Cahaya senja mulai merayap masuk melalui celah-celah bebatuan gua, mewarnai dinding-dindingnya dengan nuansa keemasan yang lembut. Di depan kami, Arjuna masih berdiri tegak, tatapannya tenang namun penuh ketegasan. Setelah mengungkapkan keinginan untuk bergabung, suasana di dalam ruangan itu terasa berbeda-tidak lagi dipenuhi rasa curiga, melainkan mulai tumbuh benih kepercayaan yang perlahan berkembang.
Anindya Kirana menatap Arjuna dengan pandangan yang penuh penghargaan. Sebagai Nagual yang juga menjaga keseimbangan alam, dia bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari sosok pria itu. "Selama ini kami mendengar banyak cerita menakutkan tentang vampir-tentang haus darah yang tak terpuaskan, tentang kekejaman dan keinginan untuk menguasai. Namun apa yang kami lihat di sini sungguh berbeda. Kalian telah membuktikan bahwa ada jalan lain selain yang telah ditetapkan oleh sebagian besar ras kalian."
Arjuna tersenyum tipis, senyum yang menyimpan beban sejarah yang panjang. "Cerita itu lahir dari ketakutan dan kesalahpahaman. Memang benar bahwa naluri dasar kami terikat pada darah-sebagaimana werewolf memiliki naluri berburu, atau penyihir memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan jika tidak dikendalikan. Namun naluri bukanlah takdir. Selama ribuan tahun, kami belajar bahwa kekuatan yang tidak diatur hanya akan membawa kehancuran, baik bagi diri sendiri maupun orang lain."
Dia kemudian mempersilakan kami untuk berkeliling melihat kehidupan di dalam gua dan sekitarnya. Kami mengikutinya melewati lorong-lorong yang dihiasi oleh tanaman merambat dan kristal alami yang memancarkan cahaya redup. Di setiap sudut, terlihat aktivitas yang damai: ada yang sedang merawat kebun tanaman obat yang tertata rapi, ada yang sedang menyalin catatan kuno ke atas lembaran daun lontar, ada pula yang sedang duduk termenung seolah berkomunikasi dengan alam di sekitarnya.
"Ini adalah tempat perlindungan kami selama lebih dari tiga ratus tahun," jelas Arjuna sambil berjalan di samping kami. "Ketika kami memutuskan untuk meninggalkan kelompok utama, kami harus berjuang keras-baik melawan penolakan dari sesama vampir maupun melawan kebutuhan tubuh kami sendiri. Awalnya sangat sulit. Tubuh kami meronta, meminta apa yang selama ini menjadi sumber kehidupan kami. Namun keyakinan kami bahwa ada cara lain membuat kami terus berusaha."
Dia mengajak kami ke sebuah ruangan terbuka di bagian belakang gua, yang langsung menghadap ke arah lembah yang luas. Di sana, di tengah-tengah kolam air jernih, tumbuh berbagai jenis tanaman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Daun-daunnya berkilau dengan cahaya alami, dan getahnya berwarna kemerahan yang lembut.
"Ini adalah hasil penelitian kami selama puluhan tahun," ucap Arjuna sambil menunjuk ke arah tanaman-tanaman itu. "Kami menemukan bahwa kombinasi getah tumbuhan ini, dicampur dengan madu hutan dan sedikit darah hewan yang diambil tanpa menyakiti, dapat memenuhi kebutuhan energi tubuh kami. Prosesnya tidak instan. Kami harus melatih tubuh dan pikiran kami secara terus-menerus, mengubah pola pikir dan kebiasaan yang telah ada selama berabad-abad."
Seo Seung-hyun, yang selama ini memandang dengan waspada, mulai menunjukkan rasa hormat. "Sebagai Alpha werewolf, aku mengerti betapa sulitnya mengendalikan naluri dasar. Ada saat-saat di mana keinginan untuk berubah dan berburu terasa begitu kuat, seolah akan merobek tubuh sendiri. Jika kalian berhasil melakukannya selama ratusan tahun, itu menunjukkan disiplin dan kekuatan batin yang luar biasa."
"Kekuatan yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa banyak yang bisa kita ambil atau hancurkan," jawab Arjuna dengan tegas. "Melainkan tentang seberapa besar kita bisa mengendalikan diri dan memilih jalan yang benar, meskipun itu lebih sulit dan penuh pengorbanan."
Malam mulai turun, dan kami dipersilakan untuk bermalam di tempat yang telah disiapkan. Malam itu, aku terbangun karena merasakan kehadiran seseorang di luar tempat peristirahatan. Ketika melangkah keluar, aku melihat Arjuna sedang duduk sendirian di tepi kolam, menatap ke arah bulan yang mulai terbit-belum merah, namun sudah tampak besar dan terang.
"Kau juga terjaga?" tanyanya tanpa menoleh, seolah sudah mengetahui kehadiranku.
Aku mendekat dan duduk di sampingnya. "Aku penasaran. Mengapa kalian memilih jalan yang begitu sulit? Mengapa tidak mengikuti apa yang dianggap 'alamiah' oleh sebagian besar ras kalian?"