Bulan Merah di Ujung Senja

Maghfira Izani
Chapter #10

Salju dan Keheningan di Tanah Dingin

Udara di luar terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang meski aku sudah membungkus tubuh dengan mantel tebal berlapis wol. Di sekitarku, hamparan salju putih membentang luas sejauh mata memandang, menutupi pepohonan pinus yang tampak seperti patung-patung raksasa yang tertidur lelap. Langit berwarna abu-abu pucat, seolah menyimpan kabut yang tak kunjung reda, dan angin berhembus pelan membawa suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan halus.

Kami baru saja tiba di daerah pegunungan yang terletak di utara benua Eropa-sesuai petunjuk yang kami dapatkan dari Yuriko di pantai Australia. Tempat ini jauh dari keramaian, sunyi, dan seolah terputus dari dunia luar. Hanya ada keheningan yang pekat, yang membuat setiap langkah kaki kami terasa bergema di antara lembah-lembah beku.

Di sampingku, Seo Seung-hyun berjalan dengan langkah mantap, matanya tetap waspada meski tidak ada tanda-tanda bahaya yang terlihat. Sebagai werewolf, ia bisa menahan suhu yang jauh lebih dingin daripada manusia biasa, namun aku bisa melihat napasnya yang membentuk kabut putih di udara yang semakin dingin.

"Kau merasakannya?" tanyanya pelan, suaranya tertahan sedikit karena hawa dingin. "Energi di sini terasa berbeda-lebih tua, lebih tenang, namun juga penuh rahasia."

Aku mengangguk perlahan, menarik napas panjang meski udara dingin itu membuat paru-paruku terasa sedikit perih. Darah Nagual di dalam tubuhku berdenyut lembut, seolah mengenali getaran kuno yang ada di tanah ini. "Ya. Seolah tempat ini telah menyimpan rahasia selama ribuan tahun, dan tidak sembarangan memperlihatkannya kepada orang asing."

Kami berjalan menyusuri jalur setapak yang tertutup salju, mengikuti petunjuk dari gulungan catatan yang kami bawa. Perjalanan ini memakan waktu hampir dua hari, melewati hutan lebat dan sungai yang telah membeku sepenuhnya. Seiring kami berjalan semakin ke dalam pegunungan, pohon-pohon semakin jarang, dan pemandangan berubah menjadi tebing-tebing batu yang menjulang tinggi, tertutup lapisan es yang berkilauan terkena cahaya matahari yang samar.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba angin berhembus lebih kencang, membawa butiran-butiran salju yang berputar-putar kecil di udara. Di kejauhan, aku melihat sesuatu yang bergerak di antara bayangan pohon. Sesuatu yang besar, berwarna putih keperakan, bergerak dengan anggun di atas salju tanpa meninggalkan jejak yang jelas.

Seung-hyun segera berdiri di depanku, sikapnya waspada. "Jangan bergerak," bisiknya. "Ada sesuatu yang mengawasi kita."

Namun makhluk itu tidak menyerang. Ia hanya berhenti beberapa meter di depan kami, menatap dengan mata yang berwarna keemasan samar. Perlahan, wujudnya berubah-dari hewan besar menjadi sosok manusia tinggi dengan rambut panjang berwarna putih perak, memakai jubah yang terbuat dari bulu hewan langka. Tatapannya tenang, tidak menunjukkan permusuhan, hanya rasa ingin tahu yang mendalam

"Kalian datang dari tempat yang jauh," ucapnya, suaranya berat namun lembut, seolah beresonansi dengan keheningan di sekitar. "Aku tahu mengapa kalian datang. Darah yang mengalir di tubuh wanita itu telah tercium oleh tanah ini sejak lama."

Aku melangkah maju sedikit, tetap waspada namun tidak menunjukkan sikap menantang. "Kami datang mencari pengetahuan tentang ramalan bulan merah, dan tentang cara menyeimbangkan kekuatan yang ada di dalam diriku. Kami tidak datang untuk berperang."

Sosok itu tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Namaku Damar. Aku adalah Qilin, penjaga tanah ini dan penjaga kebenaran. Banyak yang datang ke sini dengan niat serakah, ingin mengambil kekuatan untuk diri mereka sendiri. Tapi kalian membawa niat yang berbeda-setidaknya untuk saat ini."

Ia berbalik dan memberi isyarat agar kami mengikutinya. "Ikutlah. Tempat yang kalian cari ada di balik tebing itu. Namun ingat, di sini tidak ada tipu daya. Semua yang ada di dalam akan terlihat jelas-termasuk isi hati dan niat kalian yang sebenarnya."

Kami mengikuti Damar melewati celah sempit di antara dua tebing batu yang tinggi. Begitu melewatinya, pemandangan di depan mata berubah drastis. Di sana terdapat sebuah lembah tersembunyi yang tertutup salju, namun di tengahnya berdiri sebuah bangunan kuno yang terbuat dari batu besar, dihiasi ukiran-ukiran yang sudah aus dimakan waktu. Di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon yang tetap hijau meski cuaca sangat dingin, dan udara terasa lebih hangat, seolah ada energi yang melindungi tempat ini.

"Ini adalah tempat pertemuan para penjaga pengetahuan kuno," jelas Damar sambil berjalan menuju pintu utama bangunan itu. "Di sini tersimpan catatan yang ditulis oleh berbagai ras selama ribuan tahun-termasuk catatan tentang darah Nagual dan ramalan bulan merah."

Pintu besar yang terbuat dari kayu keras dan besi tua terbuka perlahan saat kami mendekat, seolah mengenali kehadiran kami. Di dalam, ruangan itu luas dan tinggi, dengan dinding yang dipenuhi rak-rak berisi gulungan kulit tua dan buku-buku tebal yang terawat dengan baik. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja batu besar, dan di atasnya tergeletak sebuah gulungan yang berkilauan samar.

Namun sebelum kami bisa mendekat, suara halus terdengar dari sudut ruangan. "Kalian telah melewati pintu pertama, namun belum tentu siap untuk mengetahui semuanya."

Dari balik rak buku, muncul dua sosok lain. Seorang wanita muda dengan rambut panjang berwarna coklat keemasan dan mata yang berbinar seperti api kecil-itu adalah Elara, Feniks yang pernah diceritakan Yuriko. Di sampingnya berdiri Mizuki, naga air kecil yang wujudnya tampak seperti anak manusia berusia sekitar sepuluh tahun dengan rambut berwarna biru keperakan dan kulit yang terasa sejuk saat disentuh.

"Kau membawa darah yang sangat langka," kata Elara sambil menatapku lekat-lekat. "Darah yang bisa menjadi sumber kehidupan, namun juga bisa menjadi kehancuran jika tidak dijaga dengan baik."

Aku mengangguk perlahan. "Aku tahu risikonya. Itulah sebabnya aku datang ke sini. Aku ingin belajar mengendalikannya, agar tidak ada yang terluka karena diriku."

Mizuki melangkah maju, matanya yang besar menatapku dengan penuh perhatian. "Air bisa menenangkan api, dan es bisa menstabilkan panas yang berlebihan. Darahmu memiliki energi yang sangat kuat-saat bulan merah terbit, energi itu akan menjadi liar dan sulit dikendalikan. Itulah sebabnya Elixir Penstabil sangat dibutuhkan."

Seung-hyun mendekat, matanya menyapu seluruh ruangan dengan penuh rasa hormat. "Kami telah mengumpulkan sebagian bahan yang dibutuhkan. Kami memiliki debu bintang dari pantai selatan, namun kami belum mengetahui sisa bahan lainnya dan cara meraciknya dengan benar."

Elara tersenyum tipis, lalu berjalan menuju meja batu dan membuka gulungan yang ada di atasnya. Di atasnya tertulis tulisan kuno yang terbuat dari tinta emas, dihiasi gambar-gambar makhluk mitos dan simbol-simbol yang sama dengan yang ada di catatan leluhurku.

"Ini dia," gumam Elara. "Inilah petunjuk lengkapnya. Elixir Penstabil membutuhkan lima bahan utama: debu bintang yang telah kalian miliki, air suci dari sumber mata air yang tidak pernah membeku, daun pohon kehidupan yang tumbuh di tanah yang disentuh cahaya bulan purnama, akar bunga es yang hanya tumbuh di tempat ini, dan setetes darah Nagual murni yang diberikan dengan sukarela."

Jantungku berdebar kencang. "Jadi aku harus memberikan darahku sendiri?"

"Ya," jawab Damar. "Tetapi ingat-darah itu hanya akan berkhasiat jika diberikan dengan hati yang tulus, bukan karena dipaksa atau takut. Jika niatmu tidak murni, elixir itu akan menjadi racun yang justru akan memperparah kekacauan."

Mizuki menunjuk ke arah lorong kecil di sisi ruangan. "Sumber air suci ada di belakang bangunan ini. Akar bunga es tumbuh di gua di atas bukit sebelah sana. Kalian bisa mengambilnya sekarang, namun kalian harus berhati-hati-tanah di sini tidak sepenuhnya aman. Ada makhluk-makhluk yang terperangkap di dalam es selama berabad-abad, dan energi bulan merah yang semakin dekat mulai membangunkan mereka."

Lihat selengkapnya