Siang itu, Mentari datang ke ruang HRD dengan langkah mantap, meski hatinya sedikit berdebar. Jessica, kepala HRD yang sudah cukup lama mengenalnya, menyambut dengan senyum ramah.
“Mentari, ada yang bisa aku bantu?” tanya Jessica sambil mempersilakan duduk.
Mentari menarik napas, lalu menyerahkan sebuah amplop berisi surat pengunduran diri. “Kak Jess, aku mau mengajukan resign. Aku sudah pikirkan keputusan ini baik-baik.”
Jessica tampak terkejut. “Resign? Kamu kan salah satu karyawan yang cukup berprestasi di sini. Apa ada masalah?”
Jessica menatap Mentari dengan dahi sedikit berkerut, mencoba membaca situasi. “Resign mendadak begini biasanya ada sesuatu, Mentari. Kamu yakin nggak ada masalah di divisi kamu? Atau… jangan-jangan ada tekanan dari Resa, kan dia atasanmu yang terkenal rese?”
Mentari sempat terdiam, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan suasana. “Nggak, Kak Jess. Nggak ada masalah sama sekali di divisi. Kak Resa juga nggak pernah menekan aku. Justru dia selalu profesional. Keputusan ini murni dari aku sendiri.”
Jessica masih tampak penasaran. “Aku cuma khawatir aja. Kamu kan salah satu orang yang cukup berprestasi. Sayang kalau keluar karena alasan yang sebenarnya bisa diatasi.”
Mentari menatap Jessica dengan tenang. “Aku paham sih kak. Tapi aku memang pengen cari suasana baru. Aku merasa waktunya aku berkembang di tempat lain. Jadi bukan karena ada masalah, bukan juga karena tekanan siapa pun.”
Jessica akhirnya mengangguk, meski masih terlihat berpikir. “Baiklah, kalau memang itu keputusanmu. Aku akan proses surat resign ini. Tapi aku harap kamu tetap sukses di tempat baru. Kamu punya potensi besar, Mentari.”
Mentari tersenyum lega. “Terima kasih, Kak Jess. Aku juga berharap bisa terus berkarya, di mana pun nanti aku berada.”
Percakapan itu berakhir dengan suasana yang cukup hangat, meski Jessica masih menyimpan rasa penasaran. Ia tidak tahu bahwa di balik keputusan Mentari, ada alasan pribadi yang belum terungkap: hubungan diam-diam dengan Resa yang akan segera berlanjut ke pernikahan.
Siang itu di kantin kantor, Resa duduk bersama Jessica dan Otto. Mereka bertiga sedang menikmati makan siang, suasana awalnya santai. Namun Jessica tiba-tiba membuka topik yang membuat Resa sedikit kaget.
Jessica menatap Resa dengan penuh rasa ingin tahu. “Resa, aku mau nanya. Mentari kan baru aja ngajuin resign. Entah kenapa feeling aku kuat banget, kayaknya kamu ada hubungannya sama keputusan dia.”
Otto yang sedang menyendok nasi langsung menoleh, kaget. “Lho, maksudnya gimana, Jess? Mentari Resign?"
Jessica mengangkat alis. “Ya aku cuma menduga. Soalnya Mentari itu karyawan berprestasi, tiba-tiba resign tanpa alasan jelas. Dia bilang mau cari tempat baru, tapi aku rasa ada sesuatu. Dan karena kamu atasannya, aku nggak bisa nggak mikir kalau kamu ada di balik itu.”
Resa terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis berusaha menenangkan suasana. “Jess, aku ngerti kenapa kamu mikir begitu. Tapi jujur, aku nggak pernah menekan Mentari. Dia kerja bagus, profesional, dan aku selalu hargai itu. Keputusan resign itu murni dari dia sendiri.”
Otto ikut menimpali, mencoba meredakan ketegangan. “Iya Jess, aku juga lihat sendiri selama hampir empat tahun ini Mentari nyaman kok di divisinya. Resa nggak pernah bikin masalah sama timnya. Mentari mungkin memang punya alasan pribadi.”
Jessica masih tampak ragu, tapi akhirnya menghela napas. “Ya, mungkin aku terlalu banyak mikir. Cuma sayang aja kalau dia keluar. Aku harap memang nggak ada tekanan dari siapa pun.”
Resa menatap Jessica dengan tenang. “Aku bisa pastikan itu. Mentari orang yang tahu apa yang dia mau. Kalau dia bilang ingin berkembang di tempat lain, aku percaya itu keputusan terbaik buat dia.”
Percakapan itu berakhir dengan suasana sedikit canggung, tapi Resa berhasil menjaga sikap profesional. Dalam hatinya, ia tahu Jessica punya insting yang cukup tajam, namun ia juga sadar bahwa rahasia hubungannya dengan Mentari belum saatnya terungkap di kantor.
Otto, yang juga mantan atasan Mentari, ikut angkat bicara dengan nada menyayangkan. “Sayang banget kalau Mentari keluar. Dia itu salah satu karyawan paling cerdas yang pernah aku bimbing. Selain pintar, dia juga punya kepribadian yang menyenangkan. Jujur aja, aku sering kagum sama cara dia menyelesaikan masalah. Dan ya… nggak bisa dipungkiri, dia juga cantik.”
Jessica menghela napas, masih terlihat ragu. “Aku cuma nggak mau ada hal-hal yang bikin orang keluar karena tekanan. Tapi kalau kamu bilang nggak ada masalah, ya aku harap memang begitu.”
Resa menatap Otto dan Jessica dengan tenang. “Aku hargai perhatian kalian. Mentari memang punya alasan pribadi, dan aku rasa kita harus menghormati keputusannya. Dia orang yang tahu apa yang dia mau.”
Otto mengangguk pelan, masih tampak berat melepas sosok yang menurutnya berharga. “Ya, aku cuma berharap dia bisa tetap bersinar di tempat baru. Dia layak dapat kesempatan besar.”
Saat itu, Resa, Jessica, dan Otto masih duduk di kantin, suasana agak canggung setelah Jessica menuduh Resa sebagai penyebab resign-nya Mentari. Tiba-tiba, Mentari lewat bersama Chintya.
Chintya langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Resa dan Jessica didepan meja mereka. “Mentari… jadi bener kamu resign?” suaranya terdengar bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
Mentari tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Iya, Chintya. Aku udah kasih surat resign ke HRD tadi siang. Aku udah pikirkan ini baik-baik.”
Chintya, yang merupakan teman pertama Mentari di kantor, tampak benar-benar terkejut. “Tapi kamu baru cerita pagi ini… aku masih nggak percaya. Kamu kan selalu bilang betah di sini. Kenapa harus berhenti?”
Mentari meraih tangan Chintya, menatapnya lembut. “Aku punya alasan pribadi, Chintya. Aku pengen cari suasana baru, tempat yang bisa bikin aku berkembang tanpa beban. Aku harap kamu bisa ngerti.”
Air mata Chintya akhirnya jatuh. “Aku sedih banget, Tar. Kamu teman pertama aku di kantor ini. Rasanya berat kalau nanti nggak ada kamu.”
Otto yang duduk di meja kantin ikut menimpali dengan nada penuh penyesalan. “Aku juga menyayangkan keputusanmu, Mentari. Kamu itu salah satu karyawan paling cerdas yang pernah aku bimbing. Selain pintar, kamu juga punya kepribadian yang menyenangkan… dan jujur, kamu cantik. Sayang banget kalau harus kehilangan kamu di tim ini.”
Jessica hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya, semakin yakin bahwa ada sesuatu di balik keputusan Mentari. Sementara Resa berusaha menjaga ekspresi tetap tenang, meski dalam hatinya ia tahu Jessica makin curiga.
Mentari tersenyum pada Chintya, lalu memeluknya erat. “Aku juga berat ninggalin kamu, Chintya. Tapi kita masih bisa ketemu di luar kantor. Persahabatan kita nggak berhenti di sini.”
Adegan itu membuat suasana kantin penuh emosi: ada rasa kehilangan, curiga, dan juga kehangatan. Resa hanya bisa menatap Mentari dari jauh, bangga sekaligus khawatir, karena rahasia hubungan mereka semakin sulit disembunyikan.
-----
Hari perpisahan Mentari dengan teman-teman sekantornya akhirnya tiba. Ruang meeting yang biasanya dipakai untuk rapat kini dipenuhi suasana haru. Beberapa rekan kerja sudah tahu kabar resign-nya, tapi tetap saja momen ini terasa berat.
Chintya duduk di samping Mentari, matanya masih merah karena menangis sejak pagi. “Aku masih nggak percaya kamu beneran resign, Tar. Kamu kan teman pertama aku di kantor ini. Rasanya kayak kehilangan saudara.”
Mentari tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Chintya. “Aku juga berat ninggalin kamu, Chintya. Tapi aku yakin persahabatan kita nggak berhenti di sini. Kita masih bisa ketemu di luar kantor, masih bisa cerita-cerita.”
Otto, mantan atasannya, ikut bicara dengan nada penuh penyesalan. “Mentari, aku benar-benar menyayangkan keputusanmu. Kamu itu salah satu karyawan paling cerdas yang pernah aku bimbing. Selain pintar, kamu juga punya kepribadian yang menyenangkan. Jujur aja, aku sering kagum sama kamu. Dan ya… kamu cantik, itu bikin kamu selalu menonjol di tim.”
Jessica menatap Mentari dengan senyum hangat, meski masih menyimpan rasa penasaran. “Aku harap kamu sukses di tempat baru. Kamu punya potensi besar, Tar. Jangan pernah ragu untuk terus berkarya.”
Mentari menunduk, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih semuanya. Aku nggak akan pernah lupa pengalaman di sini. Kalian bukan cuma rekan kerja, tapi juga keluarga. Aku pamit, tapi aku percaya hubungan baik kita tetap jalan.”
Resa, yang ikut hadir, berdiri di depan bersama Jessica dan Otto. Dengan nada tulus, ia berkata, “Aku ingin berterima kasih atas kinerja Mentari selama ini. Dia bukan hanya rekan kerja yang profesional, tapi juga sosok yang selalu memberi energi positif di tim. Aku bangga pernah bekerja bersamanya.”
Mentari menunduk, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Kak Resa. Terima kasih juga buat semua teman-teman. Aku nggak akan pernah lupa kebersamaan kita di sini.”
Setelah itu, satu per satu rekan kerja perempuan menghampiri Mentari untuk memeluknya. Jessica ikut memeluk erat, lalu Chintya yang sejak pagi masih berlinang air mata juga memeluknya sambil berbisik, “Aku bakal kangen banget sama kamu, Tar.”
Mentari tersenyum sambil menenangkan, “Aku juga kangen sama kamu, Chintya. Tapi kita masih bisa ketemu di luar kantor, ya.”
Beberapa rekan perempuan lain ikut memeluknya bergantian. Suasana benar-benar penuh emosi.
Di tengah momen itu, Otto berseloroh sambil tertawa kecil, “Eh, kok yang cewek-cewek aja yang dipeluk? Aku juga mau dong dipeluk sama Mentari, biar nggak kalah.”
Semua orang tertawa mendengar candaan Otto. Resa pun ikut menimpali dengan nada menggoda, “Wah, kalau gitu aku juga harus ikut antri, nih. Jangan sampai Otto aja yang dapat pelukan spesial.”
Mentari tersipu, lalu tertawa bersama mereka. Suasana yang tadinya penuh air mata berubah jadi hangat dan penuh canda. Perpisahan itu bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang kenangan indah yang akan selalu mereka bawa masing-masing.
Setelah acara perpisahan di kantor selesai, Mentari berjalan keluar dengan mata yang masih sedikit berkaca-kaca. Di depan lobi, Resa sudah menunggunya. Begitu melihat Mentari, ia langsung berdiri dan menyambut dengan senyum hangat.
“Capek banget ya, Sayang?” tanya Resa sambil meraih tangannya.
Mentari menghela napas panjang. “Iya… rasanya berat banget ninggalin mereka. Chintya sampai nangis tadi, Kak Jessica juga kelihatan sedih. Kak Otto malah sempat bercanda minta dipeluk biar nggak kalah sama yang lain.”
Resa tertawa kecil, mengingat momen itu. “Iya, aku dengar. Makanya aku ikutan berseloroh juga. Tapi jujur, aku senang lihat kamu begitu dicintai sama teman-teman kantor. Itu bukti kamu ninggalin jejak yang baik.”
Mentari tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Resa. “Aku juga senang, meski berat banget. Mereka udah kayak keluarga kedua buat aku.”
Resa menatapnya penuh rasa sayang, lalu berkata pelan, “Aku mau berterima kasih lagi, Tar. Kamu rela ninggalin semua itu demi hubungan kita dan karier aku. Itu pengorbanan besar, dan aku nggak akan pernah lupa. Aku janji, aku bakal bikin semua ini sepadan.”
Mentari menatapnya dengan mata lembut. “Aku nggak anggap ini pengorbanan. Aku anggap ini pilihan. Pilihan untuk kita bisa tenang, untuk masa depan kita. Selama kita saling dukung, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”
Resa menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu tahu nggak? Setiap kali kamu bilang ‘kita tim’, aku merasa lebih kuat. Aku nggak sendirian. Dan aku janji, aku akan selalu ada buat kamu, sama seperti kamu ada buat aku.”
Mereka berjalan bersama menuju mobil, dengan hati yang lebih ringan. Meski perpisahan di kantor terasa berat, percakapan itu membuat Mentari yakin bahwa langkah yang ia ambil adalah awal dari perjalanan baru yang penuh cinta dan komitmen.
Setelah Mentari resign, siang itu, Resa mengetuk pintu ruang HRD dan masuk dengan wajah tenang. Jessica, yang sedang sibuk dengan berkas, langsung menoleh.
“Ada apa?,” ucap Jessica sambil tersenyum melihat sahabatnya datang sedang selembar kertas.