Bulan Merah di Ujung Senja

Maghfira Izani
Chapter #5

Rahasia di Balik Mata Keperakan

Pintu kafe berdentang pelan saat langit di luar mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Di dalam, aroma kopi tubruk dan rempah khas Nusantara bercampur hangat, menciptakan suasana yang tenang meski pengunjung mulai berdatangan satu per satu. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan pukul sembilan pagi - waktu buka yang sudah ditetapkan, dan akan terus melayani hingga pukul dua puluh dua lewat tiga puluh menit malam.

Aku sedang menyeka gelas-gelas di meja panjang saat bayangan tinggi melintas di depan pintu. Seo Seung-hyun berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seluruh ruangan dengan pandangan waspada namun lembut. Sejak pertemuan pertama, aku selalu merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan matanya - sesuatu yang lebih dalam dari sekadar misteri biasa.

"Kau datang lagi," sapaku sambil meletakkan kain lap.

Seung-hyun melangkah masuk, udara dingin dari luar ikut menyelinap sebentar sebelum pintu tertutup kembali. "Aku merasa tenang di sini. Seolah-olah tempat ini memiliki pelindung alami yang tidak dimiliki tempat lain di kota ini."

Aku tertawa kecil, meragukan ucapannya. "Itu hanya karena masakan dan minumannya yang membuat nyaman. Tidak ada hal gaib di sini, hanya kerja keras dan resep turun-temurun."

Ia menggeleng pelan, lalu duduk di meja dekat jendela - tempat yang sering dipilihnya. "Kau belum mengerti siapa dirimu, Anindya. Tempat ini menjadi aman karena keberadaanmu. Darah yang mengalir di nadimu menciptakan batas tak terlihat yang membuat makhluk lain berpikir dua kali sebelum mendekat dengan niat buruk."

Aku menyiapkan pesanannya - kopi hitam kental dan sepotong kue lapis legit - lalu meletakkannya di hadapannya. "Kau terus bicara tentang darah dan warisan, tapi aku masih tidak paham maksudmu. Aku hanya gadis biasa yang membuka kafe agar bisa bertahan hidup di negeri orang."

Seung-hyun menatapku dalam-dalam. Cahaya lampu gantung di atas meja memantul di matanya, dan untuk sesaat, aku melihat warna yang berbeda - bukan cokelat gelap seperti biasanya, melainkan kilau keperakan yang samar, seolah ada bulan purnama yang terperangkap di sana.

"Kau tidak biasa," ucapnya pelan. "Malam ini, setelah kafe tutup, aku akan menunjukkan sesuatu. Sesuatu yang akan membuat kau percaya bahwa cerita-cerita kuno itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur."

Aku ragu sejenak, tapi rasa penasaran yang tumbuh perlahan mengalahkan rasa takutku. "Baiklah. Tapi jangan buat aku menyesal telah menyetujuinya."

Hari berjalan lambat namun sibuk. Pengunjung datang dan pergi - sebagian besar warga Korea yang penasaran dengan rasa baru, sebagian lagi orang asing yang rindu masakan tanah air. Semua merasa betah, tidak ada yang menyadari bahwa di antara mereka ada makhluk yang bukan manusia biasa. Seung-hyun tetap duduk di tempatnya, sesekali membalas sapaan sopan dari pengunjung lain, namun matanya tidak pernah lepas mengawasi gerak-gerikku.

Saat jarum jam menunjukkan pukul dua puluh satu lewat empat puluh lima menit, pengunjung terakhir berpamitan. Aku mulai membereskan meja, menyapu lantai, dan memastikan semua peralatan dapur sudah dicuci dan disusun rapi. Pintu dikunci dari dalam, hanya menyisakan cahaya lampu redup yang menciptakan bayangan panjang di dinding.

"Sudah waktunya," panggil Seung-hyun dari sudut ruangan.

Aku mendekat, jantung berdebar tidak menentu. "Apa yang akan kau tunjukkan?"

"Pertama, lihatlah mataku," katanya. Ia menarik napas dalam, dan perlahan, warna matanya berubah sepenuhnya menjadi perak yang berkilau lembut, seperti cahaya bulan yang dipantulkan di permukaan danau tenang. Tidak ada yang menakutkan dari pandangan itu - justru terasa menenangkan, seolah menarikku masuk ke dalam kedamaian yang tak terukur.

"Ini wujud asliku saat aku tidak menyembunyikannya," jelasnya. "Aku adalah pemimpin klan serigala manusia. Kekuatan yang mengalir di tubuhku berasal dari ikatan dengan alam dan leluhurku. Tapi kekuatan itu tidak seimbang. Sejak ratusan tahun lalu, ramalan menyebutkan bahwa akan lahir kembali seorang keturunan Nagual - orang yang dapat menjembatani dunia manusia dan dunia gaib, yang dapat menyeimbangkan kekuatan cahaya dan kegelapan."

Aku mundur selangkah, terkejut namun tidak merasa takut. "Dan kau pikir aku orang itu?"

"Pikirkanlah hal-hal yang sering kau alami sejak kecil," dorongnya lembut. "Kemampuanmu merasakan perasaan orang lain tanpa mereka bicara. Hewan-hewan yang selalu mendekat padamu tanpa rasa takut. Mimpi-mimpi aneh tentang hutan purba dan suara-suara yang memanggil namamu. Itu bukan kebetulan, Anindya. Itu adalah tanda bahwa darah leluhurmu mulai bangun."

Ia mengulurkan tangannya. "Sentuhlah tanganku. Kau akan merasakan sendiri apa yang aku rasakan."

Dengan tangan sedikit gemetar, aku menyentuh telapak tangannya. Seolah ada aliran listrik hangat yang mengalir masuk, bukan menyakitkan, melainkan menenangkan. Aku melihat kilasan gambar - hutan lebat, bulan purnama yang besar, sekawanan serigala yang berlari bebas, dan di tengahnya, sosok wanita yang memiliki aura yang sama persis dengan yang kurasakan dalam diriku sendiri.

"Ini terlalu banyak untuk dipahami dalam satu malam," gumamku.

"Aku tahu," jawab Seung-hyun. "Karena itulah aku dan sekutuku akan membantumu memahami semuanya. Kita akan berkeliling dunia, bertemu dengan penjaga-penjaga rahasia, mempelajari sejarah yang tersembunyi, dan mempersiapkan diri menghadapi apa yang akan datang. Karena bulan merah akan segera terbit, dan ketika itu terjadi, batas antara dua dunia akan menjadi sangat tipis."

Saat itu, suara ketukan halus terdengar dari pintu belakang. Seung-hyun segera menarik tangannya dan matanya kembali berubah menjadi warna aslinya. Ia mengangguk, memberi isyarat agar aku membukanya.

Di balik pintu berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah panjang berwarna hijau tua - Hyun Woo-jin, Penyihir Agung yang pernah kutemui beberapa hari lalu. Di sampingnya ada dua orang lain: Jo Jung-won dan Kang Ki-won, keduanya Theriantropes yang dapat berubah wujud menjadi hewan apa pun yang mereka inginkan.

"Maaf mengganggu di malam hari," ucap Woo-jin sopan. "Kami datang membawa informasi penting, sekaligus sesuatu yang mungkin berguna untukmu."

Mereka masuk dan duduk di meja tengah. Woo-jin meletakkan sebuah kotak kayu berukir indah di atas meja. "Di dalamnya terdapat Elixir Penstabil. Ramuan ini dibuat dari bahan-bahan langka yang tumbuh di tempat-tempat tersembunyi. Nanti, saat kau mulai mempelajari kekuatanmu, ramuan ini dapat membantu menenangkan energi yang mungkin terasa tidak terkontrol. Selain itu, ramuan ini juga akan sangat berguna untuk manusia-manusia yang tidak sengaja berubah menjadi makhluk gaib setelah digigit - membantu mereka mempertahankan akal sehat dan mengendalikan insting baru mereka."

"Kau benar-benar mempersiapkan segalanya," komentarku.

"Kita tidak tahu kapan bahaya akan datang," jawab Jung-won. "Dan selain itu, ada rencana yang mungkin berguna untuk masa depan kafe ini. Tempat ini menjadi tempat berkumpul yang aman, dan akan semakin banyak makhluk gaib yang datang mencari perlindungan atau sekadar ketenangan. Jika ada tempat tinggal yang dekat, akan sangat membantu."

Mendengar kata-kata itu, aku teringat pertanyaan yang ingin kutanyakan sejak lama. "Sebetulnya, aku juga berpikir untuk membuka tempat penginapan sederhana atau kost di dekat sini. Apakah menurutmu itu ide yang baik?"

Seung-hyun tersenyum tipis. "Ide yang sangat bagus. Bahkan, bisa menjadi langkah yang sangat cerdas."

Kembali ke malam itu, aku mendengarkan penjelasan mereka satu per satu. Perlahan, ketakutan yang semula ada berubah menjadi rasa percaya diri. Meskipun berat, aku mulai menyadari bahwa takdir ini bukanlah beban yang harus kupikul sendirian.

"Baiklah," kataku akhirnya. "Aku akan mempelajari semuanya. Aku akan menerima warisan ini. Dan jika membuka kost di dekat sini bisa membantu kita semua, maka aku akan mewujudkannya."

Seung-hyun mengangguk, kilau keperakan di matanya kembali muncul sebentar. "Kau membuat pilihan yang tepat. Dan ingat, aku akan selalu ada di sini, menjagamu."

Malam semakin larut, jam dinding menunjukkan pukul dua puluh dua lewat lima puluh menit. Mereka berpamitan, berjanji akan kembali keesokan harinya untuk mulai mengajarkan hal-hal dasar. Aku mematikan lampu satu per satu, menyisakan lampu kecil di pintu masuk, lalu mengunci pintu dengan hati-hati.

Di luar, angin bertiup pelan, membawa bau tanah basah dan bunga yang mekar di musim gugur. Aku menatap langit, melihat bulan yang mulai terlihat jelas. Di dalam hatiku, aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi. Rahasia di balik mata keperakan itu baru saja terkuak sedikit, dan perjalanan panjangku baru saja dimulai.

Keesokan harinya, persiapan dimulai. Pagi-pagi sekali, aku sudah membuka kafe dan menyambut pengunjung seperti biasa, namun di sudut hatiku kini ada rasa penasaran yang tak kunjung padam. Tepat pukul dua puluh dua lewat tiga puluh menit malam, seperti jam tutup yang telah ditetapkan, pengunjung terakhir berpamitan. Tak lama kemudian, Seung-hyun, Woo-jin, dan ketiga Theriantropes itu datang kembali.

"Kita akan mulai dengan hal yang paling mendasar," ujar Woo-jin sambil meletakkan kotak kayu berisi elixir di meja. "Anindya, kekuatan Nagual tidak muncul secara tiba-tiba dan meledak-ledak. Ia tumbuh seiring dengan kesadaranmu. Namun saat pertama kali ia bangun, energi itu bisa terasa menggebu dan sulit dikendalikan. Di situlah ramuan ini berperan."

Ia membuka kotak itu, memperlihatkan tiga botol kaca kecil berisi cairan berwarna keemasan yang berkilau lembut diterpa cahaya lampu. "Satu tetes dicampur ke dalam minuman hangat setiap pagi. Cukup untuk menyeimbangkan energi selama tiga bulan. Setelah itu, tubuhmu akan mulai terbiasa dan kamu bisa mengendalikannya sendiri tanpa bantuan."

Sambil mendengarkan penjelasannya, aku teringat rencana yang sempat terucap malam sebelumnya. "Tadi aku sempat berpikir tentang tempat tinggal tambahan. Kalian bilang kafe ini akan menjadi tempat berkumpul dan perlindungan, maka rasanya akan lebih baik jika ada tempat istirahat yang layak bagi mereka yang datang dari jauh."

Jo Jung-won mengangguk setuju. "Ide yang sangat tepat. Tempat ini sudah menjadi zona netral karena kehadiranmu. Jika ada penginapan atau kost yang dikelola dengan prinsip yang sama, maka reputasi tempat ini akan semakin kuat dan dihormati oleh seluruh ras gaib."

"Kita bisa memulainya dari hal sederhana dulu," tambah Kang Ki-won. "Di sebelah kafe ini ada sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak terpakai. Aku mendengar pemiliknya ingin menjualnya dengan harga yang cukup terjangkau. Jika dirapikan, bisa menjadi tempat yang nyaman dengan beberapa kamar.

Seung-hyun yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Jika kamu setuju, aku bisa membantumu mengurus perizinan dan perbaikan. Tidak perlu terburu-buru, tapi sebaiknya disiapkan sebelum banyak yang mengetahui keberadaan tempat ini. Nanti, ketika kedelapan orang yang terkena gigitan itu sudah siap dan bisa diandalkan, mereka juga bisa membantu mengurusnya."

Lihat selengkapnya