Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #2

Aroma Nusantara di Tengah Kota Seoul

Udara sore di kawasan Gangnam, Seoul, biasanya dipenuhi bau asap knalpot kendaraan yang berdesakan, debu jalanan yang beterbangan di antara gedung pencakar langit, dan aroma kopi sangrai yang kuat dari kafe-kafe modern berlantai kaca yang berjejer rapi di sepanjang trotoar. Namun, di sudut sebuah jalan kecil yang agak tersembunyi, terjepit rapat di antara gedung perkantoran berlantai sepuluh dengan fasad kaca yang memantulkan sinar matahari, dan butik pakaian mewah yang jendelanya dipenuhi manekin berpakaian musim terbaru, terdapat sebuah bangunan dua lantai yang tampak sangat berbeda dari sekelilingnya.

Dindingnya dicat warna krem lembut yang sudah mulai memudar sedikit karena paparan angin kota, dengan hiasan ukiran kayu berornamen tradisional Jawa yang membingkai setiap jendela dan pintu. Di atas pintu masuknya yang terbuat dari kayu jati tua yang kokoh, tergantung papan nama berukuran sedang yang diukir dengan sangat teliti: KAFE SENJA NUSANTARA. Di bawah tulisan itu, terdapat motif batik parang yang halus, garis-garisnya berkilau terkena sinar matahari sore yang mulai meredup ke arah ufuk barat. Tepat di sebelah kiri bangunan kafe itu, berdiri bangunan serupa yang sedikit lebih tinggi dengan papan nama bertuliskan KOST RUMAH SENJA ABADI, tempat tinggal yang terbuka 24 jam bagi siapa saja yang membutuhkan ketenangan, tempat untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang tak pernah tidur.

Begitu pintu kafe didorong terbuka, setiap pengunjung akan langsung disambut oleh aroma yang hangat dan mengundang selera—campuran harum rempah-rempah seperti serai segar, jahe yang baru direbus, lengkuas, dan kayu manis yang menyebar lembut di udara, bercampur dengan wangi kelapa parut dan gula merah yang sedang dimasak di dapur belakang. Suasana di dalamnya terasa jauh lebih tenang, hangat, dan akrab dibandingkan hiruk-pikuk jalanan yang terdengar samar seperti gemuruh jauh di balik dinding tebal. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan tangan pemandangan alam Indonesia: sawah berundak di kaki gunung, pantai dengan ombak yang memecah karang, hingga desa yang tenang di bawah langit senja. Di sudut-sudut ruangan tersusun keranjang anyaman rotan, pelangi khas suku Dayak, wayang kulit yang tergantung rapi, dan beberapa alat musik tradisional seperti gamelan kecil, suling bambu, dan angklung. Di sudut ruangan sebelah kanan, terdengar alunan musik gamelan yang lembut berpadu dengan suara suling yang mendayu, menciptakan suasana yang menenangkan dan membuat siapa pun yang masuk seolah dibawa pergi ke tempat yang jauh dari kebisingan modern. Jam dinding yang terbuat dari kayu mahoni tua di sudut ruangan menunjukkan pukul delapan belas lewat sepuluh menit—sebentar lagi matahari akan benar-benar tenggelam, dan kafe ini akan tetap melayani pengunjung hingga pukul dua puluh tiga lewat lima puluh menit malam, waktu yang sengaja dipilih agar siapa pun yang datang bisa menikmati waktu senja hingga larut malam tanpa terburu-buru.

Di balik meja kasir yang terbuat dari kayu solid yang halus permukaannya, berdiri Anindya Kirana, wanita berusia dua puluh sembilan tahun dengan rambut hitam panjang lurus yang tergerai hingga punggung, sesekali ditiup angin dari kipas gantung yang berputar pelan. Kulitnya berwarna sawo matang yang halus dan bersih, dan sepasang mata cokelat bening yang selalu memancarkan kelembutan, namun juga menyimpan keteguhan yang tak terlihat oleh siapa saja. Ia mengenakan kemeja katun berwarna gading dengan kancing kayu, dan rok panjang bermotif batik kawung berwarna cokelat tua yang jatuh anggun di bawah lutut, lengkap dengan celemek berwarna cokelat muda yang terikat rapi di pinggang. Di tangannya yang lentik, ia sedang menyusun tumpukan piring keramik bermotif bunga melati dan gelas kaca tebal dengan gerakan yang terlatih, cepat namun tetap anggun tanpa ada satu pun yang berisik atau tergelincir.

Sudah hampir tiga tahun sejak Anindya meninggalkan kampung halamannya yang tenang di lereng gunung di Jawa Tengah, berpisah dari rumah kayu tempat ia tumbuh besar bersama neneknya, dan merantau ribuan kilometer ke Korea Selatan. Berbekal tabungan hasil bekerja selama lima tahun di berbagai tempat, semangat yang membara namun juga rasa takut yang tak pernah ia katakan pada orang lain, dan sedikit keberuntungan yang ia yakini sebagai doa neneknya yang selalu menyertainya, ia akhirnya mewujudkan impian yang sudah ia simpan sejak masih bersekolah menengah: membuka kafe yang menyajikan masakan asli Indonesia, dengan cita rasa yang sama persis seperti yang dimasak neneknya di dapur rumah tua itu. Awalnya, banyak orang meragukan usahanya—teman sesama perantauan mengatakan persaingan di sini terlalu ketat, tetangga lokal bertanya-tanya siapa yang akan menyukai makanan dengan bumbu yang begitu kuat dan pedas, bahkan beberapa pebisnis lokal menertawakan gagasannya membuka tempat dengan suasana yang begitu berbeda dari selera warga Seoul. Namun, seiring berjalannya waktu, Kafe Senja Nusantara justru menjadi tempat yang populer, bahkan menjadi seperti rumah kedua bagi banyak orang. Tidak hanya di kalangan warga Indonesia yang tinggal, bekerja, atau belajar di Seoul yang rindu masakan kampung halaman, tetapi juga banyak warga lokal dan wisatawan asing yang penasaran, lalu jatuh cinta pada cita rasa yang unik, kaya rempah, dan penuh kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain.

"Anin, pesanan untuk meja nomor tiga sudah siap!" panggil suara perempuan yang renyah dan ceria dari arah pintu dapur yang tertutup tirai kain bermotif daun pisang.

Anindya menoleh seketika, wajahnya langsung tersenyum lebar saat melihat sahabat sekaligus karyawan pertamanya, Sari Dewi, yang muncul membawa nampan besar berisi sepiring nasi uduk yang pulen lengkap dengan orek tempe, telur balado, bihun goreng, dan kerupuk udang, serta segelas es cendol berwarna hijau cerah dengan santan kental dan gula merah cair di atasnya. Sari adalah wanita seumuran dengan Anindya, asal Jawa Timur yang juga merantau ke Seoul setahun setelah Anindya tiba, dan sejak hari pertama kafe ini dibuka, ia telah berada di sini—membantu membersihkan bangunan tua itu, mencoba resep-resep masakan bersama Anindya, hingga menjadi koki andalan yang tak tergantikan. Tidak ada panggilan berlebihan di antara mereka, hanya keakraban yang tumbuh bersama waktu dan perjuangan yang sama-sama dijalani.

"Terima kasih banyak, Sar! Biarkan aku yang mengantarkannya, sekalian menyapa pelanggan lama kita itu," jawab Anindya sambil berjalan cepat mendekat, lalu menerima nampan itu dengan hati-hati agar kuah atau gula merah tidak tumpah.

Sari mengangguk sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung celemek. "Iya, kamu hati-hati ya. Tuan Park itu selalu terlihat lebih tenang kalau disapa langsung olehmu. Entah kenapa, seolah ada sesuatu yang membuatnya merasa damai saat berbicara denganmu."

Anindya hanya tersenyum tipis mendengarnya, lalu berjalan perlahan menuju meja yang terletak tepat di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan kecil. Di sana duduk seorang pria paruh baya yang sudah sering datang ke kafe ini selama beberapa bulan terakhir, biasanya datang di waktu yang sama setiap hari Selasa dan Kamis sore, selalu memesan menu yang sama, dan selalu duduk di tempat itu tanpa pernah bergeser. Ia adalah pria berpenampilan rapi dengan kemeja lengan panjang berwarna netral yang dikancing rapi, celana kain berwarna gelap, rambut yang mulai memutih di bagian pelipis namun masih banyak yang hitam, dan raut wajah yang tegas namun lembut. Yang paling menonjol adalah matanya—mata yang tampak sudah melihat banyak hal, tajam namun penuh kebijaksanaan, seolah mampu membaca apa yang tersembunyi di balik kata-kata seseorang.

"Silakan dinikmati makanannya, Tuan Park," ucap Anindya dengan nada sopan namun akrab saat meletakkan nampan di atas meja kayu yang sudah dipoles halus. Ia menata piring dan gelas dengan rapi, lalu meluruskan sedikit alas taplak rotan di bawahnya.

Pria itu mengangkat wajahnya perlahan dari jendela yang tadi ia pandangi, lalu menatap Anindya dengan pandangan yang dalam, seolah sedang meneliti sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa, sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam jiwa.

"Terima kasih, Nona Anindya," jawabnya dengan suara yang rendah, tenang, dan berwibawa, namun tidak menakutkan sama sekali. "Seperti biasa, aromanya saja sudah mampu menenangkan hati yang gelisah dan pikiran yang kusut setelah seharian berurusan dengan hal-hal yang melelahkan."

Anindya tersenyum tulus mendengar pujian itu. "Saya sangat senang Anda menyukainya. Semoga hidangan ini bisa memberikan sedikit kehangatan dan kenyamanan di tengah kesibukan Anda yang tak pernah berhenti."

Sebelum Anindya sempat berbalik dan kembali ke meja kasir, pria itu kembali berbicara, nadanya menjadi lebih pelan, lebih serius, seolah ingin memastikan hanya Anindya yang mendengarnya. "Bukan hanya makanannya, Nak. Bukan pula hanya aroma rempah atau suasana ruangan ini. Tempat ini... dan dirimu... memiliki energi yang sangat berbeda. Seolah-olah ini adalah tempat perlindungan yang aman, tempat di mana energi buruk, kecemasan, dan beban berat tak bisa masuk begitu saja. Siapa pun yang masuk ke sini akan merasa seolah beban pundaknya sedikit berkurang."

Anindya terdiam sejenak, tangannya yang semula hendak memegang nampan kosong terhenti di udara. Bukan kali ini saja ia mendengar komentar seperti itu. Beberapa pelanggan pernah berkata hal yang mirip—bahwa mereka merasa lebih tenang setelah duduk beberapa saat di sudut ruangan tertentu, bahwa sakit kepala yang mereka rasakan sejak pagi perlahan hilang begitu saja, atau bahkan bahwa mereka merasa lebih ringan dan berani menghadapi masalah setelah berbicara sebentar dengannya. Anindya sendiri tidak tahu persis alasannya. Sejak kecil, ia memang memiliki kepekaan yang berbeda dari orang lain. Ia bisa merasakan perubahan suasana hati orang lain hanya dengan melihat ekspresi wajah mereka, bahkan sebelum mereka mengucapkan sepatah kata pun. Ia bisa meramalkan cuaca yang akan datang jauh sebelum berita disiarkan di televisi atau ponsel—ketika dadanya terasa sesak dan angin terasa berbau tanah basah, pasti hujan lebat akan turun dalam waktu dua jam. Kadang-kadang, ia bisa mendengar bisikan lembut dari alam sekitarnya: suara pepohonan yang bercerita tentang musim yang berubah, suara air sungai yang memperingatkan bahaya, atau suara angin yang membawa kabar dari tempat jauh. Ia selalu menganggapnya sebagai kepekaan biasa, sesuatu yang dibawa sejak lahir dan sering terjadi pada orang-orang yang tumbuh dekat dengan alam seperti dirinya.

"Saya hanya berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan menyambut bagi semua orang, Tuan Park," jawab Anindya dengan sopan, berusaha menyembunyikan rasa penasaran dan sedikit kebingungannya. "Saya percaya bahwa kehangatan hati bisa terasa meski hanya melalui cara kita menyambut tamu dan menyiapkan makanan."

Pria itu tersenyum samar, senyum yang terasa penuh makna dan seolah menyimpan banyak rahasia yang belum waktunya diungkapkan. "Suatu hari nanti, kamu akan memahami bahwa hal itu bukanlah kebetulan semata. Darah yang mengalir di tubuhmu memiliki kekuatan yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dari yang kamu bayangkan selama ini. Jagalah dirimu baik-baik, Nak. Karena mata-mata yang tidak terlihat, mata-mata yang menginginkan apa yang kamu miliki, sedang mulai mengarah ke tempat ini dengan semakin jelas."

Sebelum Anindya sempat bertanya apa maksudnya yang sebenarnya, siapa mata-mata itu, atau kekuatan apa yang dimaksud, pria itu sudah menundukkan kepalanya dan mulai menikmati nasi uduk di hadapannya dengan tenang, seolah tidak pernah mengucapkan kata-kata yang begitu berat dan membingungkan tadi. Anindya mengerutkan kening sejenak, menatap punggung pria itu yang tampak begitu damai, lalu merasakan bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas. Ia memandang sekeliling ruangan yang masih ramai namun tenang, mendengar suara tawa pelan dan percakapan lembut antar pengunjung, melihat cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela dan menciptakan bayangan panjang di lantai. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang mencurigakan, semuanya tampak seperti hari-hari biasanya. Mungkin pria itu hanya terlalu banyak berkhayal, atau memang sering berbicara dengan cara yang penuh teka-teki, pikirnya. Ia menggeleng pelan untuk menghilangkan rasa bingung yang masih tersisa, lalu kembali ke meja kasir untuk melayani pengunjung lain.

Jam dinding bergerak perlahan menunjuk angka delapan belas lewat dua puluh menit. Tepat saat itu, lonceng kecil berwarna perak di atas pintu berdentang nyaring, menandakan ada orang yang baru masuk. Anindya menoleh seketika, dan seketika itu juga gerakannya terhenti di udara, kain lap yang dipegangnya hampir terlepas dari tangan.

Seorang pria melangkah masuk ke dalam kafe, menutup pintu pelan di belakangnya sehingga suara bising dari luar teredam kembali. Ia memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap, bahunya lebar namun tubuhnya tetap ramping, mengenakan jas hitam sederhana tanpa pola yang berlebihan namun terlihat sangat mahal dan pas di tubuhnya, seolah dipesan khusus untuknya. Rambutnya berwarna hitam legam yang disisir rapi ke belakang, menyisakan sedikit helai di dahi, dan wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung yang mancung proporsional, serta bibir yang tipis namun bentuknya indah—semuanya memancarkan wibawa yang kuat namun tidak menakutkan. Namun, yang paling menarik perhatian Anindya hingga ia tak bisa memalingkan wajah adalah matanya: mata berwarna cokelat gelap, hampir hitam, yang tampak tajam dan penuh perhatian, namun di kedalaman matanya tersembunyi kelembutan dan kesedihan yang sulit dijelaskan, seolah ia telah menunggu sesuatu selama waktu yang sangat lama. Sesaat pandangan mata mereka bertemu, dan jantung Anindya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas, seolah ada tali tak kasat mata yang menarik perhatiannya tak terhindarkan. Ia merasakan aliran energi yang hangat namun kuat, menenangkan sekaligus membuatnya terkejut, mengalir perlahan dari dada ke seluruh sekujur tubuhnya—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya seumur hidupnya.

Pria itu berhenti sejenak tepat di ambang pintu, matanya bergerak perlahan mengamati seluruh ruangan: mulai dari lukisan di dinding, alat musik tradisional, hingga pengunjung yang masih ada, dengan pandangan yang teliti dan cermat, seolah sedang memeriksa sesuatu yang hilang yang akhirnya ia temukan. Ketika pandangannya kembali tertuju pada Anindya yang masih terpaku di tempat, ia melangkah maju dengan langkah yang tenang, mantap, dan tidak terburu-buru.

"Selamat sore," sapanya dengan suara yang dalam, berat, namun terdengar sangat lembut dan tenang, seolah suaranya bergetar selaras dengan alunan musik di ruangan itu. "Apakah masih ada tempat duduk kosong untuk saya?"

Anindya tersadar dari lamunannya yang panjang, pipinya terasa memerah tanpa sadar, dan ia mengangguk cepat beberapa kali sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu tidak beraturan. "Tentu saja masih ada. Silakan ikut saya."

Ia berjalan di depan pria itu, menuntunnya menuju meja kosong yang terletak di sudut yang agak terpisah dari pengunjung lain, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di seberang jalan yang mulai diterangi lampu taman. "Silakan duduk di sini. Tempat ini biasanya sejuk dan tenang di waktu seperti ini. Ada yang bisa saya bantu, atau ingin melihat daftar menu terlebih dahulu?"

Pria itu duduk dengan anggun di kursi kayu yang tersedia, melipat tangannya di atas meja, dan matanya masih tidak lepas menatap wajah Anindya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya ingin mencoba makanan khas tempat ini. Apa yang paling direkomendasikan oleh pemiliknya sendiri? Makanan yang paling mewakili jiwa dari kafe ini."

Lihat selengkapnya