Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #11

Persekutuan di bawah langit Utara

Jejak langkah kami terbenam di atas hamparan salju yang mulai menebal seiring ketinggian tempat. Angin pegunungan utara berhembus semakin kencang, menerbangkan butiran-butiran es halus yang menyengat wajah, namun tidak lagi terasa se menusuk seperti saat pertama kali tiba. Seolah energi dari tempat suci dan Elixir Penstabil yang kami bawa telah memberikan sedikit ketahanan lebih pada tubuhku.


Di sampingku, Seo Seung-hyun berjalan dengan langkah mantap, matanya terus mengamati sekeliling. Sebagai werewolf, ia lebih peka terhadap perubahan alam dan kehadiran makhluk lain. Sejak meninggalkan lembah tempat Damar dan yang lainnya tinggal, ia beberapa kali berhenti sejenak, mencium udara, lalu melanjutkan perjalanan dengan ekspresi yang semakin serius.


"Ada yang berubah," ucapnya tiba-tiba, suaranya terdengar jelas meski tertutup deru angin. "Aku mencium jejak-bukan hanya satu atau dua, tapi banyak. Campuran aroma yang tidak biasa, sebagian terasa asing, sebagian lagi mirip dengan yang ada di catatan kuno."


Aku mengeratkan genggamanku pada botol berisi elixir yang tersimpan aman di dalam saku mantel. "Apakah mereka musuh?"


"Belum tentu," jawabnya pelan. "Di tanah utara ini, tidak semua yang berbeda berarti berbahaya. Tapi kita harus tetap waspada."


Kami terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh peta kuno-sebuah dataran tinggi yang terletak di antara dua puncak gunung, tempat konon menjadi titik temu berbagai ras makhluk gaib sejak zaman dahulu kala. Semakin mendekati lokasi, pohon pinus semakin jarang, digantikan oleh bebatuan besar yang tertutup lapisan es tebal. Langit di atas kami tampak luas dan gelap, meski masih siang, dihiasi awan kelabu yang bergerak cepat.


Tiba-tiba, di depan kami, kabut tebal yang selama ini mengelilingi lembah mulai terbelah. Di sana, di atas dataran batu yang luas, terlihat sekelompok sosok yang berdiri tenang, tidak bergerak meski angin bertiup kencang. Mereka tampak sedang menunggu.


Seung-hyun segera mengangkat tangannya sedikit sebagai isyarat damai, lalu berhenti berjalan sepuluh meter sebelum mendekati mereka. Aku berdiri di sampingnya, merasakan energi yang kuat namun tidak bermusuhan memancar dari arah kelompok itu.


"Siapa yang datang melintasi salju dan membawa darah kuno?" terdengar suara berat bergema di udara, berasal dari sosok paling depan yang bertubuh besar, mengenakan jubah tebal berwarna abu-abu tua.


"Kami datang bukan untuk berperang," jawab Seung-hyun dengan suara tegas namun sopan. "Aku Seo Seung-hyun, pemimpin klan werewolf, dan ini Anindya Kirana, pewaris darah Nagual. Kami mencari tempat pertemuan para penjaga keseimbangan, sesuai dengan ramalan yang telah diturunkan turun-temurun."


Sosok itu melangkah maju, menyingkap tudung jubahnya. Wajahnya tampak berumur, dengan garis-garis halus yang memahat kulitnya, namun matanya memancarkan kebijaksanaan yang mendalam. Di sampingnya berdiri beberapa sosok lain: seorang pria dengan rambut panjang terurai yang memancarkan energi magis yang tenang, dua wanita dengan mata yang bersinar redup, dan beberapa sosok lainnya yang wujudnya samar tertutup kabut tipis.


"Aku adalah Choi Dan-woo, Alpha Lycan yang menjaga wilayah utara," ucapnya. "Kami telah merasakan getaran kekuatan yang tidak biasa sejak beberapa hari lalu. Kami tahu darah Nagual telah bangkit kembali."


Di belakangnya, melangkah maju seorang pria berpenampilan anggun dengan jubah berhiaskan motif bintang. "Aku Hyun Woo-jin, Penyihir Agung yang menjaga perpustakaan pengetahuan dunia utara. Kami telah membaca banyak ramalan, namun tidak pernah menyangka akan melihatnya terjadi di depan mata."


Aku mengangguk hormat. "Kami datang mencari jawaban. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat Bulan Merah terbit, dan bagaimana cara mencegahnya menghancurkan batas antara dua dunia."


Choi Dan-woo menatapku lekat-lekat, matanya meneliti setiap gerak dan detak jantungku. "Darah Nagual adalah jembatan, namun jembatan itu bisa menjadi pintu terbuka jika tidak dijaga dengan kuat. Kekuatan yang terbangun saat bulan itu memerah tidak hanya akan mempengaruhi makhluk gaib, tapi juga mulai merembes ke dunia manusia. Batasnya perlahan menipis."


"Dan ada mereka yang berusaha memanfaatkannya," tambah Hyun Woo-jin. "Kelompok yang menyebut diri mereka Klan Kegelapan. Mereka dulunya adalah makhluk yang sama seperti kita, namun diselimuti keserakahan dan keinginan untuk berkuasa. Mereka telah bergerak diam-diam, mengumpulkan kekuatan, dan mencari pewaris darah Nagual untuk dijadikan kunci kekuasaan mutlak."


Jantungku berdebar kencang. "Jadi mereka benar-benar ada?"


"Mereka ada, dan mereka semakin dekat," jawab Dan-woo. "Beberapa hari yang lalu, pengintai kami melihat jejak mereka melewati hutan di sebelah barat. Mereka kuat, dan tidak segan-segan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka."


Seung-hyun mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Maka kita tidak bisa berdiam diri. Kita harus bersatu."


"Persekutuan sudah ada sejak lama," ucap Woo-jin sambil menunjuk ke sekeliling. "Di tempat ini, berbagai ras telah berkumpul sejak ratusan tahun lalu. Werewolf, Lycan, Penyihir, Vampir yang memilih kedamaian, Kitsune, Changeling, dan banyak lagi. Namun, selama ini mereka hanya hidup berdampingan, belum benar-benar bersatu dalam satu tujuan besar."


"Tapi ramalan mengatakan bahwa saat pewaris Nagual muncul, persekutuan yang utuh akan terbentuk," lanjutnya. "Dan itulah sebabnya kalian dipanggil ke sini. Bukan hanya untuk mencari jawaban, tapi untuk menyatukan mereka yang masih percaya pada keseimbangan."


Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba tanah di bawah kaki kami bergetar pelan. Angin yang tadinya hanya berhembus pelan kini berubah menjadi kencang, menerbangkan salju dan kabut hingga pemandangan menjadi sedikit kabur. Dari arah timur, di antara celah pegunungan, terlihat cahaya merah samar yang berkelap-kelip, disertai suara gemuruh yang terdengar seperti raungan marah.


"Itu dia," gumam Dan-woo. "Mereka sudah mendekat."


Dari arah yang sama, mulai muncul sosok-sosok bayangan yang bergerak cepat. Mereka berjumlah banyak, wujudnya tidak sejelas makhluk biasa, seolah terbuat dari asap gelap yang berputar-putar. Di tengah mereka, berdiri sosok yang lebih tinggi, memancarkan energi dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.


"Mundur sedikit," perintah Seung-hyun sambil melangkah ke depan, tubuhnya mulai berubah-ototnya membesar sedikit, taringnya memanjang, dan matanya berubah menjadi kuning keemasan yang tajam. "Jangan biarkan mereka mendekat.


Choi Dan-woo juga berdiri tegak, aura kekuatannya meledak perlahan, membuat salju di sekitarnya berputar mengelilingi tubuhnya. "Para penjaga! Bersiaplah!"


Satu per satu, sosok-sosok yang semula berdiri tenang di belakangnya kini mulai memperlihatkan wujud asli mereka. Beberapa berubah menjadi hewan besar yang gagah, beberapa memancarkan cahaya magis dari telapak tangan mereka, sementara yang lain menyembunyikan diri di balik bayangan dan kabut.


Sosok di tengah kelompok bayangan itu melangkah maju, suaranya terdengar parau dan menggema, seolah berasal dari banyak mulut sekaligus. "Akhirnya... pewaris darah langka itu muncul. Berikan dia padaku, dan kami akan membiarkan kalian hidup dengan damai."


"Tidak akan pernah terjadi," balas Dan-woo tegas. "Kalian yang telah terbuang karena keserakahan tidak akan pernah berkuasa di tanah ini."


Sosok itu tertawa, suara tawanya menusuk telinga. "Terbuang? Kami hanya ingin membebaskan diri dari belenggu aturan yang menindas. Dengan darah Nagual, kami bisa menguasai kedua dunia ini, dan tidak ada lagi yang berani merendahkan kami."


"Kekuasaan yang didapat dengan memaksa dan menghancurkan tidak akan bertahan lama," ucapku lantang, membuat semua mata tertuju padaku. "Darah ini bukan alat untuk berkuasa. Ia ada untuk menjaga, bukan untuk menindas."


Sosok itu menoleh ke arahku, matanya yang kosong berkilau merah. "Kau masih muda dan polos. Kau tidak tahu betapa besarnya kekuatan yang mengalir di tubuhmu. Serahkan saja, dan kau tidak perlu merasa takut lagi."


Lihat selengkapnya