Bulan Merah di Ujung Senja

Maghfira Izani
Chapter #6

JEJAK RASA DI TANAH KINCIR ANGIN

Udara di dalam kafe masih terasa hangat meski jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Setelah kepergian Hyun Woo-jin dan yang lainnya, aku masih duduk termenung di meja tengah, memegang salah satu botol elixir yang ditinggalkan. Cahaya keemasan di dalamnya berkilau pelan seolah memiliki nyawa sendiri. Seung-hyun masih tinggal sedikit lebih lama, berdiri di dekat jendela sambil menatap langit yang mulai berubah warna menjadi kelabu pucat.


"Kau yakin ingin melakukannya?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan.


Aku menoleh, meletakkan botol itu dengan hati-hati. "Melakukan apa? Menerima siapa diriku?"


"Melangkah lebih jauh. Menelusuri asal-usulmu. Perjalanan ke luar negeri bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk seseorang yang baru saja mengetahui keberadaan dunia lain."


Aku tersenyum tipis, merasa ada keteguhan yang tumbuh di dadaku. "Selama ini aku hanya tahu separuh dari diriku sendiri. Bagaimana aku bisa hidup tenang jika masih ada begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab? Aku ingin tahu siapa leluhurku, mengapa darahku begitu istimewa, dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan bulan merah itu."


Seung-hyun membalikkan badan, matanya kembali menatapku dengan pandangan yang dalam. "Kalau begitu, persiapkan dirimu. Kita akan berangkat lusa. Tujuan pertama kita adalah Amsterdam, Belanda."


"Amsterdam?" Aku terkejut. "Mengapa ke sana?"


"Di sana tinggal salah satu dari tujuh Nagual yang masih ada. Namanya Lee Jin-hyuk. Ia telah menjaga pengetahuan tentang ras kita selama lebih dari seratus tahun. Ia juga yang menyimpan catatan lengkap tentang ramalan bulan merah. Ia akan dapat menjelaskan semuanya lebih jelas daripada aku."


Aku mengangguk pelan, meski sedikit gugup membayangkan perjalanan yang akan segera dijalani. "Baiklah. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya."


Dua hari berlalu dengan cepat. Aku mengatur agar kafe tetap beroperasi selama aku pergi, ditangani oleh Sari Dewi-karyawanku yang dapat dipercaya-dengan bantuan beberapa pengunjung tetap yang kini tahu sebagian rahasia tempat ini. Rencana pembangunan Wisma Senja juga ditunda sementara waktu sampai aku kembali.


Pagi hari keberangkatan, udara di Seoul terasa dingin dan berembus kencang. Seung-hyun sudah menunggu di depan kafe dengan sebuah mobil hitam yang tampak biasa saja namun terawat sangat baik. Ia mengenakan pakaian kasual berwarna gelap, membuatnya tampak seperti pria bisnis biasa yang akan bepergian.


"Kita akan terbang pagi ini," katanya sambil membukakan pintu mobil. "Perjalanannya sekitar dua belas jam. Kau bisa beristirahat di pesawat."


Perjalanan menuju bandara berjalan tenang. Sepanjang jalan, aku memandangi gedung-gedung tinggi yang perlahan berkurang, berganti dengan pemandangan perbukitan dan sawah yang mulai menguning. Di dalam tas ransel kecilku, selain pakaian dan kebutuhan pribadi, aku menyimpan kotak berisi elixir dan sebuah liontin kecil yang diwariskan ibuku-benda yang selalu aku bawa ke mana pun.


Sesampainya di bandara, segala sesuatunya berjalan lancar. Seung-hyun mengurus semua dokumen perjalanan, seolah ia terbiasa melintasi perbatasan negara dengan mudah. Saat kami duduk di dalam pesawat yang mulai melaju di landasan pacu, jantungku berdebar kencang-bukan karena takut terbang, melainkan karena ini adalah perjalanan pertama yang bukan sekadar liburan, melainkan pencarian jati diri.


"Tenanglah," bisik Seung-hyun di sampingku. "Tidak ada yang akan menyakitimu selama aku ada di sini."


Aku menoleh, melihat ketenangan di wajahnya. "Kau tidak perlu selalu menjagaku seperti ini, kau tahu. Aku bisa berjalan sendiri."


Ia tersenyum tipis, senyum yang jarang ia tunjukkan. "Aku tahu. Tapi itu adalah kewajibanku, sekaligus pilihanku sendiri."


Pesawat melesat naik ke atas awan, meninggalkan tanah Korea di bawah. Seiring dengan perjalanan yang berlangsung berjam-jam, aku perlahan terlelap, diiringi suara dengungan mesin dan gumpalan awan putih yang terlihat seperti kapas raksasa di luar jendela.


Ketika aku terbangun, cahaya matahari sore yang berbeda menyinari wajahku. Pesawat mulai menurunkan ketinggian, dan dari kejauhan terlihat hamparan tanah yang datar dengan banyak aliran air dan bangunan-bangunan tua yang berjejer rapi. Kami telah tiba di Belanda.


Udara di luar terasa lebih sejuk dan lembap, berbau tanah basah dan rumput yang segar. Kami langsung menuju pusat kota Amsterdam, melintasi jalan-jalan sempit yang diapit oleh bangunan berwarna-warni dengan atap yang runcing. Sepanjang jalan terlihat banyak sepeda yang berlalu-lalang, serta kanal-kanal air yang membelah kota, menciptakan pemandangan yang indah dan berbeda dari apa yang biasa aku lihat.


"Kita akan tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota," jelas Seung-hyun saat mobil berjalan perlahan. "Tempat itu aman dan jarang dikunjungi orang asing. Di sanalah Jin-hyuk biasanya tinggal."


Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan dari pusat kota, kami tiba di sebuah jalan kecil yang sepi. Di ujungnya berdiri sebuah bangunan tua berlantai dua dengan dinding bata merah dan jendela-jendela berbingkai kayu. Di halaman depan tumbuh berbagai jenis bunga yang masih mekar meski musim gugur telah tiba.


Seung-hyun mengetuk pintu tiga kali dengan irama tertentu. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipisnya namun tatapan matanya tajam dan penuh wibawa. Ia mengenakan kemeja katun berwarna cokelat dan celana panjang kain, tampak sederhana namun membawa aura yang kuat.


"Seung-hyun," sapa pria itu dengan suara berat namun ramah. "Sudah lama tidak bertemu. Dan kau pasti Anindya Kirana."


Ia menatapku dari ujung kaki hingga kepala, membuatku merasa seolah-olah seluruh rahasia dalam diriku terbaca dengan mudah. "Silakan masuk. Kita bisa bicara di dalam."

Lihat selengkapnya