Udara di Amsterdam terasa lembap dan sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga tulip yang mulai mekar di taman-taman kota. Berbeda dengan hiruk-pikuk Seoul yang penuh gedung pencakar langit, kota ini memancarkan suasana tenang dan sejarah yang kental. Jalanan berbatu yang berkelok, kanal-kanal air yang jernih, serta bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas Eropa seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama berabad-abad.
Aku berdiri di tepi jembatan kecil, memandangi pantulan awan di permukaan air kanal yang tenang. Di sampingku, Seo Seung-hyun berdiri tegak, matanya mengamati sekeliling dengan kewaspadaan yang tak pernah hilang. Indra penciumannya yang tajam menangkap berbagai aroma asing—bunga, kayu tua, air, dan juga sesuatu yang lain, sesuatu yang tersembunyi di balik tembok-tembok bangunan tua.
“Kita sudah sampai di tempat yang ditunjukkan dalam catatan itu,” ucapnya pelan, suaranya hampir tertutup oleh suara langkah kaki pengunjung dan deru sepeda yang melintas. “Namun, energi di sini terasa terkunci. Seolah ada penghalang yang mencegah orang asing masuk tanpa izin.”
Aku mengangguk perlahan, merasakan denyut lembut di dalam dadaku. Darah Nagual yang mengalir di tubuhku berdenyut samar, seolah mengenali tanah ini sebagai bagian dari jejak sejarah leluhurku. “Tempat ini tua. Sangat tua. Dan ia menyimpan rahasia yang tidak sembarangan diperlihatkan.”
Sesuai petunjuk yang tertulis di gulungan pusaka yang kami bawa, lokasi yang kami cari bukanlah perpustakaan umum atau museum terkenal. Melainkan sebuah bangunan kecil yang tersembunyi di gang sempit, jauh dari jalur wisatawan. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong kecil yang berkelok, melewati rumah-rumah yang saling berhimpitan, hingga tiba di depan sebuah bangunan berlantai dua yang tampak sama seperti rumah-rumah lain di sekitarnya. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, ada ukiran-ukiran halus di ambang pintu dan jendela yang berbentuk simbol-simbol kuno—simbol yang sama persis dengan yang ada di kalung pusaka milikku.
“Ini dia,” gumamku.
Seung-hyun melangkah mendekati pintu kayu tua yang tampak kokoh. Sebelum ia sempat mengetuk, pintu itu terbuka perlahan dengan suara berderit pelan. Di ambang pintu berdiri seorang wanita berusia lanjut, dengan rambut perak yang disisir rapi dan mata berwarna cokelat tua yang tajam namun hangat. Ia mengenakan gaun panjang berwarna cokelat tua dengan syal berhias sulaman rumit di lehernya.
“Kalian datang dari seberang lautan, membawa darah yang telah lama hilang,” ucapnya dalam bahasa yang aneh namun bisa aku pahami dengan jelas. “Dan kalian membawa kekuatan yang berbahaya.”
Aku menunduk sedikit sebagai tanda hormat. “Kami datang bukan untuk berbuat jahat. Kami mencari pengetahuan tentang ramalan bulan merah, dan tentang asal-usul warisan yang ada di dalam diriku.”
Wanita itu menatapku lekat-lekat, seolah sedang membaca setiap lapisan sejarah yang tersimpan di dalam tubuhku. Kemudian, ia tersenyum tipis dan menyingkirkan tubuhnya, memberi isyarat agar kami masuk. “Masuklah. Namaku Elara. Aku adalah penjaga tempat ini selama lebih dari tiga ratus tahun. Tidak banyak yang menemukan jalan ke sini, dan lebih sedikit lagi yang diterima masuk.”
Begitu melangkah masuk, suasana di dalam berubah drastis. Dari luar, bangunan ini tampak kecil dan sederhana, namun di dalamnya terasa luas dan tinggi. Dinding-dindingnya dipenuhi rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit, berisi ribuan buku dan gulungan kulit tua yang tersusun rapi. Aroma kertas tua, kayu, dan rempah-rempah halus memenuhi udara, menciptakan suasana yang tenang dan penuh kekaguman.
“Ini adalah Perpustakaan Bayangan,” jelas Elara sambil berjalan di depan kami. “Tempat penyimpanan segala pengetahuan yang dianggap berbahaya atau terlalu asing untuk dibaca oleh manusia biasa. Di sini tersimpan catatan dari berbagai ras, dari berbagai benua, yang ditulis selama ribuan tahun.”
Seung-hyun mengamati sekeliling dengan pandangan penuh rasa hormat. “Apakah di sini ada catatan tentang darah Nagual dan ramalan yang menyertainya?”
Elara berhenti di tengah ruangan, di depan sebuah meja batu besar yang polos. Ia menoleh ke arahku. “Ramalan itu tidak hanya tertulis di atas kertas. Ia tertanam di dalam darahmu sendiri, anak muda. Namun, ada catatan yang bisa menjelaskan bagian-bagian yang mungkin belum kau pahami.”
Ia meletakkan telapak tangannya di atas meja batu, dan secara perlahan, permukaan batu itu mulai berubah, memunculkan gambar dan tulisan yang bersinar samar. “Darah Nagual bukan sekadar warisan keturunan. Ia adalah anugerah sekaligus beban. Ia adalah jembatan yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia gaib, antara yang nyata dan yang rohani. Selama ribuan tahun, pewarisnya dipilih untuk menjaga keseimbangan ini.”
Aku mendengarkan dengan saksama, setiap kata yang diucapkannya terasa penting. “Lalu apa yang akan terjadi saat bulan merah terbit?”
“Bulan merah adalah peristiwa langka yang terjadi setiap seribu tahun sekali,” lanjut Elara, matanya menatap jauh seolah melihat masa lalu. “Saat itu, batas antara dua dunia menjadi sangat tipis. Energi magis menjadi tidak stabil, dan kekuatan yang terpendam akan bangkit. Jika tidak ada yang menyeimbangkannya, kekacauan akan terjadi. Makhluk-makhluk dari dunia lain bisa masuk, dan kekuatan yang tidak terkendali bisa menghancurkan segala sesuatu.”
Seung-hyun mengernyitkan dahi. “Dan darah Nagual menjadi kuncinya?”
“Benar. Ia bisa menjadi penyeimbang, atau bisa menjadi sumber kehancuran, tergantung pada hati dan niat orang yang membawanya. Itulah sebabnya banyak pihak yang menginginkannya—mereka yang ingin menguasai kedua dunia ini akan berusaha memilikinya.”
Elara berjalan menuju salah satu rak buku yang tinggi, lalu menarik sebuah tangga kayu besar dan memanjatnya dengan lincah meski usianya sudah lanjut. Beberapa saat kemudian, ia turun membawa sebuah kotak kayu berukir indah. Ia meletakkannya di atas meja batu dan membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan kulit yang terlihat sangat tua, warnanya kecokelatan namun tulisannya masih terlihat jelas.
“Ini adalah catatan yang ditulis oleh leluhurmu sendiri, lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu,” ucapnya sambil membuka gulungan itu. “Ia pernah datang ke tempat ini, sama seperti yang kau lakukan sekarang.”
Aku mendekat dan membaca tulisan yang tertera. Sebagian besar ditulis dalam simbol-simbol kuno yang aku kenal, namun ada juga bagian yang ditulis dalam bahasa lain. Elara menunjuk salah satu bagian yang digambar dengan tinta merah.
“Ini adalah bagian yang menyebutkan tentang Elixir Penstabil,” jelasnya. “Zat ini dibuat khusus untuk membantu pewaris Nagual mengendalikan energi yang meluap saat bulan merah mendekat. Tanpa itu, kekuatan di dalam dirimu bisa menjadi liar dan sulit dikendalikan, bahkan bisa melukai orang-orang di sekitarmu tanpa sengaja.”
Jantungku berdebar kencang. “Jadi aku harus membuatnya?”
“Ya. Tapi meraciknya tidaklah mudah. Ia membutuhkan bahan-bahan yang sangat langka dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Selain itu, ia tidak bisa dibuat sembarangan. Hanya bisa diracik oleh seseorang yang memiliki niat tulus untuk melindungi, bukan untuk berkuasa. Jika tidak, cairan itu akan berubah menjadi racun yang justru akan mempercepat kerusakan.”
Elara kemudian menjelaskan satu per satu bahan yang dibutuhkan. “Pertama, kalian membutuhkan Debu Bintang yang jatuh di tanah yang belum pernah dijamah manusia. Kedua, Air Suci dari mata air yang tidak pernah membeku meski berada di puncak gunung tertinggi. Ketiga, Akar Bunga Es yang hanya tumbuh di gua yang disinari cahaya bulan purnama. Keempat, Daun Pohon Kehidupan yang tumbuh di hutan yang dijaga oleh makhluk kuno. Dan terakhir, setetes darah Nagual yang diberikan dengan sukarela.
Seung-hyun mencatat setiap detailnya dengan hati-hati. “Di mana kita bisa menemukan bahan-bahan ini?”
“Petunjuknya ada di gulungan ini,” jawab Elara sambil menunjuk peta yang tergambar di samping tulisan. “Bahan pertama ada di pantai selatan benua Australia. Bahan kedua dan ketiga ada di pegunungan utara Eropa. Bahan keempat ada di kedalaman hutan lebat di Asia Timur. Kalian harus pergi ke sana dan meminta izin kepada penjaga masing-masing tempat, karena mereka tidak akan memberikan begitu saja.”
Belum sempat kami mengucapkan terima kasih, tiba-tiba udara di dalam perpustakaan menjadi dingin secara tiba-tiba. Suara angin berhembus kencang terdengar dari luar, meski sebelumnya cuaca di kota terlihat tenang. Cahaya lampu yang menerangi ruangan berkedip-kedip, dan tiba-tiba salah satu jendela kaca pecah berkeping-keping, disertai masuknya angin kencang yang membawa butiran es halus.
Elara segera berdiri tegak, aura kekuatan magis mulai memancar dari tubuhnya, membuat rambut peraknya sedikit melayang. “Mereka sudah menemukan jejak kalian.”