Bulan dan Mentari

Gabriella Gunatyas
Chapter #14

Tangisan Pertama, Sunyi Terakhir

Resa benar-benar hancur setelah kehilangan Ibrahim. Perjuangannya untuk mendapatkan keturunan tidaklah mudah, dari mantan istrinya, Vivie bertahun-tahun ia menunggu, saat menikah dnegan Mentari ia berdoa, dan berusaha untuk mendapatkan momongan. Kehadiran Ibrahim selama 14 hari itu adalah cahaya yang sempat menyinari hidup mereka, meski akhirnya padam terlalu cepat.

Di rumah, Resa sering duduk termenung di kamar bayi yang sudah mereka siapkan. Mainan kecil, pakaian mungil, dan tulisan nama Ibrahim Fahressa di pintu kamar kini menjadi pengingat yang menyayat hati. Ia merasa kosong, seolah semua perjuangan yang dilalui runtuh begitu saja.

Mentari, meski sama-sama berduka, mencoba menguatkan suaminya. “Kita memang kehilangan Ibrahim, tapi jangan lupa, dia pernah hadir. Dia adalah bukti doa kita. Jangan biarkan rasa hancur ini membuatmu lupa bahwa kita masih punya Hailey, dan kita masih punya satu sama lain.”

Resa menatap istrinya dengan mata merah. “Aku tahu, Tar… tapi rasanya berat sekali. Aku sudah berjuang begitu lama untuk bisa jadi ayah. Dan ketika akhirnya aku merasakan itu, Allah mengambilnya kembali.”

Mentari menggenggam tangan Resa erat. “Mungkin Ibrahim memang dititipkan sebentar, untuk mengajarkan kita arti sabar dan ikhlas. Aku percaya, doa kita tidak akan sia-sia. Kita harus terus kuat, untuk Hailey, untuk masa depan kita.”

Resa mengangguk pelan, meski hatinya masih remuk. Ia sadar, perjalanan mereka belum selesai. Kehilangan Ibrahim adalah luka yang dalam, tapi juga menjadi titik balik: bagaimana ia dan Mentari akan bangkit, saling menguatkan, dan tetap menjaga cinta mereka agar tidak runtuh bersama duka. Setelah duka itu Mentari dan Resa akhirnya memutuskan untuk umrah.

Perjalanan umrah itu menjadi titik balik bagi Resa dan Mentari. Di Tanah Suci, mereka berdua berdiri di depan Ka’bah dengan air mata yang tak terbendung. Resa merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sejak kepergian Ibrahim. Di hatinya, ia berbisik, “Nak, daddy sudah di sini. daddy tahu kamu damai di surga.”

Mentari menggenggam tangan suaminya erat. “Ibrahim sudah bahagia. Dalam tradisi Islam, anak-anak kecil yang meninggal sebelum orang tuanya akan diasuh oleh Nabi Ibrahim AS dan istrinya, Siti Sarah. Mereka hidup bahagia di surga, menunggu kita.”

Resa menunduk, air matanya jatuh di sajadah. Ia teringat hadits Rasulullah SAW yang pernah ia dengar: anak-anak kecil yang meninggal di dunia akan dijaga oleh Nabi Ibrahim dan Siti Sarah di surga, dan mereka berdoa agar dapat bergandengan tangan dengan orang tuanya di hari kiamat. Bayi-bayi itu bebas, bahagia, tanpa ada yang menghalangi mereka.

Mendengar itu, hati Resa terasa lebih ringan. “Tar, aku lebihtenang sekarang. Ibrahim tidak sendiri. Ia bersama Nabi Ibrahim, bersama Siti Sarah, di tempat paling indah. Dan suatu hari, insyaAllah, kita akan bertemu lagi, bergandengan tangan dengannya.”

Mentari tersenyum dalam tangis. “. Kehilangan ini memang berat, tapi Allah sudah menyiapkan tempat terbaik untuk Ibrahim. Kita harus ikhlas, dan terus berdoa agar kelak kita dipertemukan kembali.”

Di Masjidil Haram, doa mereka mengalir tanpa henti. Duka yang selama ini membelenggu perlahan berganti dengan rasa ikhlas. Resa sadar, perjuangannya sebagai ayah memang singkat, tapi Ibrahim telah menjadi doa yang abadi.

Sepulang dari umrah, Resa merasakan hatinya berubah. Duka atas kepergian Ibrahim memang masih membekas, tetapi di Tanah Suci ia belajar ikhlas. Sejak itu, ia semakin mencintai Mentari dan Hailey dengan sepenuh hati.

Setiap pagi, Resa selalu memastikan Mentari merasa tenang. Ia sering menatap istrinya lama, lalu berkata lirih, “Aku tidak mau kehilangan kamu, Tar. Kamu dan Hailey adalah hidupku sekarang.” Mentari tersenyum, meski matanya berkaca-kaca, karena ia tahu betapa dalam luka yang dialami suaminya.

Hailey pun merasakan perubahan ayahnya. Resa lebih sering menemaninya belajar, bahkan sekadar duduk bersama mendengarkan cerita kecilnya. “Daddy sayang sekali sama Hailey. Kamu kakak yang hebat, Nak,” ucap Resa sambil mengusap rambut putrinya. Hailey tersenyum bangga, meski ia juga masih merindukan adiknya.

Di malam hari, Resa sering berdoa panjang. Ia memohon agar Allah menjaga Mentari dan Hailey, karena rasa takut kehilangan keduanya begitu besar. Baginya, Ibrahim telah mengajarkan arti rapuhnya hidup, dan kini ia bertekad untuk tidak menyia-nyiakan waktu bersama keluarga yang masih ada.

Mentari melihat perubahan itu dengan hati hangat. “Aku tahu kamu masih berduka. Tapi aku bersyukur, kita semakin dekat. Aku percaya, cinta kita akan menjaga Hailey tumbuh dengan bahagia.”

Resa mengangguk, menatap istrinya penuh cinta. “Aku akan menjaga kalian berdua dengan seluruh hidupku. Aku tidak mau lagi ada kehilangan. Aku ingin kita bertiga terus bersama, sampai Allah mempertemukan kita kembali dengan Ibrahim di surga.”

Lihat selengkapnya