Aira memandang pohon Natal yang berdiri bisu di sudut ruangan. Pohon itu terlihat kesepian, mungkin karena tidak memiliki lampu warna-warni seperti yang biasa menghiasi pohon-pohon semacam itu. Ia suka pohon Natal, tetapi setiap kali memandanginya, ia teringat pada pengalaman sedih yang selama ini menghantui tetapi tak ingin dilupakannya. Beberapa tahun lalu—meski disebut beberapa tahun, sebenarnya sudah lama sekali berlalu—Aira mempunyai seorang sahabat. Ia memiliki nama, tetapi Aira senantiasa memanggilnya dengan julukan yang biasa disandangnya—Gadis Korek Api. Ia tinggal di suatu kota yang senantiasa bersalju dan seperti julukan yang disandangnya, setiap hari ia mencari nafkah dengan menjual korek api. Di dunia yang selalu bersalju, semestinya banyak yang memerlukan korek api, bukan? Untuk menyalakan perapian, memasak, atau apa pun. Ditambah lagi, di kota kecil itu, barangkali hanya ada satu penjual korek api – yakni dirinya. Tetapi, tetap saja ada hari-hari di mana ia tidak berhasil menjual satu ikat pun korek, dan akibatnya, sang ayah akan memarahinya habis-habisan, seolah itu memang salahnya.
Sebelum menjadi penjual korek api—dan tinggal di Daerah Salju—ia menghabiskan hari-hari bersahaja dan hangat bersama neneknya di sebuah desa. Neneknya memiliki rumah kecil di pinggir danau. Setiap pagi—dan saat sore beranjak—langitnya berhias pelangi—indah sekali—dan matahari, yang senantiasa memancarkan cahayanya, membuat pipi-pipinya merona segar. Gadis Korek Api senang bermain di hutan yang dipenuhi pepohonan berdaun lebar, seperti mahoni, oak, hingga ketapang. Di halaman rumah Nenek yang ukurannya hampir dua kali rumah ayahnya, ada berbagai pohon buah yang sekarang hanya dapat dibayangkan manisnya.
Hari-hari yang membahagiakan saat ia tinggal di rumah Nenek hanya tinggal kenangan yang terasa seperti mimpi—bahkan gadis kecil itu ragu apakah itu memang benar-benar pernah terjadi, atau hidupnya selalu semalang ini?
Setelah neneknya meninggal, sang ayah yang hanya tertarik pada harta peninggalan neneknya terpaksa membawa gadis kecil itu untuk hidup bersamanya di kota. Nenek meninggalkan banyak sekali uang, yang didapatnya dari bekerja di ladang dan berkebun—ditambah peninggalan Kakek yang tidak sedikit—tetapi di tangan ayahnya, semuanya habis di meja judi dan bar, dalam bentuk minuman-minuman keras yang fungsinya hanya satu—menghancurkan kesadaran. Tidak sampai setahun, harta itu pun tandas. Bahkan keadaan sang ayah menjadi jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Teman-temannya meninggalkannya, bank menyita rumahnya, dan ia memiliki banyak sekali hutang, lebih dari yang sanggup dibayarnya. Satu-satunya yang tersisa adalah gadis kecilnya, yang selama ini bagai hidup sebatangkara.
Aira pertama kali berjumpa dengan Gadis Korek Api ketika ia menemukannya duduk di bangku taman yang terletak di seberang Gereja. Korek-korek apinya sudah hampir habis terjual, jadi ia bisa sejenak meluruskan kaki. Ia menyapa Aira dengan senyuman—dan seketika saja, mereka sudah sedekat sahabat lama.
Karena sekarang sedang musim Natal, Gadis Korek Api suka duduk di bangku taman seraya memandangi pohon-pohon cemara di pelataran Gereja yang dihiasi berbagai lampu warna-warni.
Ia berkata, Semasa kecil, di rumah kami yang kecil, Nenek akan meletakkan pohon Natal yang cukup besar di ruang tamu. Kami menghiasnya bersama-sama dengan berbagai hiasan yang lucu-lucu. Nenek pun memberiku kehormatan untuk meletakkan bintang di puncak tertinggi pohon cemara. Jadi, meski di luar sedang musim dingin—dan danau pun membeku, hanya satu yang kami rasakan, kehangatan. Nenek tidak dapat memainkan alat musik seperti Kakek, tetapi itu bukan masalah, sebab ia mempunyai suara yang sangat indah, yang seperti instrumen sendiri. Ia akan menyanyikan lagu-lagu Natal ganti-berganti, seolah-olah tidak pernah kelelahan. Meski berharap, aku tidak pernah meminta, dan Nenek selalu tahu aku suka mendengar lagu-lagu Natal—atau lagu apa pun—yang dinyanyikannya, melebihi segala dongeng yang dibacakannya kepadaku menjelang tidur dan sehabis makan siang. Aku sangat merindukannya. Tetapi ia sudah tiada. Dengan memandang pohon-pohon Natal itu, aku merasa tangannya masih menggandengku.
Tetapi, saat Misa berakhir, Gadis Korek Api segera bangkit dari tempat duduknya, dan menawarkan sisa korek kepada para jemaat yang keluar dari pintu Gereja. Ada banyak sekali pembeli. Ia malah kekurangan stok. Ia terlihat sangat gembira ketika korek terakhir berhasil dijualnya, dan keranjang korek itu melompong sehingga dapat diayun-ayunkannya dengan riang, dan tidak akan tumpah sekalipun ia berjalan sambil meloncat-loncat ringan. Keberuntungannya pun belum selesai, sebab ada seorang jemaat yang berbaik hati memberinya sekantung roti yang masih mengepul panas. Setelah membaginya sebuah untuk Aira, ia menyantapnya lahap di bangku taman.
Gereja perlahan-lahan menjadi sunyi. Lonceng yang berdentang lirih sesekali membasuh sepi.
Aku suka memandangi tempat-tempat yang semula ramai perlahan menjadi sepi, kata Gadis Korek Api, dan memang tidak ada yang lebih enak daripada menyantap roti panas di tengah cuaca bersalju, ya?
Aira mengangguk. Itu adalah kali terakhir ia melihat Gadis Korek Api, sebab ia harus melanjutkan perjalanan—ia sendiri tidak tahu mengapa harus merasa harus, padahal ia punya banyak sekali waktu, dan tidak ada yang perlu diburu-buru. Ia sangat menyesal ketika mendengar berita kematiannya di sebuah koran yang ia beli di lapak pinggiran—terkadang ia suka membeli koran hanya untuk membacai puisi-puisi yang dimuat di dalam Seni—tetapi ia sudah berjalan terlampau jauh. Obituari itu hanya berita kecil yang hampir-hampir tidak terlihat, di sudut bawah di halaman yang tidak signifikan. Tetapi ia mengenali foto gadis kecil yang berbaring tengkurap menghadap salju di jalanan yang juga putih oleh salju. Ia masih menyimpan potongan koran itu dalam saku celananya, dan berharap dapat menyimpannya selamanya.
Namun, tentu saja itu bukan kali pertama Aira mengalami kehilangan, malahan perjumpaannya dengan Gadis Korek Api pun singkat saja, hanya sesaat di bangku taman seberang Gereja, pada malam yang dipenuhi salju dan gemerincing genta-genta Natal, tetapi tetap saja ia merasa kehilangan—dan ini pun bukan kali pertama ia mengalami kehilangan. Sebagai makhluk yang hampir abadi, ia sudah mengalami banyak sekali perpisahan—tak terhitung sudah berapa kali ia mengucapkan selamat tinggal. Ia kemudian membaca kisah yang hampir serupa dalam dongeng, dan jika dongeng itu benar, itu dapat mengobati sedikit kesedihannya—bahwa sahabatnya si Gadis Korek Api, akhirnya dapat berjumpa kembali dengan nenek yang dicintainya, dan tinggal di rumahnya yang lama, yang kini baka. Ketika ia pada akhirnya menjadi Malaikat Maut Magang—atau yang biasanya ia sebut 3M—saat mengantar jiwa menunju peristirahatan terakhirnya, ia menyempatkan diri mengunjungi sahabatnya si Gadis Korek Api, tetapi rupanya ia tinggal di bagian surga yang lumayan jauh, harus ditempuh dengan bus khusus yang wujudnya menyerupai kucing.
Aira akhirnya sampai di depan rumahnya. Karena jendelanya tidak ditutup hordin, ia mengintip sebentar. Gadis Korek Api tengah duduk di pangkuan neneknya—sepertinya mendengarkan dongeng-dongeng yang dirindukannya semasa hidup. Ia tidak terlihat berubah sedikit pun, padahal sudah lama berlalu sejak Aira mendengar kabar kematiannya. Mungkin surga mempunyai waktunya sendiri--yang berbeda dengan waktu yang bergerak di dunia. Barangkali sehari di Bumi tidak sama dengan sehari di surga. Aira memutuskan untuk tidak mengetuk pintu dan duduk di hadapan danau besar yang begitu tenang, dan di seberang danau ada hutan pinus dan cemara yang berselimut kabut dan halimun. Ada kano yang tertambat di tonggak, lengkap dengan dayungnya. Burung-burung berkicau, juga cengkeret dan cengkerik yang saling berbagi derik. Ketika ia mulai mengantuk, Gadis Korek Api mendekatinya. Ia menyapanya, tetapi juga terlihat terkejut ketika mendapati sahabat yang baru pertama dijumpainya itu di tempat ini. Ia berharap Aira tinggal di dekat sini, sebab di sini tidak ada apa-apa selain hutan. Di belakang pepohonan itu, ada pepohonan lain yang lebih tua, dan di belakang pepohonan lain itu, ada pepohonan lain lagi, begitupun seterusnya. Sejauh apa pun kau melangkahkan kaki, dan selama apa pun, hanya pohon-pohonlah yang akan kautemui. Lain tidak. Ini satu-satunya rumah yang dapat kautemukan sejauh berkilo-kilometer.
Tetapi Aira hanya mampir. Ia baru saja mengantar jiwa ke jarak hanya bisa ditempuh dengan menggunakan Bus Kucing dari sini. Aira bertanya, Apakah kamu tidak sedih tinggal di tempat sepi? Barangkali kamu mau pindah ke tempat yang lebih ramai--ke kota, misalnya?