Waktu seolah berhenti berputar di puncak gunung yang tertutup kabut tebal. Di sana, jauh dari jangkauan manusia biasa yang sibuk dengan urusan duniawi-mencari nafkah, mengejar mimpi, atau sekadar bertahan hidup-berdiri sebuah lingkaran batu raksasa yang telah menyaksikan pergantian zaman selama ribuan tahun. Lumut hijau tua menutupi sebagian permukaannya, namun ukiran-ukiran kuno yang melambangkan elemen alam: tanah, air, api, udara, dan jiwa, masih terlihat jelas, seolah memancarkan energi lembut yang melindungi tempat itu dari gangguan apa pun. Angin berhembus pelan di antara celah-celah bebatuan, membawa suara bisikan halus yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki darah kuno-bisikan tentang keseimbangan, tentang pengorbanan, tentang takdir, dan tentang sebuah kekuatan yang tidak boleh jatuh ke tangan yang salah.
Ratusan tahun yang lalu, ketika dunia masih muda dan batas antara alam manusia dan alam gaib belum setebal sekarang, hidup sebuah ras yang menjadi penyeimbang segala sesuatu. Mereka disebut Nagual. Tidak seperti werewolf yang terikat pada siklus bulan dan kekuatan fisiknya, tidak seperti vampir yang bergantung pada darah dan memiliki kecepatan luar biasa, tidak pula seperti penyihir yang meminjam kekuatan dari alam melalui mantra dan ramuan. Nagual dilahirkan dengan kemampuan alami untuk memahami, merasakan, mengendalikan, dan menyeimbangkan seluruh energi yang ada di semesta. Darah mereka adalah jembatan yang menghubungkan dua dunia; keberadaan mereka adalah jaminan bahwa tidak ada satu kekuatan pun yang akan tumbuh terlalu besar hingga menghancurkan yang lain.
Mereka bisa berubah wujud menjadi hewan apa pun yang mereka inginkan, bukan hanya satu jenis; mereka bisa membaca pikiran tanpa harus memaksa; mereka bisa menyembuhkan luka yang parah hanya dengan sentuhan; dan yang paling penting: mereka bisa menetralkan kekuatan apa pun, baik itu sihir terkuat maupun amukan makhluk paling buas. Karena itulah, mereka dihormati dan disegani oleh semua ras. Namun, kekuatan yang begitu besar sering kali menjadi sumber keinginan yang tak terpuaskan.
Banyak kalangan, baik dari dunia gaib maupun manusia yang haus kekuasaan, mulai mengincar darah Nagual. Mereka percaya bahwa dengan menyerap esensi kehidupan tersebut, mereka akan mendapatkan keabadian dan kekuatan yang tak tertandingi. Perang besar pun berkobar, memecah kedamaian yang telah terjalin berabad-abad lamanya. Ras Nagual yang memang jumlahnya tidak banyak sejak awal-karena mereka dilahirkan bukan diciptakan, dan hanya satu dari seribu keturunan yang memiliki darah murni-berkurang drastis. Banyak yang gugur melindungi garis keturunannya, sementara yang lain terpaksa bersembunyi, menyebar ke seluruh penjuru bumi: ke hutan-hutan lebat Amerika, pegunungan Eropa, gurun Afrika, hingga kepulauan Asia Tenggara. Mereka memisahkan diri satu sama lain agar tidak mudah diburu, dan menyembunyikan identitas mereka bahkan dari keturunan mereka sendiri, agar tidak ada yang bisa melacak keberadaan mereka.
Garis keturunan mereka perlahan menjadi samar, bercampur dengan manusia biasa, hingga akhirnya kisah tentang mereka hanya tinggal legenda yang diceritakan dalam bisikan, dianggap sebagai dongeng pengantar tidur belaka. Hanya sedikit yang masih menyimpan pengetahuan itu: para tetua klan, penyihir agung, dan penjaga sejarah kuno.
Namun, ramalan yang tertulis di atas gulungan kulit dan dinding gua-gua suci tidak pernah berbohong.
Di dalam ruang penyimpanan rahasia perpustakaan gaib Eropa, tersimpan sebuah gulungan kuno yang terbuat dari kulit rusa langka, tulisannya berwarna keemasan yang tidak pernah pudar meski telah disimpan selama dua ribu tahun. Di sana tertulis jelas dalam bahasa kuno yang hanya dipahami oleh sedikit orang:
"Ketika langit malam berubah warna menjadi merah darah, dan bintang-bintang seolah meredup tak berdaya, ketika bulan purnama memancarkan cahaya yang tidak wajar, sang penyeimbang akan terlahir kembali. Darah yang paling murni akan berdenyut di tengah hiruk-pikuk dunia modern, di tempat dua budaya bertemu, membawa harapan sekaligus malapetaka. Di tangan sang pembawa takdir, terletak pilihan: membiarkan dua dunia terpecah dan hancur, atau menyatukan kembali apa yang telah lama terpisah dan menjaga kedamaian selamanya. Bersama tujuh saudaranya yang tersebar, mereka akan menentukan nasib semua makhluk."
Dan saat yang diramalkan itu semakin dekat. Hitungan hari telah dimulai, dan energi alam mulai berubah secara perlahan namun pasti.