bulan hantu

Willia Mangun Putr
Chapter #2

Lina : Pintu yang Jangan Dibuka


Part 1 — Rumah Pengantin

Lina tidak bergerak.

Di hadapannya, pintu rumah tua itu terbuka lebar. Dari dalam mengalir udara dingin yang membawa aroma dupa dan sesuatu yang samar-samar manis.

Seperti bunga melati yang sudah terlalu lama dibiarkan membusuk.

Ibunya menarik tangannya.

“Kita pulang.”

“Tapi Ibu bilang aku harus datang ke sini.”

“Bukan begini caranya.”

Lina menatap rumah itu.

“Tadi dia bilang aku harus masuk.”

“Justru itu alasan kita tidak boleh masuk.”

Dari dalam rumah terdengar suara benda jatuh.

Brak!

Lina terkejut.

Ibunya langsung berbalik.

Namun sebelum mereka sempat pergi, pintu di belakang mereka tertutup sendiri.

BRAK!

Lina menoleh.

Mereka kini berdiri di halaman.

Rumah itu di depan mereka.

Pintu terkunci.

“Bu…”

“Diam.”

Ibunya mendekati pintu dan mencoba membukanya.

Tidak bisa.

“Bukannya tadi terbuka?” Lina bertanya.

Ibunya tidak menjawab.

Ia malah mengetuk pintu tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Kemudian dari balik pintu terdengar suara perempuan.

“Siapa?”

Lina merinding.

Itu suara yang sama.

Suara Pengantin Merah.

Ibunya memucat.

“Kita pergi,” bisiknya.

“Tapi pintunya—”

“Sekarang.”

Mereka berjalan cepat meninggalkan rumah.

Namun baru beberapa langkah, Lina mendengar suara ketukan.

Tok. Tok. Tok.

Ia berhenti.

Ibunya juga.

Ketukan itu bukan berasal dari rumah.

Suara itu datang dari belakang mereka.

Dari sesuatu yang berjalan mengikuti.

Lina perlahan menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya jalan setapak dan kabut.

Lalu terdengar suara perempuan berbisik tepat di telinganya.

“Jangan tinggalkan aku.”

Lina menjerit.

Ibunya menariknya berlari.

Mereka tidak berhenti sampai keluar dari gang.

Saat sampai di jalan utama, Lina menoleh sekali lagi.

Rumah itu sudah tidak terlihat.

Yang tersisa hanya pepohonan.

Seolah-olah rumah tersebut memang tidak pernah ada.

Namun ketika Lina memasukkan tangan ke saku jaketnya, jari-jarinya menyentuh sesuatu.

Sebuah benda kecil.

Ia mengeluarkannya.

Sebuah jepit rambut merah.

Dan di bagian belakangnya terukir dua karakter:

鬼月.

Bulan Hantu.

Lina menatap benda itu dengan bingung.

Ibunya langsung merebutnya.

Wajahnya berubah pucat.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Di saku.”

Ibunya menggenggam jepit rambut itu erat-erat.

Kemudian berbisik,

“Ini milik pengantin itu.”

Lina menatap ibunya.

“Kalau begitu…”

Ia menunjuk ke arah gang yang baru mereka tinggalkan.

“Kenapa dia memberikannya kepadaku?”

Ibunya tidak menjawab.

Karena di kejauhan, dari balik pepohonan, terdengar suara lonceng.

Ting…

Ting…

Ting…

Dan kali ini, suara itu diikuti oleh tawa seorang perempuan.

“Karena kamu adalah pengantin berikutnya.”


Part 2 — Jepit Rambut Merah

Sepanjang perjalanan pulang, Lina tidak mengatakan apa-apa.

Jepit rambut merah itu berada di dalam genggaman ibunya.

Sejak mereka meninggalkan rumah tua tadi, ibunya terus diam.

Bukan diam karena marah.

Melainkan seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang selama puluhan tahun berusaha dilupakannya.

Lihat selengkapnya