Part 1 — Nama yang Tidak Seharusnya Ada
Pagi itu, Lina tidak masuk kerja.
Bukan karena sakit.
Ia hanya tidak sanggup meninggalkan ibunya sendirian setelah kejadian semalam.
Sejak matahari terbit, rumah mereka terasa berbeda.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada bayangan perempuan berbaju merah.
Justru ketenangan itulah yang membuat Lina semakin gelisah.
Ibunya sedang membersihkan altar ketika Lina melihat sesuatu di meja sembahyang.
Selembar kertas merah.
“Bu, ini apa?”
Ibunya menoleh.
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan sentuh.”
Lina berhenti.
Kertas itu terlipat rapi. Di atasnya terdapat tulisan tinta hitam yang tampak seperti nama seseorang.
“Ibu yang menaruh?”
Ibunya menggeleng.
“Tidak.”
Lina mendekat tanpa menyentuhnya.
Tulisan itu terlihat semakin jelas.
LINA.
Jantungnya berdegup keras.
“Bu…”
Ibunya berjalan mendekat.
Begitu melihat nama itu, wajahnya langsung pucat.
“Bakar.”
“Apa?”
“Sekarang.”
Lina mengambil korek api.
Namun sebelum kertas itu dibakar, ibunya tiba-tiba menghentikan tangannya.
“Tunggu.”
“Kenapa?”
Ibunya memperhatikan bagian bawah kertas.
Ada tulisan lain.
Lebih kecil.
Hampir tidak terlihat.
18 AGUSTUS 1986
Tanggal yang sama.
Tanggal kematian Pengantin Merah.
Lina menatap ibunya.
“Kenapa namaku ada di sini?”
Ibunya tidak menjawab.
Ia justru duduk di kursi dekat altar.
Tangannya gemetar.
“Karena mungkin…”
Ibunya menelan ludah.
“...namamu bukan ditulis untuk mendoakan orang mati.”
Lina merasakan tengkuknya dingin.
“Terus untuk apa?”
Ibunya menatap kertas merah itu.
“Untuk menggantikan mereka.”
Tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.
Ting…
Satu kali.
Kemudian dua kali.
Ting… ting…
Lina menoleh ke jendela.
Di luar tidak ada siapa-siapa.
Tetapi di atas pagar rumah mereka tergantung sebuah lentera merah.
Padahal sebelumnya tidak ada.
Lentera itu bergerak perlahan tertiup angin.
Kemudian dari dalam rumah terdengar suara perempuan bersenandung.
Lagu pernikahan.
Lina menoleh ke arah kamar belakang.
Pintu kamar yang semalam terbuka…
kini tertutup kembali.
Dan di bawah celah pintunya, perlahan muncul sesuatu.
Selembar kertas merah.
Kertas itu bergerak sendiri keluar dari kamar.
Berhenti tepat di depan kaki Lina.
Ia membungkuk.
Di atasnya tertulis satu kalimat:
“PENGANTIN HARUS MEMAKAI MERAH
Part 2 — Baju Pengantin
Lina masih menatap kertas merah di lantai.
PENGANTIN HARUS MEMAKAI MERAH.
“Aku nggak mau.”
Ibunya menatapnya.
“Tidak ada yang menyuruhmu memakai apa pun.”
“Pesannya jelas, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Terus?”
Ibunya tidak menjawab.
Ia mengambil kertas itu menggunakan penjepit kayu, lalu memasukkannya ke sebuah kotak tua.
“Jangan dibakar?”