Seminggu telah berlalu sejak percakapan terakhir Anindya dengan Tuan Park. Rutinitas di Kafe Senja Nusantara berjalan seperti biasa-pelanggan datang dan pergi, aroma rempah dan masakan khas Indonesia terus tercium di seluruh ruangan, dan tepat pukul lima sore setiap harinya, Seo Seung-hyun akan melangkah masuk dengan langkah tenang dan duduk di meja yang selalu sama.
Namun, di balik kedamaian yang tampak di permukaan, Anindya merasakan ada sesuatu yang berubah. Perasaan diawasi yang ia rasakan sebelumnya tidak kunjung hilang-bahkan terasa semakin kuat. Setiap kali ia berjalan di jalanan Gangnam, menuju pasar atau berbelanja kebutuhan kafe, ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengikuti gerak-geriknya. Saat ia menoleh, tidak ada orang yang terlihat mencurigakan, namun perasaan dingin di punggungnya tetap ada, seolah-olah ada bayangan yang bergerak cepat bersembunyi di balik tiang lampu atau sudut gedung.
Pagi itu, langit Seoul tampak agak mendung. Awan kelabu menutupi sinar matahari, membuat suasana kota terasa lebih redup dari biasanya. Anindya sedang menyusun tumpukan piring di meja kasir ketika Sari datang tergesa-gesa dari arah dapur dengan wajah yang agak pucat.
"Anin, ada yang aneh di belakang kafe," bisik Sari pelan, seolah takut didengar orang lain.
Anindya mengernyitkan dahi. "Apa yang terjadi?"
"Beberapa tanaman hias yang kita letakkan di halaman belakang... semuanya layu dalam semalam. Padahal kemarin sore masih terlihat segar dan subur. Bahkan tanah di sekitar akarnya terasa dingin sekali, meskipun tidak ada hujan dan matahari bersinar cukup terang kemarin," jelas Sari dengan nada bingung.
Anindya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia segera mengikuti Sari menuju pintu belakang kafe. Begitu membuka pintu, ia langsung mencium bau yang asing-bau yang terasa seperti tanah basah yang membusuk, bercampur dengan hawa dingin yang menusuk tulang, meskipun suhu udara di luar sebenarnya cukup hangat.
Di halaman belakang yang sempit, terlihat beberapa pot tanaman yang biasanya tumbuh subur dan hijau. Namun sekarang, daun-daunnya menguning, mengerut, dan terlihat kering seolah sudah mati berhari-hari. Anindya mendekat dan menyentuh salah satu daunnya-ia merasakan hawa dingin yang aneh menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh lengan.
"Ini tidak wajar," gumam Anindya pelan. "Tanaman ini tidak bisa mati secepat ini hanya karena perubahan cuaca."
"Kamu merasa ada sesuatu yang salah juga, ya?" tanya Sari. "Awalnya saya pikir hanya perasaan saya saja, tapi akhir-akhir ini tempat ini terasa... berbeda. Kadang-kadang saya mendengar suara bisikan pelan di malam hari, tapi ketika saya periksa, tidak ada siapa-siapa."
Anindya menoleh ke arah sahabatnya. Ia tidak bisa menceritakan semuanya-tentang Seung-hyun, tentang dunia gaib, dan tentang takdir yang dikatakan akan menimpanya. Itu terlalu berat untuk dijelaskan, dan ia takut Sari akan menganggapnya gila.
"Mungkin hanya kelelahan bekerja," jawab Anindya berusaha terdengar tenang, meskipun hatinya berdebar kencang. "Kita buang saja tanaman yang sudah mati ini dan ganti dengan yang baru. Jangan terlalu dipikirkan, ya?"
Sari mengangguk pelan, meskipun raut wajahnya masih menunjukkan keraguan. Setelah membersihkan halaman belakang, mereka kembali ke dalam kafe dan melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Namun, pikiran Anindya terus terfokus pada kejadian tadi. Bau hawa dingin dan rasa aneh yang ia rasakan dari tanaman itu terasa sangat familier-seolah-olah ia pernah merasakan energi semacam itu sebelumnya, meskipun ia tidak bisa mengingatnya kapan.
Sore harinya, seperti biasa, Seung-hyun datang tepat pukul lima. Begitu ia melangkah masuk, ia langsung berhenti sejenak, hidungnya sedikit bergerak seolah sedang mencium sesuatu di udara. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sedikit tegang, matanya menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang tajam dan waspada.
Anindya yang sedang melayani pelanggan lain melihat perubahan ekspresi Seung-hyun. Setelah pelanggan itu pergi, ia segera mendekati meja tempat Seung-hyun duduk.
"Ada apa?" tanya Anindya pelan. "Kamu terlihat berbeda hari ini."
Seung-hyun menatap Anindya dengan pandangan serius. "Ada energi asing di sini. Energi yang gelap dan tidak alami. Apakah ada sesuatu yang terjadi belakangan ini?"
Jantung Anindya berdebar kencang. Ia tahu instingnya tidak salah. "Tadi pagi, tanaman di halaman belakang semuanya layu dan mati dalam semalam. Dan ada bau yang aneh... hawa dingin yang tidak wajar."
Mendengar itu, Seung-hyun segera berdiri. "Tunjukkan padaku."
Anindya mengangguk dan memimpin Seung-hyun menuju pintu belakang. Begitu pintu terbuka, Seung-hyun langsung mengerutkan dahi. Ia berjalan mendekati tempat tanaman yang telah dibuang itu, lalu berjongkok dan menyentuh tanah di sekitarnya. Matanya yang biasanya berwarna cokelat gelap kini memancarkan kilau keperakan yang samar, sesuatu yang hanya terlihat jika diperhatikan dengan saksama.
"Ini adalah jejak energi kegelapan," ucap Seung-hyun perlahan, suaranya rendah namun tegas. "Energi yang berasal dari makhluk yang memiliki niat buruk. Mereka sedang mengamati tempat ini... dan mengamati kamu."
Anindya merasa bulu kuduknya meremang. "Siapa mereka? Dan apa yang mereka inginkan dari saya?"
Seung-hyun berdiri dan menatap Anindya dengan pandangan yang penuh perhatian. "Ada banyak ras di dunia kami, Anindya. Tidak semuanya menginginkan keseimbangan dan kedamaian. Ada kelompok yang menginginkan kekuasaan, yang ingin memanfaatkan kekuatan Nagual untuk keuntungan mereka sendiri. Mereka tahu keberadaanmu sekarang, dan mereka mulai bergerak."
"Apakah mereka berbahaya?" tanya Anindya dengan suara bergetar.
"Sangat berbahaya," jawab Seung-hyun jujur. "Mereka tidak akan ragu untuk menyakiti siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Itulah sebabnya saya sudah memperingatkanmu untuk berhati-hati."