bulan hantu

Willia Mangun Putr
Chapter #1

Lina : Pengantin Merah

Part 1-Bulan Merah

Malam itu, bulan terlihat terlalu besar.

Bulat. Merah. Menggantung rendah di atas atap-atap rumah tua seolah-olah seseorang sengaja menaruhnya di langit agar seluruh kota bisa melihatnya.

Malam pertama Bulan Hantu telah tiba.

Di gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah tua bergaya Tionghoa, lentera merah bergoyang perlahan tertiup angin. Di depan beberapa rumah, meja sembahyang telah disiapkan. Buah, teh, dupa, dan makanan diletakkan dengan rapi.

Tidak ada yang berani mengambilnya sebelum ritual selesai.

Orang-orang tua di sana masih percaya pada aturan lama.

Pada bulan ini, pintu antara dunia manusia dan dunia arwah dipercaya terbuka.

Para leluhur boleh pulang.

Tetapi tidak semua yang pulang adalah leluhur.

Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit.

Lina sedang membereskan meja makan ketika listrik tiba-tiba padam.

“Yah…”

Rumah langsung gelap.

Dari ruang depan terdengar suara ibunya.

“Jangan keluar.”

Lina berhenti.

“Kenapa?”

“Lampunya mati, bukan berarti kamu harus keluar.”

Lina menghela napas.

“Bu, cuma mau cek meteran.”

“Besok saja.”

“Tapi panas.”

“Pakai kipas tangan.”

Lina menatap gelap di depannya.

Kadang-kadang ibunya memang bisa membuat hal sederhana terdengar seperti masalah hidup dan mati.

Ia mengambil ponsel dan menyalakan senter.

Baru dua langkah menuju pintu ketika—

Tok.

Lina berhenti.

Suara ketukan.

Dari pintu depan.

Tok. Tok.

Tiga ketukan.

Pelan.

Teratur.

Lina menoleh ke arah ibunya.

Ibunya sudah berdiri.

Wajah perempuan tua itu berubah pucat.

“Siapa?” tanya Lina.

Ibunya menggeleng cepat.

“Jangan jawab.”

“Tapi mungkin tetangga.”

“Tidak ada orang bertamu jam segini.”

Tok.

Sekali lagi.

Kali ini lebih keras.

Lina mendekati pintu.

Ibunya langsung menarik lengannya.

“Jangan.”

“Bu…”

“Dengar.”

Mereka sama-sama diam.

Dari balik pintu terdengar suara perempuan.

Pelan.

Hampir seperti bisikan.

“Lina…”

Darah Lina terasa berhenti mengalir.

Ibunya menggenggam tangannya semakin kuat.

Suara itu terdengar lagi.

“Lina…”

Lina menatap ibunya.

“Ibu dengar, kan?”

Ibunya tidak menjawab.

Matanya justru tertuju pada bagian bawah pintu.

Ada sesuatu yang bergerak di luar.

Sebuah bayangan.

Kaki seseorang.

Lina perlahan menunduk.

Sepasang kaki terlihat berdiri tepat di depan pintu.

Tetapi ada sesuatu yang aneh.

Kakinya tidak memakai sandal.

Dan ujung bajunya…

merah.

Sangat merah.

Seperti darah.

Lina mundur satu langkah.

Kemudian suara perempuan itu terdengar lagi.

Kali ini tepat di balik pintu.

“Bukakan.”

Ibunya berbisik,

“Jangan.”

“Bukakan…”

Lina menutup mulutnya.

Suara itu berubah.

Tidak lagi seperti suara manusia.

Lebih dalam.

Lebih serak.

“Aku sudah pulang.”

Tiba-tiba lampu menyala.

Bayangan di bawah pintu menghilang.

Lina dan ibunya saling berpandangan.

Tidak ada seorang pun di luar.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara motor melintas di jalan.

Suara televisi dari rumah tetangga kembali terdengar.

Semuanya normal.

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Lina memberanikan diri melihat melalui jendela kecil di samping pintu.

Gang itu kosong.

Namun di depan pintu rumah mereka…

terdapat sesuatu.

Sebuah sepatu merah.

Sepasang.

Diletakkan rapi menghadap ke dalam rumah.

Lihat selengkapnya