Bulan Merah di Ujung Senja

Maghfira Izani
Chapter #8

Ombak dan misteri pantai selatan

Udara di sekitar Pelabuhan Sydney terasa berbeda. Tidak lagi bercampur bau asap knalpot dan rempah seperti di Seoul, melainkan dipenuhi aroma garam laut yang tajam, segar, dan sedikit menusuk hidung. Angin bertiup kencang, menerbangkan helai rambutku yang terurai, dan membawa suara deburan ombak yang terdengar seperti bisikan raksasa yang sedang terbangun. Langit di ufuk barat berwarna jingga keemasan, pertanda senja mulai turun, namun cahaya matahari masih cukup terang untuk menerangi hamparan pasir putih yang membentang luas.

Aku berdiri di tepi dermaga, memandangi lautan luas yang membentang tak berujung. Di sampingku, Seo Seung-hyun berdiri tegak, matanya menyapu sekeliling dengan waspada yang biasa ia tunjukkan. Indra penciumannya yang tajam menangkap banyak sekali aroma asing—pasir basah, ganggang laut, burung-burung yang terbang rendah, dan juga sesuatu yang lain, sesuatu yang tersembunyi di balik suara ombak.

“Kau merasakannya juga, bukan?” tanyanya pelan, suaranya hampir tertutup oleh deru angin.

Aku mengangguk perlahan. “Ada sesuatu yang tidak biasa di sini. Energinya berbeda dengan yang ada di Eropa atau di Korea. Lebih bebas, namun juga lebih liar.”

Perjalanan dari Amsterdam ke Australia memakan waktu hampir dua hari. Kami membawa serta catatan kuno yang ditemukan di perpustakaan rahasia, yang menyebutkan bahwa di pantai selatan benua ini, terdapat salah satu gerbang alam kuno yang menjaga salah satu potongan ramalan tentang darah Nagual. Konon, tempat ini dijaga oleh makhluk yang telah hidup berdampingan dengan leluhur penduduk asli selama ribuan tahun, makhluk yang sangat menghormati keseimbangan alam dan tidak sembarangan memperlihatkan diri kepada orang asing.

“Kita harus berjalan sekitar dua jam lagi dari sini,” kata Seung-hyun sambil menunjuk ke arah jalur sempit yang terhalang semak belukar di ujung pantai. “Menurut petunjuk peta yang ada di catatan, lokasinya tersembunyi di balik tebing karang yang hanya bisa dilewati saat air laut sedang surut.”

Kami berjalan menyusuri pantai. Pasir di bawah kaki terasa halus dan hangat meski matahari mulai condong ke barat. Suara ombak yang memecah di karang menjadi irama yang menenangkan, namun di dalam ketenangan itu, aku bisa merasakan denyut energi yang perlahan memanggil. Darah di dalam tubuhku terasa sedikit berdenyut, seolah mengenali tanah yang pernah diinjak oleh leluhurku ribuan tahun silam.

Selama perjalanan, Seung-hyun terus mengamati sekeliling. Sesekali ia berhenti, mencium angin, lalu melanjutkan langkahnya. “Ada banyak makhluk halus di sini,” ucapnya tiba-tiba. “Bukan sekadar roh alam biasa. Mereka mengawasi kita dari balik pepohonan.”

“Aku tahu,” jawabku. “Mereka penasaran. Atau mungkin curiga.”

Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah tebing karang besar yang menjorok ke laut. Di celah-celahnya tumbuh tanaman merambat dan bunga-bunga liar yang berwarna cerah. Di depan kami, jalan terhalang oleh air laut yang setinggi pinggang, namun sesuai catatan, saat ini air sedang surut dan ada jalan setapak yang tersembunyi di bawah permukaan.

“Kita harus berjalan melewatinya,” kataku sambil menunjuk ke arah celah di antara dua dinding karang. “Airnya tidak terlalu dalam, tapi arusnya cukup kuat. Hati-hati.”

Kami melangkah masuk. Air laut yang dingin menyentuh kulit, membuat bulu kuduk meremang. Langkah kami pelan dan hati-hati, merasakan dasar karang yang licin dan tidak rata. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ombak besar datang memecah, membasahi tubuh kami hingga ke bahu. Saat air surut kembali, aku melihat sesuatu yang berkilauan di dinding karang di sebelahku—sebuah ukiran tua yang terbuat dari batu pualam.

Gambarnya menggambarkan seekor rubah berekor banyak yang berdiri di samping sosok manusia yang tampak sedang berubah wujud menjadi harimau. Di bawahnya, terdapat simbol-simbol kuno yang mirip dengan yang ada di gulungan pusaka yang aku bawa dari Indonesia.

“Ini dia,” gumamku. “Ini tanda yang disebutkan di catatan.”

Begitu kami melewati celah karang tersebut, pemandangan di depan mata berubah drastis. Di balik tebing, terdapat sebuah teluk kecil yang terlindung, dengan air laut yang sangat jernih dan tenang. Di ujung teluk, terdapat sebuah gua besar yang mulutnya dihiasi tanaman rambat. Di depan gua, duduk sesosok makhluk yang wujudnya setengah manusia, setengah rubah, dengan sembilan ekor indah yang menjuntai di belakangnya. Matanya berwarna keemasan, menatap kami dengan tatapan tajam namun tidak bermusuhan.

“Kalian datang jauh dari seberang lautan,” ucapnya, suaranya merdu namun terdengar berat, seolah terbawa angin yang berhembus ribuan tahun. “Aku Yuriko, penjaga tempat ini. Kalian membawa darah yang kuno, dan juga kekuatan yang berbahaya.”

Seung-hyun melangkah sedikit ke depan, tidak menunjukkan sikap menyerang, namun tetap waspada. “Kami datang bukan untuk berperang. Kami mencari pengetahuan tentang ramalan bulan merah, dan tentang asal-usul darah Nagual yang mengalir di tubuhnya.” Ia menoleh sedikit ke arahku.

Yuriko berdiri perlahan. Tubuhnya tinggi dan anggun, rambutnya berwarna perak yang berkilau terkena cahaya senja. “Banyak yang datang mencari pengetahuan, namun sedikit yang menghormati keseimbangan alam. Kalian membawa dua kekuatan yang sering kali saling bertentangan: darah yang dapat mengubah wujud, dan kekuatan yang memerintah kegelapan malam.”

Aku melangkah maju, menunduk sedikit sebagai tanda hormat. “Aku Anindya. Aku tidak meminta kekuatan untuk berkuasa. Aku hanya ingin tahu siapa diriku, dan mengapa takdir ini menimpaku. Aku takut jika aku tidak mengerti, aku bisa menjadi ancaman bagi diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku.”

Mata Yuriko menyipit, menatap lekat-lekat mataku. Seolah-olah ia sedang membaca sejarah yang tersimpan di dalam darahku. Ia berjalan mendekat, langkahnya ringan seolah tidak menyentuh pasir. “Darah Nagual bukan sekadar warisan, Anindya. Ia adalah jembatan. Ia menghubungkan dunia manusia dengan dunia roh, antara yang nyata dan yang gaib. Namun jembatan itu rapuh. Jika tidak dijaga dengan hati yang bersih, ia bisa menjadi jalan bagi kekacauan.”

Ia berbalik dan menunjuk ke arah gua di belakangnya. “Di dalam sana tersimpan catatan yang ditulis oleh leluhurmu yang pernah datang ke tanah ini berabad-abad yang lalu. Namun, untuk masuk, kalian harus melewati ujian. Bukan ujian kekuatan, melainkan ujian niat.”

Seung-hyun mengernyitkan dahi. “Ujian apa?”

“Kalian harus melihat apa yang paling kalian takuti, dan apa yang paling kalian inginkan,” jawab Yuriko tenang. “Kekuatan yang kalian miliki akan memperbesar hal-hal itu. Jika kalian dikuasai oleh ketakutan atau keserakahan, kalian akan tersesat selamanya di dalam bayangan sendiri.”

Aku menatap mulut gua yang gelap. Dari dalam terasa hembusan angin yang dingin, membawa aroma tanah basah dan bunga yang tidak aku kenal. “Aku siap,” kataku mantap.

Lihat selengkapnya