk membantu Mentari melewati batu atau jalan menanjak. Mentari, meski awalnya canggung, mulai merasa nyaman. Senyum yang dulu jarang muncul kini kembali menghiasi wajahnya.
Saat mereka sampai di puncak kecil dengan pemandangan lembah hijau, Resa duduk di samping Mentari. “Aku tahu kita sudah pernah selesai,” katanya pelan, “tapi aku ingin kita punya kesempatan baru. Bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk membangun sesuatu yang lebih baik. Tar, its oke kalau kamu nggak mau bawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius, tapi tolong ya kita tetap sepeti ini”
Mentari menatap hamparan alam di depan mereka, lalu menoleh ke Resa. “Aku juga ingin mencoba. Pelan-pelan saja, Kak. Aku nggak mau terburu-buru, tapi aku mau memberi kesempatan.”
Di bawah langit biru dan angin gunung yang sejuk, mereka berdua menemukan awal baru. Bukan janji besar, melainkan langkah kecil yang penuh keberanian, seperti hiking tipis-tipis itu, perlahan tapi pasti, menuju puncak yang lebih tinggi.
Di puncak kecil itu, dengan angin gunung yang sejuk menyapu wajah mereka, Resa akhirnya memberanikan diri mengucapkan sesuatu yang selama ini ia simpan. Ia menatap Mentari dengan mata yang sungguh-sungguh, lalu berkata pelan:
“Mentari… aku tahu kita pernah saling menjauh. Tapi justru dari semua itu aku sadar, aku nggak bisa bayangkan hidup tanpa kamu. Aku ingin menikahimu bukan karena aku takut kehilangan, tapi karena aku ingin membangun hidup bersamamu. Aku ingin ada di sisimu, bukan hanya di saat senang, tapi juga di saat kamu rapuh, jatuh, bahkan ketika kamu merasa sendiri.”
Mentari terdiam, hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. Resa melanjutkan, suaranya penuh ketulusan:
“Aku ingin menikahimu karena kamu adalah rumah buatku. Kamu yang membuat aku belajar sabar, belajar peduli, dan belajar bahwa cinta itu bukan sekadar rasa, tapi juga komitmen. Aku ingin kita melangkah bersama, pelan-pelan, sampai akhirnya kita bisa berdiri di satu titik yang sama, sebagai pasangan, bukan lagi sekadar kenangan.”
Air mata Mentari menetes, kali ini bukan karena luka, melainkan karena haru. Ia menatap Resa, senyum tipis muncul di wajahnya. “Kak Resa… aku masih takut. Tapi mendengar semua ini, aku juga merasa… mungkin aku siap mencoba. Kalau memang kamu serius, aku ingin kita membangun lagi, dengan cara yang lebih dewasa.”
Di bawah langit biru itu, ucapan Resa menjadi janji awal. Bukan janji besar yang muluk, melainkan janji sederhana: untuk mencintai dengan keberanian, dan untuk menjadikan Mentari bukan hanya bagian dari masa lalu, tapi masa depan.