Udara terasa berbeda saat kami melintasi batas wilayah yang dipenuhi salju dan memasuki daerah yang lebih rendah. Suhu perlahan naik, menggantikan dingin yang menusuk dengan kehangatan yang lembut namun tetap segar. Salju yang tadinya menutupi seluruh permukaan tanah perlahan menghilang, digantikan oleh rumput hijau yang tumbuh subur dan pepohonan dengan daun-daun lebar yang berkilau terkena sinar matahari. Inilah awal dari tanah tropis yang menjadi tujuan perjalanan kami selanjutnya.
Anindya Kirana berjalan di depanku, matanya berbinar melihat pemandangan yang mulai terasa akrab baginya. Sebagai keturunan Nagual dari Nusantara, tubuhnya seolah merespons perubahan alam ini dengan cara yang tidak bisa kami rasakan. "Udara di sini terasa lebih hidup," ucapnya pelan, menghirup napas dalam-dalam. "Ada energi yang berbeda—panas, namun menyejukkan, seolah alam ini berdenyut dengan irama yang kuno."
Di sampingku, Seo Seung-hyun mengangguk setuju. "Indera penciuman dan pendengaranku menangkap ribuan aroma dan suara yang tidak ada di pegunungan. Bunga-bunga, tanah basah, aliran air, dan... kehadiran makhluk lain yang tidak kami kenal sebelumnya."
Kami berjalan beriringan melewati hutan yang semakin lebat. Sinar matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang menari-nari di atas tanah. Suara burung berkicau, aliran sungai yang jernih, dan gemerisik daun tertiup angin menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Berbeda dengan keheningan pegunungan yang terasa tegang, tanah tropis ini memancarkan kehidupan yang melimpah—namun juga menyimpan rahasia yang sama dalamnya.
Beberapa jam kemudian, kami tiba di sebuah lembah yang luas, dikelilingi oleh perbukitan hijau. Di tengahnya mengalir sungai yang airnya jernih hingga terlihat batu-batu halus di dasarnya. Di sepanjang tepiannya tumbuh berbagai jenis tanaman obat dan bunga-bunga berwarna-warni yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Ini adalah wilayah yang dijaga oleh kaum Therianthropes," jelas Anindya sambil berhenti sejenak untuk memeriksa sekeliling. "Mereka adalah makhluk yang bisa berubah menjadi hewan-hewan asli Nusantara, dan hidup selaras dengan alam selama ribuan tahun. Mereka tidak suka gangguan dari luar, namun juga tidak memusuhi siapa pun yang datang dengan niat baik."
Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, terdengar suara gemerisik dari balik semak-semak. Beberapa detik kemudian, muncul beberapa sosok yang mengenakan pakaian sederhana dari serat tumbuhan, dengan tatapan waspada namun tidak bermusuhan. Mereka memiliki ciri-ciri fisik yang halus berbeda—ada yang memiliki mata seperti elang, telinga yang sedikit runcing, atau rambut yang berkilau seperti bulu hewan.
Seorang pria yang tampak sebagai pemimpin mereka melangkah maju. "Aku tahu siapa kalian," ucapnya dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Aku adalah Bayu, pemimpin kaum Therianthropes di lembah ini. Kehadiran Nagual Darah Utama sudah kami rasakan sejak kalian memasuki wilayah kami."
Anindya memberi salam dengan cara tradisionalnya. "Aku Anindya Kirana, dan ini adalah teman-temanku. Kami datang bukan untuk mengganggu, melainkan mencari pengetahuan dan persekutuan dalam menghadapi ancaman yang mulai mengancam keseimbangan dunia kita."
Bayu menatap kami satu per satu, matanya berhenti sejenak pada Seung-hyun yang berdiri tegak dengan sikap waspada sebagai Alpha werewolf. "Kalian membawa energi yang kuat—dan juga beban yang berat. Mari ikut kami, kami akan berbicara di tempat yang lebih aman."
Kami mengikuti mereka menuju sebuah permukiman kecil yang tersembunyi di antara pepohonan besar. Rumah-rumah mereka dibangun dengan memanfaatkan alam tanpa merusaknya, terbuat dari kayu dan daun-daun yang disusun rapi. Di tengahnya terdapat sebuah lapangan terbuka dengan pohon beringin tua yang rindang, di mana kami dipersilakan duduk. Seorang wanita muda membawa air kelapa segar dan buah-buahan tropis yang manis dan menyegarkan.
Saat kami menikmati hidangan itu, Bayu mulai bercerita. "Tanah tropis ini telah menjadi rumah bagi berbagai ras gaib selama berabad-abad. Di sini tidak hanya ada kami—Therianthropes—tetapi juga kelompok Nagual yang lebih kecil, penyihir yang menguasai sihir alam, dan bahkan beberapa vampir yang memilih hidup damai daripada mengikuti jalan kegelapan."
Mendengar kata vampir, aku dan Seung-hyun saling bertukar pandang. "Vampir yang hidup damai?" tanyaku dengan rasa ingin tahu. "Selama ini kami hanya mendengar tentang mereka yang memburu manusia dan menimbulkan ketakutan."