Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #9

Kitsune yang menjaga hutan

Udara di pedalaman hutan Australia terasa berbeda-tidak lagi asin seperti di pantai, melainkan sejuk, lembap, dan diisi aroma khas kayu eukaliptus yang bercampur dengan wangi bunga liar yang jarang ditemukan di tempat lain. Jalan setapak yang kami lalui semakin sempit, tertutup rimbunnya semak belukar dan dahan pohon tua yang saling bertautan membentuk kanopi alami yang menutupi sebagian besar cahaya matahari. Sejak meninggalkan pantai dan Yuriko dua hari lalu, perjalanan kami terasa semakin sunyi, seolah alam di sekitar sengaja menyembunyikan dirinya dari orang asing.


"Kita sudah memasuki wilayah yang dijaga," ujar Seo Seung-hyun tiba-tiba, suaranya rendah namun jelas. Ia berhenti sejenak, mencium angin yang berhembus pelan, matanya yang tajam mengamati setiap sudut pepohonan. "Aku mencium sesuatu-bukan bahaya, tapi peringatan. Seolah ada yang memantau setiap langkah kita."


Aku mengangguk setuju. Sejak tadi pagi, denyut di dalam dadaku terasa semakin kuat. Darah Nagual yang mengalir di tubuhku seolah memiliki kesadaran sendiri, beresonansi dengan energi kuno yang tersimpan di tanah ini. "Aku juga merasakannya. Mereka tidak bermusuhan, tapi mereka ingin memastikan niat kita sebelum memperlihatkan diri."


Menurut catatan kuno yang kami dapatkan di Amsterdam dan pesan yang disampaikan Yuriko, tujuan kami selanjutnya adalah lembah tersembunyi yang telah menjadi tempat tinggal para penjaga pengetahuan selama ribuan tahun-kelompok makhluk yang dikenal dengan nama Kitsune. Mereka adalah makhluk cerdas, memiliki umur panjang, dan menjaga rahasia-rahasia penting mengenai keseimbangan dunia, termasuk petunjuk lengkap tentang Elixir Penstabil yang kami cari.


Kami melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih hati-hati. Semakin jauh kami masuk, semakin terasa suasana yang berubah. Suara burung dan serangga perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang dalam namun tidak menakutkan. Hanya terdengar suara daun yang bergesekan tertiup angin dan aliran air sungai kecil yang tidak terlihat sumbernya.


Setelah berjalan hampir tiga jam, kami tiba di hadapan sebuah tebing batu tinggi yang tampak tidak bisa dilewati. Di depannya tumbuh tanaman merambat yang lebat, seolah menutup jalan sepenuhnya. Namun, saat aku melangkah mendekat, aku merasakan aliran energi yang lembut namun jelas memanggilku. Aku mengulurkan tangan, dan saat jari-jariku menyentuh dedaunan itu, semuanya berubah-tanaman merambat itu perlahan bergeser ke samping seolah memiliki nyawa, membuka celah yang cukup lebar untuk kami lewati.


Begitu melangkah melewatinya, pemandangan di hadapan kami membuat napasku tertahan. Di balik tebing itu terbentang sebuah lembah yang indah dan damai, seolah terpisah dari dunia luar. Kabut tipis berwarna keperakan menyelimuti bagian bawahnya, membuat suasana terlihat mistis namun menenangkan. Di tengah lembah itu, terdapat sebuah pemukiman kecil yang dibangun dengan gaya arsitektur kuno, memadukan kayu dan batu dengan sentuhan alam yang harmonis. Rumah-rumah beratap jerami tersusun rapi di antara kolam-kolam air jernih dan taman yang dipenuhi bunga-bunga berwarna cerah.


Di depan pintu gerbang yang dihiasi ukiran rumit, sudah menunggu sekelompok sosok yang membuat perhatian kami tertuju sepenuhnya. Mereka berdiri dengan anggun, mengenakan pakaian berwarna lembut yang selaras dengan alam sekitar. Yang paling mencolok adalah mata mereka-berkilau seperti emas cair atau perak yang dipoles-dan di belakang tubuh mereka, samar-samar terlihat bayangan ekor rubah yang bergerak perlahan, menandakan identitas mereka.


"Kalian yang datang dari seberang lautan," ucap seorang wanita paruh baya yang berdiri paling depan. Suaranya lembut namun berwibawa, mengalir seperti air sungai yang tenang. Rambutnya panjang berwarna perak yang terurai indah, dan di belakangnya terlihat sembilan ekor yang terbungkus cahaya samar. "Aku Meiying, pemimpin kelompok ini. Kami telah menunggu kedatanganmu, Anindya Kirana, dan juga kau, Seo Seung-hyun."


Kami mengangguk hormat. "Terima kasih telah mengizinkan kami masuk," jawabku sopan. "Kami datang bukan untuk berperang, melainkan untuk mencari pengetahuan guna mencegah bencana yang disebutkan dalam ramalan kuno."


Meiying tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah dua sosok di sampingnya. "Mereka sudah mengetahui maksud kedatanganmu. Yuriko telah mengirimkan pesan sebelum ia kembali ke tempat tugasnya, dan Lianhua telah mengamati perjalanan kalian dari kejauhan."


Dari antara kelompok itu, melangkah maju dua sosok yang kami kenal dari daftar makhluk yang telah disusun sebelumnya. Yang pertama adalah Yuriko, penjaga pantai yang telah membantu kami sebelumnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang yang dihiasi hiasan bunga, matanya berkilau cerdas-Lianhua, seorang Huli Jing yang dikenal pandai mengumpulkan informasi dan memahami aliran energi.


"Selamat datang," sapa Yuriko dengan senyum ramah. "Perjalanan kalian tidak mudah, dan itu sudah menjadi bukti kesungguhan hati kalian. Di sini, kalian akan menemukan apa yang kalian cari, namun juga harus memahami bahwa pengetahuan memiliki harga dan tanggung jawabnya sendiri."


Kami dipersilakan masuk dan diantar menuju sebuah bangunan besar di tengah pemukiman, yang berfungsi sebagai tempat pertemuan sekaligus perpustakaan kuno. Di sepanjang jalan, aku melihat makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan secara damai. Ada Genji, seorang Tanuki yang tampak ceria dan lincah, sedang membantu anak-anak muda mengumpulkan buah-buahan di kebun. Tak jauh dari sana, Sari, seorang Nhang yang berwujud wanita muda dengan rambut panjang berwarna hijau keperakan, duduk tenang di tepi kolam, seolah sedang berkomunikasi dengan air.


Begitu memasuki ruangan utama, aku terpesona melihat isinya. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan lukisan-lukisan kuno dan rak-rak tinggi yang berisi gulungan kulit dan buku-buku tua yang terawat baik. Di tengah ruangan terdapat meja batu besar yang di atasnya tergeletak sebuah gulungan kulit tebal berwarna coklat tua dan beberapa benda kecil yang memancarkan cahaya lembut. Selain Meiying, Yuriko, dan Lianhua, di sana juga telah menunggu Damar, seorang Qilin yang berwujud pria muda dengan aura kebaikan dan keadilan yang kuat, serta Haru, seorang Tengu yang tampak tegas namun bijaksana, mengenakan pakaian sederhana dengan sayap samar yang terlihat di punggungnya.


"Silakan duduk," ujar Meiying sambil menunjuk tikar anyaman yang tersusun rapi di sekitar meja. "Sebelum aku membuka rahasia yang tersimpan di sini, ada hal yang harus kalian pahami terlebih dahulu. Pengetahuan tentang Bulan Merah dan Elixir Penstabil bukanlah hal yang bisa disebarkan sembarangan. Ia memiliki kekuatan yang bisa menyelamatkan dunia, namun juga bisa menghancurkannya jika jatuh ke tangan yang salah."


Aku mengangguk memahami. "Kami mengerti. Kami tidak mencari kekuatan untuk berkuasa, hanya ingin melindungi keseimbangan dan mencegah terjadinya kehancuran."


Seung-hyun yang duduk di sampingku menambahkan dengan tegas, "Kami siap memikul tanggung jawab yang datang bersama pengetahuan itu.


Meiying menatap kami dalam-dalam selama beberapa saat, seolah sedang menilai kebenaran kata-kata kami. Setelah merasa puas, ia mengulurkan tangan dan perlahan membuka gulungan kulit di atas meja. Di atasnya tergambar tulisan kuno dan gambar-gambar yang menceritakan peristiwa yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu, serta apa yang akan terjadi saat Bulan Merah terbit sempurna.


"Bulan Merah adalah peristiwa langka yang terjadi setiap seribu tahun sekali," jelas Meiying sambil menunjuk gambar langit yang berwarna merah darah. "Saat itu, batas antara dunia manusia dan dunia gaib menjadi sangat tipis. Kekuatan makhluk gaib akan meningkat drastis, dan darah Nagual-seperti yang mengalir di tubuhmu, Anindya-akan mencapai puncak potensinya. Ia menjadi kunci yang bisa membuka atau menutup gerbang besar yang memisahkan kedua dunia."


Jantungku berdebar kencang mendengar penjelasan itu. "Lalu apa yang harus kami lakukan? Bagaimana cara menggunakan kekuatan itu agar tidak menimbulkan bencana?"


"Di situlah peran Elixir Penstabil," jawab Meiying sambil menunjuk gambar sebuah botol kecil berisi cairan yang memancarkan cahaya keemasan. "Elixir ini berfungsi sebagai penyeimbang. Ia akan membantu mengendalikan aliran energi yang bergejolak, mencegahnya menjadi terlalu kuat hingga menghancurkan segalanya, sekaligus mencegahnya menjadi terlalu lemah sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai penjaga."


"Namun, membuat elixir ini tidaklah mudah," lanjut Lianhua yang ikut berbicara. "Ia membutuhkan tujuh bahan utama yang sangat langka dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Tidak hanya itu, proses pembuatannya juga membutuhkan pemahaman mendalam tentang energi alam dan ketulusan hati yang murni-tanpa itu, bahan-bahan itu hanya akan menjadi campuran biasa, bahkan bisa berubah menjadi racun."


Meiying kemudian mengambil sebuah kotak kayu berukir indah yang tergeletak di samping gulungan itu. Saat dibuka, terlihat butiran-butiran kecil berwarna keemasan yang memancarkan cahaya lembut. "Ini adalah Bunga Bulan-salah satu bahan utama yang tumbuh hanya di tempat yang disinari cahaya bulan purnama secara terus-menerus. Kami telah menyimpannya selama bertahun-tahun menunggu kedatangan orang yang tepat. Ini adalah bagian yang kedua dari tujuh bahan yang kalian butuhkan."


Seung-hyun menerima kotak itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam tas kulitnya dengan sangat hati-hati. "Terima kasih. Bahan apa lagi yang kami butuhkan?"


"Ada lima bahan lagi yang harus kalian cari," jawab Damar yang ikut berbicara. Suaranya berat namun menenangkan. "Air Mata Naga dari pegunungan bersalju abadi, Akar Pohon Kehidupan dari hutan purba, Daun Garuda dari puncak gunung tertinggi, Darah Feniks yang hanya bisa didapatkan dengan izin, dan Inti Kristal Salju yang tersembunyi di ujung utara dunia."


Saat penjelasan itu berlangsung, tiba-tiba suasana di luar berubah drastis. Angin yang tadinya berhembus sejuk berubah menjadi dingin dan kencang, membawa bau yang tidak asing namun membuat bulu kuduk meremang-bau keserakahan dan kegelapan yang tidak wajar.


"Mereka datang!" seru Haru dengan waspada, matanya menyipit tajam. "Kelompok yang telah mengikuti jejak kalian. Mereka berani mendekati tempat suci ini."


Belum sempat kami bertanya, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Pintu ruangan terbuka lebar, dan masuklah sekelompok makhluk dengan penampilan yang mengancam. Di depan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan mata berkilau merah menyala dan dua ekor rubah hitam yang bergerak gelisah di belakangnya. Aura yang ia pancarkan terasa dingin dan menindas.


"Rahasia ini tidak boleh disembunyikan selamanya," ucap pria itu dengan suara parau. "Serahkan gadis itu dan gulungan itu, maka kalian akan diampuni. Darahnya akan memberikan kekuatan yang kita butuhkan untuk memerintah dunia ini."


"Itu tidak akan pernah terjadi," jawab Meiying tegas sambil berdiri. "Kau telah melupakan tugas kita sebagai penjaga, Kuro. Kekuatan bukan untuk dikuasai, melainkan untuk dijaga demi keseimbangan semua makhluk."


Kuro tertawa dingin. "Keseimbangan? Itu hanya omongan kosong untuk menahan kemajuan. Saat Bulan Merah terbit, semua aturan akan hancur. Dan aku akan menjadi penguasa atas segalanya!"


Pertarungan pun tak terelakkan. Para Kitsune dan makhluk penjaga bergerak dengan lincah, memanipulasi kabut dan cahaya untuk membingungkan musuh. Seung-hyun segera berubah sebagian wujudnya, cakar dan taringnya tumbuh, matanya berubah menjadi keemasan yang tajam. Aku merasa energi di dalam diriku bergejolak hebat, namun aku berusaha menahannya agar tidak melukai pihak yang baik.


Di tengah kekacauan, Mizuki, seekor Naga Air Kecil yang berwarna biru keperakan, muncul dari kolam air di sudut ruangan. Ia menyemburkan air suci yang memancarkan cahaya biru lembut, membasuh luka-luka yang diderita para penjaga dan melemahkan kekuatan serangan musuh. Sementara itu, Ryuuji, Naga Api Kecil yang berwarna merah menyala, melindungi bagian belakang ruangan agar tidak ada yang bisa menyelinap masuk.


"Kau tidak bisa melawan takdir sendirian!" teriak Kuro sambil berusaha mendekatiku. "Bergabunglah denganku, dan kita bisa menciptakan dunia yang baru di mana kita tidak perlu bersembunyi lagi!"


"Dunia yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak akan pernah bertahan!" jawabku lantang. Aku memejamkan mata, memusatkan energi yang mengalir di tubuhku, membiarkan naluri Nagualku muncul namun tetap terkontrol. "Kekuatan ini bukan milikku untuk dipakai sembarangan. Ia adalah amanah yang harus dijaga."


Aku mengangkat kedua tanganku, dan cahaya keemasan lembut mulai memancar dari telapak tanganku. Cahaya itu tidak menyakiti, melainkan menenangkan. Ia menyebar ke seluruh ruangan, membuat kegelapan yang dibawa Kuro perlahan memudar. Beberapa pengikutnya yang hanya dipaksa atau tertipu jatuh berlutut, merasa bebas dari pengaruh jahat yang menguasai pikiran mereka.


Melihat kekuatannya melemah, Kuro menggeram marah dan memutuskan untuk mundur. "Ini belum selesai! Aku akan kembali saat bulan merah bersinar sempurna. Saat itu, tidak ada yang bisa menghentikanku!"


Ia melompat mundur dan menghilang ke dalam kabut, diikuti oleh sisa pengikutnya. Suasana kembali hening, hanya terdengar napas berat dan suara air yang menetes.


Lihat selengkapnya