Theia menghabiskan hari liburnya dengan membaca di ruang tamu. Sesekali, ia memandang pohon Natalnya yang pucat, tanpa lampu warna-warni. Suasananya hening sekali, hampir-hampir terasa membosankan. Hujan masih turun di depan jendela dan sejak tadi warna langit tidak berubah, selalu kelabu, dan ia tidak dapat membedakan apakah di luar masih siang atau sudah jelang sore. Hanya ada satu buah jam di rumah ini—di dapur—di tempat yang jarang dimasukinya, selain weker penguin kesayangannya, tentu saja, yang sudah dimilikinya sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Tetapi ia sadar, cahaya yang menyelinap masuk ke dalam ruangan semakin lama semakin sedikit dan matanya mulai lelah membaca, sebab ia tidak menyalakan lampu. Ketika kecil, Theia bertanya kepada Kakek, kenapa jarang menyalakan lampu? Kata Kakek, ia tidak ingin memboroskan cahaya dan berharap dapat menyimpan cukup banyak untuk membawanya ke surga. Theia hanya mengangguk-angguk meski sebenarnya ia tidak terlalu memahaminya, tetapi ucapan Kakek mengendap dalam hatinya. Ia menjadikannya kompas hidup. Mungkin itu juga yang menjadikanku menyukai tempat-tempat gelap, pikirnya. Tetapi Kakek sangat suka memasang lampu-lampu Natal, juga menyalakannya hampir sepanjang siang dan malam. Hingga musim Natal berakhir (pada satu Januari), seluruh ruangan diterangi berbagai cahaya pusparona. Bahkan tokonya pun dipasangi lampu warna-warni, persis seperti di luar negeri, hanya kurang salju. Seolah-olah seluruh penghematan yang dilakukannya sepanjang tahun ia maksudkan untuk ini. Tetapi Theia malah lebih ketat daripada kakeknya. Ia tidak memasang lampu warna-warni—jangankan di depan rumahnya, pohon Natalnya pun pucat semata.
Theia menutup bukunya dan hening. Ia duduk dalam posisi senyaman mungkin dan membiarkan matanya setengah terpejam. Ia menghitung napasnya satu per satu hingga hitungan itu tidak diperlukan dan hanya menyisakan kesadaran. Ia berusaha bernapas dengan perutnya hingga tidak perlu lagi berusaha. Tidak butuh waktu lama, ia pun mencapai napas yang indah dan seketika saja rasa letih dalam sehari lenyaplah sudah, dan ia menjadi begitu relaks sehingga dapat tidur kapan saja, tetapi tetap menjaga kesadarannya—keterjagaannya. Seraya memandang hujan, ia duduk dan bernapas.
Ia menantikan kehadiran Aira, tetapi ia tahu gadis kecil itu hanya akan datang saat malam sudah menjelang, dan tidak tentu waktunya. Terkadang ia baru datang saat Theia sudah hampir terlelap, dan ia terlalu lelah untuk menyambutnya. Tetapi ia dapat mengenali langkah-langkahnya, yang seperti melompat — juga lewat nada kerpas saat menginjak dedaunan di kebun.
Entah kenapa ia tidak takut salah mengenali langkah Aira, padahal sosoknya tidak terlihat. Ia tidak takut atau curiga—tidal pula bertanya-tanya, siapa tahu itu langkah pencuri? Ia selalu yakin bahwa langkah yang didengarnya memang milik Aira.
Ketika ia terjaga dari meditasinya—ia lebih senang menyebutnya "hening", bukan meditasi, sebab baginya kata meditasi terasa berat sementara "hening" jauh lebih ringan—hujan di depan jendela masih menderu-deru, tetapi ia sudah tidak dapat melihatnya, sebab langit yang semula berwarna kelabu, menjadi gelap, dan mendekati hitam. Sepertinya senja sudah berlalu.
Ia mengenakan jaket merahnya dan duduk di teras belakang sembari menyeduh dua cangkir teh—satu dengan gula yang cukup banyak sehingga dapat membuatmu meringis, dan satu lagi tawar. Entah kenapa ia tahu, hari ini Aira akan datang. Padahal hujan turun begini deras, dan sepertinya belum akan padam dalam waktu singkat. Mungkin akan terus turun selama semalaman penuh, seperti beberapa malam belakangan—dan baru akan berhenti saat subuh menjelang, sehingga matahari yang tumbuh dan mekar menghadap timur itu terasa lebih keemasan, seolah-olah sekali lagi Tuhan berkata "Jadilah!" dan jadilah seluruh semesta dan seisinya, dan Theia yang memandangnya seperti manusia pertama yang takjub merasakan hidup. Tetapi malam ini, semesta belum lagi ada, begitupun segala yang mengisinya. Di luar sana hanya ada hujan, yang turun begitu deras, hujan yang lebih abadi dari surga itu sendiri—yang lebih kekal daripada saat ini. Ia menghidu cangkir tehnya yang mendingin dengan cepat, tapi masih menyisakan kepulan hangat — sementara teh satunya ia tutup dengan tutup gelas, berharap dapat menahan panas lebih lama di dalam. Dingin sekali malam ini, pikir Theia. Ia memutar lagu Natal di ruang tamu yang suaranya terdengar hingga teras. Setiap kali mendengar lagu Natal, apalagi yang tua-tua, seperti dari Pambers atau Koes Plus, ia mengalami semacam anemoia untuk masa-masa yang tidak pernah ia alami—suatu tahun ketika dunia masih berwarna sepia.