Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #1

Bisikan leluhur

Waktu seolah berhenti berputar di puncak gunung yang tertutup kabut tebal. Di sana, jauh dari jangkauan manusia biasa yang sibuk dengan urusan duniawi—mencari nafkah, mengejar mimpi, atau sekadar bertahan hidup—berdiri sebuah lingkaran batu raksasa yang telah menyaksikan pergantian zaman selama ribuan tahun. Lumut hijau tua menutupi sebagian permukaannya, namun ukiran-ukiran kuno yang melambangkan elemen alam: tanah, air, api, udara, dan jiwa, masih terlihat jelas, seolah memancarkan energi lembut yang melindungi tempat itu dari gangguan apa pun. Angin berhembus pelan di antara celah-celah bebatuan, membawa suara bisikan halus yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki darah kuno—bisikan tentang keseimbangan, tentang pengorbanan, tentang takdir, dan tentang sebuah kekuatan yang tidak boleh jatuh ke tangan yang salah.

Ratusan tahun yang lalu, ketika dunia masih muda dan batas antara alam manusia dan alam gaib belum setebal sekarang, hidup sebuah ras yang menjadi penyeimbang segala sesuatu. Mereka disebut Nagual. Tidak seperti serigala manusia yang terikat pada siklus bulan dan kekuatan fisiknya, tidak seperti vampir yang bergantung pada darah dan memiliki kecepatan luar biasa, tidak pula seperti penyihir yang meminjam kekuatan dari alam melalui mantra dan ramuan. Nagual dilahirkan dengan kemampuan alami untuk memahami, merasakan, mengendalikan, dan menyeimbangkan seluruh energi yang ada di semesta. Darah mereka adalah jembatan yang menghubungkan dua dunia; keberadaan mereka adalah jaminan bahwa tidak ada satu kekuatan pun yang akan tumbuh terlalu besar hingga menghancurkan yang lain.

Mereka bisa berubah wujud menjadi hewan apa pun yang mereka inginkan, bukan hanya satu jenis; mereka bisa membaca pikiran tanpa harus memaksa; mereka bisa menyembuhkan luka yang parah hanya dengan sentuhan; dan yang paling penting: mereka bisa menetralkan kekuatan apa pun, baik itu sihir terkuat maupun amukan makhluk paling buas. Karena itulah, mereka dihormati dan disegani oleh semua ras. Namun, kekuatan yang begitu besar sering kali menjadi sumber keinginan yang tak terpuaskan.

Banyak kalangan, baik dari dunia gaib maupun manusia yang haus kekuasaan, mulai mengincar darah Nagual. Mereka percaya bahwa dengan menyerap esensi kehidupan tersebut, mereka akan mendapatkan keabadian dan kekuatan yang tak tertandingi. Perang besar pun berkobar, memecah kedamaian yang telah terjalin berabad-abad lamanya. Ras Nagual yang memang jumlahnya tidak banyak sejak awal—karena mereka dilahirkan bukan diciptakan, dan hanya satu dari seribu keturunan yang memiliki darah murni—berkurang drastis. Banyak yang gugur melindungi garis keturunannya, sementara yang lain terpaksa bersembunyi, menyebar ke seluruh penjuru bumi: ke hutan-hutan lebat Amerika, pegunungan Eropa, gurun Afrika, hingga kepulauan Asia Tenggara. Mereka memisahkan diri satu sama lain agar tidak mudah diburu, dan menyembunyikan identitas mereka bahkan dari keturunan mereka sendiri, agar tidak ada yang bisa melacak keberadaan mereka.

Garis keturunan mereka perlahan menjadi samar, bercampur dengan manusia biasa, hingga akhirnya kisah tentang mereka hanya tinggal legenda yang diceritakan dalam bisikan, dianggap sebagai dongeng pengantar tidur belaka. Hanya sedikit yang masih menyimpan pengetahuan itu: para tetua klan, penyihir agung, dan penjaga sejarah kuno.

Namun, ramalan yang tertulis di atas gulungan kulit dan dinding gua-gua suci tidak pernah berbohong.

Di dalam ruang penyimpanan rahasia perpustakaan gaib Eropa, tersimpan sebuah gulungan kuno yang terbuat dari kulit rusa langka, tulisannya berwarna keemasan yang tidak pernah pudar meski telah disimpan selama dua ribu tahun. Di sana tertulis jelas dalam bahasa kuno yang hanya dipahami oleh sedikit orang:

"Ketika langit malam berubah warna menjadi merah darah, dan bintang-bintang seolah meredup tak berdaya, ketika bulan purnama memancarkan cahaya yang tidak wajar, sang penyeimbang akan terlahir kembali. Darah yang paling murni akan berdenyut di tengah hiruk-pikuk dunia modern, di tempat dua budaya bertemu, membawa harapan sekaligus malapetaka. Di tangan sang pembawa takdir, terletak pilihan: membiarkan dua dunia terpecah dan hancur, atau menyatukan kembali apa yang telah lama terpisah dan menjaga kedamaian selamanya. Bersama tujuh saudaranya yang tersebar, mereka akan menentukan nasib semua makhluk."

Dan saat yang diramalkan itu semakin dekat. Hitungan hari telah dimulai, dan energi alam mulai berubah secara perlahan namun pasti.

Di tengah gemerlapnya lampu kota Seoul yang tak pernah tidur, di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan lalu lintas yang selalu padat, terdapat sebuah gang kecil yang agak tersembunyi. Berbeda dengan hiruk-pikuk jalan raya utama yang bising dan penuh asap, suasana di sana terasa lebih tenang, seolah waktu berjalan sedikit lebih lambat dan udaranya terasa lebih segar. Pepohonan tua yang tumbuh di sepanjang gang memberikan naungan, dan bunga-bunga kecil yang tumbuh di sela-sela batu jalan memancarkan aroma lembut. Di sudut gang itu, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang tampak unik dan berbeda dari sekelilingnya.

Itu adalah sebuah kafe bernama Senja Nusantara. Papan namanya terbuat dari kayu jati yang diukir dengan sangat indah, tertulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Korea, dihiasi motif batik parang yang terlihat megah namun tetap sederhana. Jendela kacanya besar dan lebar, membiarkan cahaya matahari masuk dengan leluasa, dan dari baliknya sering kali tercium aroma rempah yang khas—campuran harum serai, jahe, kayu manis, dan santan yang kental—yang mampu mengingatkan siapa saja yang menciumnya pada tanah seberang lautan yang jauh. Di pintu masuknya tertera jelas jam operasional: 08.30 - 23.50.

Di dalam kafe itu, seorang wanita berusia tepat dua puluh sembilan tahun sedang sibuk memeriksa persediaan bahan makanan dan menyusun meja-meja pelanggan. Namanya Anindya Kirana. Ia adalah gadis yatim piatu yang sejak usia balita sudah tidak memiliki orang tua maupun kerabat dekat sama sekali. Selama hidupnya, ia tumbuh dan berjuang berdiri di sebuah panti asuhan sederhana di Jawa Tengah, tidak pernah tahu siapa leluhurnya atau dari mana asal keluarga aslinya. Tidak ada cerita tentang kakek, nenek, atau saudara yang bisa ia dengar. Ia sendirian, belajar mengandalkan diri sendiri sejak kecil, mencari arti tempat berlabuh yang bisa ia sebut "rumah".

Lihat selengkapnya