Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #13

Cahaya Baru

Hari itu, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, Mentari tetap bersikeras berangkat kerja. Ia bangun pagi dengan wajah masih pucat, namun berusaha menutupi kelemahannya dengan riasan tipis dan senyum kecil.

Resa menatapnya khawatir. “Tar, kamu belum sembuh. Kenapa harus memaksa? Kamu bisa istirahat dulu.”

Mentari menghela napas, lalu menjawab dengan nada mantap, “Aku tidak mau terlihat lemah. Aku baru kembali bekerja, posisiku di kantor menuntut tanggung jawab besar. Kalau aku sering absen, aku takut dianggap tidak profesional.”

Resa sebenarnya ingin menahan, tapi ia tahu Mentari punya tekad kuat. Untungnya, urusan rumah sudah banyak terbantu oleh dua ART mereka, Mbok Sum dan Mbak Narti. Hailey pun tetap terurus dengan baik, sehingga Resa tidak perlu terlalu repot mengurus semuanya sendiri.

Namun sepanjang hari, Resa tetap gelisah di kantor. Ia terus memikirkan kondisi Mentari, khawatir istrinya memaksakan diri terlalu jauh. Sementara itu, di kantor, Mentari berusaha menuntaskan pekerjaannya meski sesekali harus duduk menenangkan diri karena pusing dan mual masih datang. Rekan-rekan kerjanya sempat menyarankan untuk pulang lebih awal, tapi Mentari menolak dengan alasan ingin menunjukkan komitmen.

Malam harinya, ketika Resa pulang, ia mendapati Mentari tampak sangat lelah. “Tar, aku tidak bisa lagi melihatmu seperti ini. Besok kamu harus istirahat penuh. Kalau perlu, kita ke dokter,” ucap Resa tegas namun penuh kasih.

Mentari hanya tersenyum lemah, menatap Resa dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu. Aku memang harus lebih menjaga diri. Tapi aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa.”

Momen itu menjadi titik genting: Resa mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan biasa, sementara Mentari masih berusaha menyeimbangkan ambisi dan kesehatan.

-----

Hari itu Mentari merasa tubuhnya lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya. Ia memutuskan untuk keluar sebentar, berjalan-jalan ke mall. Dengan senyum kecil, ia memilih sebuah smart watch yang sudah lama diinginkan Resa, sebagai hadiah ulang tahun yang tinggal dua hari lagi.

Setelah puas berbelanja, Mentari mampir ke sebuah apotek untuk membeli vitamin anak-anak, khusus untuk Hailey. Saat berdiri di depan rak obat, tiba-tiba pikirannya melayang: ia teringat bahwa sudah cukup lama tidak datang bulan. Perasaan aneh bercampur dengan rasa penasaran membuatnya berhenti sejenak.

Dengan hati berdebar, Mentari akhirnya mengambil sebuah tespack dari rak. Ia menggenggamnya erat, seolah benda kecil itu bisa membawa kabar besar. Dalam perjalanan pulang, pikirannya penuh dengan kemungkinan: apakah rasa mual dan pusing yang dialami beberapa waktu lalu bukan sekadar kelelahan, melainkan tanda lain?

Sesampainya di rumah, Mentari menyembunyikan tespack itu di tas belanjaannya. Ia ingin memastikan sendiri sebelum memberi tahu Resa. Malam itu, sambil menyiapkan hadiah ulang tahun untuk suaminya, ia juga menyiapkan keberanian untuk menghadapi kemungkinan kabar baru yang bisa mengubah hidup mereka.

Malam itu, setelah semua pekerjaan rumah selesai ditangani Mbok Sum dan Mbak Narti, Mentari masuk ke kamar mandi dengan hati berdebar. Ia membawa tespack yang tadi dibelinya di apotek, disembunyikan rapi agar tidak diketahui Resa.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka kemasan dan mengikuti petunjuk. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Ia duduk di tepi bathtub, menatap alat kecil itu dengan penuh harap sekaligus cemas.

Ketika hasil mulai muncul, mata Mentari berkaca-kaca. Dua garis tipis terlihat jelas. Ia menutup mulutnya, menahan teriakan haru. Air mata mengalir, bukan karena sakit, melainkan karena kebahagiaan yang tak terduga.

“Ya Tuhan… aku hamil,” bisiknya lirih, seolah tak percaya dengan kabar besar yang baru saja ia terima.

Mentari duduk lama di kamar mandi, mencoba menenangkan diri. Ia membayangkan wajah Resa, membayangkan bagaimana suaminya akan bereaksi saat mendengar kabar ini. Di satu sisi ia ingin segera memberitahu, tapi di sisi lain ia ingin menyiapkan momen yang indah, apalagi ulang tahun Resa tinggal dua hari lagi.

Dengan hati penuh rahasia manis, Mentari menyimpan tespack itu di laci kecil kamarnya. Malam itu ia tidur dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, menanti waktu yang tepat untuk berbagi kabar bahagia dengan Resa.

Pagi hari ulang tahun Resa akhirnya tiba. Mentari sudah menyiapkan rencana khusus untuk memberi kejutan kabar besar itu.

Saat Resa masih terlelap, Mentari bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sebuah kotak kecil berisi smart watch yang sudah lama diinginkan Resa. Namun di dalam kotak itu, ia menyelipkan sesuatu yang jauh lebih istimewa: hasil tespack dengan dua garis yang semalam membuatnya menangis bahagia.

Mentari menaruh kotak itu di meja samping tempat tidur, lalu duduk menunggu dengan senyum penuh rahasia. Begitu Resa mulai terbangun, ia berkata lembut, “Selamat ulang tahun, sayang. Aku punya hadiah spesial untukmu.”

Resa yang masih setengah mengantuk membuka kotak itu. Matanya langsung berbinar melihat smart watch, namun kemudian terhenti ketika melihat tespack di dalamnya. Ia menatap Mentari dengan wajah penuh kebingungan, lalu perlahan senyumnya melebar.

“Tar… ini… maksudnya?” tanyanya dengan suara bergetar.

Mentari mengangguk, air matanya menetes. “Ya. Aku hamil. Kita akan punya anak.”

Resa terdiam sejenak, lalu memeluk Mentari erat-erat. “Ya Tuhan… ini hadiah ulang tahun terindah sepanjang hidupku. Terima kasih, Tar. Aku benar-benar tidak bisa meminta apa-apa lagi.”

Resa masih duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari tespack dengan dua garis itu. Tangannya bergetar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat. Dalam hatinya, gejolak perasaan bercampur: bahagia, haru, sekaligus teringat masa lalu.

Ia menghela napas panjang, lalu teringat saat masih menikah dengan Vivie dulu. Bertahun-tahun mereka menunggu, berharap, berdoa, namun momongan tak kunjung datang. Rasa kecewa dan luka itu sempat membuatnya merasa tak lengkap sebagai seorang suami.

Kini, kurang dari setahun bersama Mentari, kabar besar itu datang begitu cepat. Resa menatap istrinya yang tersenyum penuh cinta, lalu kembali memandangi tespack itu. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan.

“Tar… aku benar-benar tidak percaya. Dulu aku sempat merasa tidak akan pernah jadi ayah. Tapi sekarang… Tuhan memberi kita anugerah ini,” ucapnya lirih, suaranya bergetar.

Mentari meraih tangannya, menggenggam erat. “Ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini tentang kita sekarang. Aku yakin, semua perjalananmu dulu adalah jalan menuju momen ini. Kita akan jadi orang tua, dan Hailey akan punya adik.”

Resa memeluk Mentari erat, seolah tak ingin melepaskan. Dalam pelukan itu, ia merasakan kehangatan yang menenangkan, sekaligus keyakinan bahwa hidupnya kini benar-benar lengkap.

Pagi itu, Resa dan Mentari duduk bersama Hailey di meja makan. Mentari sudah tak sabar ingin berbagi kabar bahagia. Ia menggenggam tangan Resa, lalu menatap putri kecil mereka dengan senyum hangat.

“Hailey,” ucap Mentari lembut, “Mama punya kabar penting. Sebentar lagi kamu akan punya adik.”

Hailey yang sedang sibuk dengan mainannya langsung berhenti, menatap kedua orang tuanya dengan mata berbinar. “Adik? Beneran, Ma? Jadi aku nggak sendirian lagi?”

Resa tersenyum, masih memegang tespack di tangannya seolah tak percaya. “Iya, sayang. Mama sedang hamil. Kamu akan jadi kakak.”

Hailey melonjak kegirangan, lalu memeluk Mentari erat. “Yeay! Aku jadi kakak! Aku janji akan sayang sama adikku, sama kayak aku sayang Mama dan Daddy.”

Resa tak kuasa menahan haru, matanya berkaca-kaca melihat reaksi polos putrinya. Dalam hati ia kembali teringat masa lalu penuh penantian, dan kini semua itu terbayar dengan kebahagiaan yang tak ternilai.

Mentari tersenyum sambil mengusap rambut Hailey. “Kamu kakak yang hebat, Hailey. Adikmu nanti pasti bahagia punya kakak sebaik kamu.”

Suasana pagi itu dipenuhi tawa dan pelukan hangat. Kabar kehamilan Mentari bukan hanya hadiah ulang tahun bagi Resa, tapi juga anugerah besar yang membuat keluarga kecil mereka semakin lengkap.

Beberapa hari setelah kabar kehamilan itu, Resa akhirnya berhasil membujuk Mentari untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mereka duduk berdua di ruang periksa, tangan Resa menggenggam erat tangan istrinya. Dokter tersenyum hangat, lalu berkata dengan nada serius, “Selamat, Bu Mentari. Kehamilan ini kabar baik, tapi ada sedikit risiko. Anda harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah, dan sebaiknya mengurangi aktivitas kerja yang berat.”

Mentari mengangguk pelan, mencoba menerima kabar itu dengan tenang. Namun dalam hatinya, ia masih merasa ingin tetap bekerja.

Sesampainya di rumah, suasana menjadi lebih tegang. Mama Resa kebetulan sedang berkunjung, duduk di ruang tamu ketika Resa langsung menyampaikan keinginannya. “Tar, aku mohon. Demi kesehatanmu dan bayi kita, berhentilah bekerja dulu. Dokter sudah bilang kamu harus banyak istirahat.”

Mentari menatap Resa, wajahnya penuh dilema. “Aku mengerti. Tapi aku baru saja kembali bekerja, aku punya tanggung jawab besar. Aku tidak mau terlihat lemah di mata timku. Dulu waktu hamil Hailey, aku juga bekerja penuh, its oke”

Resa menghela napas, nada suaranya mulai meninggi. “Ini bukan soal terlihat lemah, Tar. Ini soal nyawa kamu dan anak kita. Aku tidak mau ambisi membuatmu berisiko.”

Perdebatan kecil itu berlangsung di depan Mama Resa. Sang mama menatap keduanya dengan wajah serius. Suasana ruang tamu menjadi hening. Mentari menunduk, merasa bersalah, sementara Resa masih menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Mama Resa menjadi saksi bagaimana cinta dan ambisi kadang berbenturan, namun juga bagaimana keduanya harus belajar mencari keseimbangan demi masa depan keluarga.

Di ruang tamu sore itu, suasana masih tegang setelah Resa meminta Mentari berhenti bekerja demi kesehatan kandungannya. Mama Resa yang duduk di kursi rotan mencoba menengahi dengan suara lembut namun penuh wibawa.

“Res, aku tahu kamu khawatir. Itu wajar, karena kamu suami dan calon ayah. Tapi jangan sampai rasa khawatirmu membuat Mentari merasa tertekan. Ingat, kalian harus saling mendukung, bukan saling memaksa,” ucap Mama Resa sambil menatap keduanya bergantian.

Mentari menunduk, merasa bersalah. “Mentari mengerti, Mama. Mentari hanya ingin tetap bertanggung jawab di pekerjaan. Tapi saya juga tidak ingin membahayakan bayi ini.”

Resa menghela napas, masih dengan nada tegas. “Aku hanya ingin kamu sehat, Tar. Aku tidak mau kehilangan kamu atau anak kita.”

Mama Resa tersenyum tipis, lalu menambahkan nasihat bijak, “Kalian harus mencari jalan tengah. Mungkin Mentari bisa mengurangi jam kerja, atau sementara waktu bekerja dari rumah. Dengan begitu, kesehatan tetap terjaga, dan tanggung jawab tetap bisa dijalankan.”

Namun di balik senyumnya, hati Mama Resa bergejolak. Ia teringat ucapan Vivie dulu, yang sempat mengatakan bahwa sulitnya mendapatkan keturunan adalah karena Resa. Vivie bahkan mengaku sudah periksa ke dokter dan dinyatakan sehat. Dari situ Mama Resa dulu sempat yakin bahwa masalah ada pada putranya.

Kini, melihat Mentari hamil kurang dari setahun setelah menikah, Mama Resa terkejut sekaligus lega. Dalam hati ia berbisik, “Ternyata bukan Resa yang bermasalah. Tuhan memang punya rencana sendiri. Aku harus bersyukur, akhirnya anakku diberi keturunan.”

Suasana sore itu perlahan mencair. Meski perdebatan kecil masih menyisakan ketegangan, kehadiran Mama Resa dengan nasihat bijaknya membuat Resa dan Mentari mulai menyadari bahwa mereka harus saling mendukung, bukan saling menekan.

Setelah Mentari beristirahat di kamar, Mama Resa meminta Resa duduk bersamanya di teras rumah. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana terasa lebih tenang. Mama Resa menatap putranya dengan penuh kasih, lalu mulai membuka isi hati yang selama ini ia simpan.

“Resa,” ucapnya pelan, “Mama ingin bicara empat mata. Dulu, waktu kamu masih bersama Vivie, Mama sering mendengar keluhan. Vivie bilang kalian sulit punya anak, bahkan ia sempat meyakinkan Mama bahwa masalahnya ada di kamu. Katanya, ia sudah periksa ke dokter dan dinyatakan sehat. Saat itu, Mama sempat percaya… dan jujur, Mama merasa sedih.”

Resa terdiam, matanya menunduk. Ia tahu masa lalu itu menyisakan luka.

Lihat selengkapnya