Suasana hening menyelimuti seluruh ruangan Kafe Senja Nusantara setelah Seo Seung-hyun mengucapkan kata-kata itu. Lampu-lampu temaram yang menerangi ruangan seolah terasa lebih redup, sementara detak jantung Anindya berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia mundur selangkah lagi hingga punggungnya benar-benar menyentuh tepi meja kasir, matanya menatap lekat-lekat pria di hadapannya-mencari tanda-tanda lelucon atau kegilaan, namun tidak menemukan sedikit pun. Wajah Seung-hyun tetap tenang, matanya yang berwarna cokelat gelap memancarkan ketegasan yang sulit diragukan.
"Serigala manusia... Nagual..." gumam Anindya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. "Itu hanya cerita rakyat, dongeng yang diceritakan orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak. Tidak mungkin hal itu nyata."
Seung-hyun melangkah maju satu langkah, namun berhenti tepat ketika ia melihat ekspresi waspada di wajah Anindya. Ia mengangkat kedua tangannya setinggi dada, sebagai tanda bahwa ia tidak bermaksud mengancam. "Saya mengerti keraguanmu. Selama berabad-abad, kami telah bersembunyi di balik bayang-bayang, menyembunyikan keberadaan kami agar tidak ditakuti atau diburu oleh manusia biasa. Namun, itu semua adalah kenyataan, Anindya. Dunia yang kamu lihat sehari-hari hanyalah lapisan luar dari kenyataan yang jauh lebih luas dan tua."
Anindya menggeleng keras, berusaha menepis segala hal yang baru saja ia dengar. "Tidak... saya hanya wanita biasa. Saya datang ke sini untuk membuka kafe, mencari nafkah, dan mewujudkan mimpi. Tidak ada hal gaib, tidak ada darah khusus yang mengalir di tubuh saya. Anda pasti salah orang."
"Apakah kamu yakin?" tanya Seung-hyun perlahan, suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Selama ini, apakah kamu pernah merasa berbeda dari orang lain? Bisa merasakan perasaan orang lain hanya dengan menatap matanya? Bisa mengetahui kapan hujan akan turun jauh sebelum langit mendung? Atau bahkan mendengar suara bisikan dari hewan atau tumbuhan?"
Setiap kata yang diucapkan Seung-hyun terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dalam hati Anindya. Ia tertegun, matanya melebar. Bagaimana mungkin pria asing ini mengetahui hal-hal yang selama ini ia anggap sebagai rahasia pribadi? Hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada Sari sahabatnya sekalipun.
"Kamu... bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Karena saya memiliki kepekaan yang sama, meski berbeda bentuknya," jawab Seung-hyun. "Dan lebih dari itu, saya bisa merasakan energi yang memancar dari dirimu. Energi yang hangat, menenangkan, namun juga sangat kuat-energi khas keturunan Nagual, yang menjadi jembatan antara dua dunia."
Anindya terdiam. Pikirannya melayang ke masa kecilnya, di kampung halaman di Jawa Tengah. Ia teringat bagaimana ia selalu bisa menenangkan hewan-hewan yang sedang marah atau ketakutan hanya dengan memegang dan berbicara pelan kepada mereka. Ia teringat bagaimana ia selalu tahu kapan ibunya sedang sedih meskipun ibunya berusaha tersenyum lebar. Ia teringat bisikan neneknya sebelum wanita itu meninggal dunia: "Kamu memiliki anugerah, Nak. Darah leluhurmu mengalir deras di tubuhmu. Jagalah dirimu, karena suatu hari nanti, takdir akan memanggilmu."
Selama ini, Anindya menganggapnya hanya omongan orang tua yang penuh khayalan. Namun, mendengar penjelasan dari Seung-hyun malam ini, benih keraguan mulai tumbuh di hatinya.
"Jika apa yang kamu katakan itu benar..." ucap Anindya perlahan, mencoba menenangkan diri. "Mengapa sekarang? Mengapa kamu datang menemui saya?"
Seung-hyun menghela napas panjang, lalu melangkah mendekati meja kosong di dekatnya dan duduk dengan tenang. Ia menatap Anindya, mengisyaratkan agar wanita itu juga duduk. "Bisakah kita duduk dan membicarakannya dengan tenang? Saya tidak akan menyakitimu, saya berjanji."
Anindya ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia menarik kursi dan duduk di seberang meja, menjaga jarak yang aman.
"Sudah ribuan tahun lamanya, ras kami hidup berdampingan dengan manusia," mulai Seung-hyun, suaranya menjadi lebih lembut dan penuh bobot. "Werewolf, atau serigala manusia, adalah salah satu di antara banyak ras yang ada. Kami memiliki kekuatan, kecepatan, dan indra yang jauh lebih tajam daripada manusia biasa. Namun, kami juga memiliki aturan yang ketat: tidak boleh mengganggu keseimbangan dunia, tidak boleh mengungkapkan identitas kami, dan tidak boleh menyakiti manusia tanpa alasan yang sah."
Anindya mendengarkan dengan saksama, rasa takutnya perlahan tergantikan oleh rasa penasaran yang besar. "Dan Nagual? Apa itu sebenarnya?"
"Nagual adalah ras kuno yang hampir punah," jelas Seung-hyun. "Mereka memiliki kemampuan unik untuk memahami alam, menjembatani dunia manusia dan dunia gaib, serta menenangkan perselisihan antar ras. Mereka dianggap sebagai penjaga keseimbangan. Namun, seiring berjalannya waktu, garis keturunan mereka semakin menipis. Hanya sedikit yang tersisa, dan kamu adalah salah satunya-bahkan mungkin yang terakhir dengan darah paling murni."
Anindya menunduk, memandang tangannya sendiri. "Jadi... semua yang saya rasakan selama ini... itu nyata?"
"Itu nyata," jawab Seung-hyun tegas. "Dan keberadaanmu menjadi sangat penting saat ini. Ada sebuah ramalan kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi. Ramalan tentang Bulan Merah."
"Bulan Merah?"
"Ya," Seung-hyun mengangguk. "Dikatakan bahwa ketika bulan purnama berubah menjadi warna merah darah dan tergantung rendah di ufuk barat, batas antara dunia manusia dan dunia gaib akan menipis. Kekuatan gelap yang telah terkurung selama berabad-abad akan bangkit, dan jika tidak dicegah, ia akan menghancurkan keseimbangan kedua dunia. Dan satu-satunya yang mampu mencegah hal itu terjadi adalah Nagual dengan darah utama-yaitu kamu."
Anindya terdiam hening. Beban yang terasa berat tiba-tiba menimpa pundaknya. Selama ini ia hanya ingin hidup tenang, menjalankan kafenya, dan menjalani hari-hari dengan damai. Namun, tiba-tiba saja ia dihadapkan pada sebuah takdir yang begitu besar dan menakutkan.
"Kenapa harus saya?" bisiknya. "Saya hanya wanita biasa. Saya tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan hal-hal yang kamu katakan."
"Kekuatanmu ada di dalam dirimu, meskipun kamu belum menyadarinya," kata Seung-hyun lembut. "Dan kamu tidak akan sendirian. Saya dan klan saya akan melindungimu. Kami telah menunggu kehadiranmu selama bertahun-tahun."
Malam semakin larut, namun pembicaraan mereka terus berlanjut. Seung-hyun menceritakan sedikit tentang dunianya-tentang klan serigala, perselisihan antar ras, dan bagaimana mereka selalu berusaha hidup damai. Anindya mendengarkan dengan mata terbelalak, menyadari bahwa dunia yang ia kenal ternyata jauh lebih luas dan misterius dari yang ia bayangkan.
Ketika jam dinding di dinding menunjukkan pukul sebelas malam, Seung-hyun berdiri. "Sudah sangat larut. Saya tidak ingin membebani pikiranmu terlalu banyak dalam satu malam. Saya akan pergi sekarang."
Anindya juga berdiri. "Kamu... akan kembali lagi?"
Seung-hyun tersenyum tipis, senyum yang membuat wajahnya yang tegas terlihat lebih lembut. "Ya. Seperti yang saya katakan tadi, saya kemungkinan besar akan sering berkunjung. Lagipula, masakanmu sangat lezat."