Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #12

Sinar Matahari di Tanah Tropis

Udara terasa berbeda saat kami melintasi batas wilayah yang dipenuhi salju dan memasuki daerah yang lebih rendah. Suhu perlahan naik, menggantikan dingin yang menusuk dengan kehangatan yang lembut namun tetap segar. Salju yang tadinya menutupi seluruh permukaan tanah perlahan menghilang, digantikan oleh rumput hijau yang tumbuh subur dan pepohonan dengan daun-daun lebar yang berkilau terkena sinar matahari. Inilah awal dari tanah tropis yang menjadi tujuan perjalanan kami selanjutnya.


Anindya Kirana berjalan di depanku, matanya berbinar melihat pemandangan yang mulai terasa akrab baginya. Sebagai keturunan Nagual dari Nusantara, tubuhnya seolah merespons perubahan alam ini dengan cara yang tidak bisa kami rasakan. "Udara di sini terasa lebih hidup," ucapnya pelan, menghirup napas dalam-dalam. "Ada energi yang berbeda—panas, namun menyejukkan, seolah alam ini berdenyut dengan irama yang kuno."


Di sampingku, Seo Seung-hyun mengangguk setuju. "Indera penciuman dan pendengaranku menangkap ribuan aroma dan suara yang tidak ada di pegunungan. Bunga-bunga, tanah basah, aliran air, dan... kehadiran makhluk lain yang tidak kami kenal sebelumnya."


Kami berjalan beriringan melewati hutan yang semakin lebat. Sinar matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang menari-nari di atas tanah. Suara burung berkicau, aliran sungai yang jernih, dan gemerisik daun tertiup angin menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Berbeda dengan keheningan pegunungan yang terasa tegang, tanah tropis ini memancarkan kehidupan yang melimpah—namun juga menyimpan rahasia yang sama dalamnya.


Beberapa jam kemudian, kami tiba di sebuah lembah yang luas, dikelilingi oleh perbukitan hijau. Di tengahnya mengalir sungai yang airnya jernih hingga terlihat batu-batu halus di dasarnya. Di sepanjang tepiannya tumbuh berbagai jenis tanaman obat dan bunga-bunga berwarna-warni yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Ini adalah wilayah yang dijaga oleh kaum Therianthropes," jelas Anindya sambil berhenti sejenak untuk memeriksa sekeliling. "Mereka adalah makhluk yang bisa berubah menjadi hewan-hewan asli Nusantara, dan hidup selaras dengan alam selama ribuan tahun. Mereka tidak suka gangguan dari luar, namun juga tidak memusuhi siapa pun yang datang dengan niat baik."


Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, terdengar suara gemerisik dari balik semak-semak. Beberapa detik kemudian, muncul beberapa sosok yang mengenakan pakaian sederhana dari serat tumbuhan, dengan tatapan waspada namun tidak bermusuhan. Mereka memiliki ciri-ciri fisik yang halus berbeda—ada yang memiliki mata seperti elang, telinga yang sedikit runcing, atau rambut yang berkilau seperti bulu hewan.


Seorang pria yang tampak sebagai pemimpin mereka melangkah maju. "Aku tahu siapa kalian," ucapnya dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Aku adalah Bayu, pemimpin kaum Therianthropes di lembah ini. Kehadiran Nagual Darah Utama sudah kami rasakan sejak kalian memasuki wilayah kami."


Anindya memberi salam dengan cara tradisionalnya. "Aku Anindya Kirana, dan ini adalah teman-temanku. Kami datang bukan untuk mengganggu, melainkan mencari pengetahuan dan persekutuan dalam menghadapi ancaman yang mulai mengancam keseimbangan dunia kita."


Bayu menatap kami satu per satu, matanya berhenti sejenak pada Seung-hyun yang berdiri tegak dengan sikap waspada sebagai Alpha werewolf. "Kalian membawa energi yang kuat—dan juga beban yang berat. Mari ikut kami, kami akan berbicara di tempat yang lebih aman."


Kami mengikuti mereka menuju sebuah permukiman kecil yang tersembunyi di antara pepohonan besar. Rumah-rumah mereka dibangun dengan memanfaatkan alam tanpa merusaknya, terbuat dari kayu dan daun-daun yang disusun rapi. Di tengahnya terdapat sebuah lapangan terbuka dengan pohon beringin tua yang rindang, di mana kami dipersilakan duduk. Seorang wanita muda membawa air kelapa segar dan buah-buahan tropis yang manis dan menyegarkan.


Saat kami menikmati hidangan itu, Bayu mulai bercerita. "Tanah tropis ini telah menjadi rumah bagi berbagai ras gaib selama berabad-abad. Di sini tidak hanya ada kami—Therianthropes—tetapi juga kelompok Nagual yang lebih kecil, penyihir yang menguasai sihir alam, dan bahkan beberapa vampir yang memilih hidup damai daripada mengikuti jalan kegelapan."


Mendengar kata vampir, aku dan Seung-hyun saling bertukar pandang. "Vampir yang hidup damai?" tanyaku dengan rasa ingin tahu. "Selama ini kami hanya mendengar tentang mereka yang memburu manusia dan menimbulkan ketakutan."


Bayu mengangguk pelan. "Tidak semua dari mereka memilih jalan yang sama. Beberapa ratus tahun yang lalu, sekelompok kecil vampir memisahkan diri dari kelompok utama mereka. Mereka menolak untuk terus memakan darah manusia dan mencari cara untuk bertahan hidup tanpa menyakiti siapa pun. Mereka memilih tinggal di daerah yang terisolasi seperti ini, hidup selaras dengan alam dan hanya mengambil apa yang diberikan alam dengan sukarela."


"Di mana mereka tinggal sekarang?" tanya Seung-hyun. "Apakah mereka akan bersedia bertemu dengan kami?"


"Mereka tinggal di bagian paling dalam lembah ini, di dekat sumber mata air suci," jawab Bayu. "Mereka jarang berinteraksi dengan orang luar, namun jika kalian datang dengan niat tulus, mungkin mereka akan mau mendengarkan. Namun perlu diingat—mereka memiliki prinsip yang tegas dan tidak akan mudah percaya pada orang asing."


Setelah beristirahat sejenak dan mendapatkan petunjuk jalan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal vampir tersebut. Jalanan semakin sempit dan tertutup oleh tanaman yang lebat, namun Anindya seolah memiliki insting yang membimbingnya. Dia berjalan dengan yakin, seolah bisa merasakan energi yang mengalir di dalam tanah.


Sinar matahari yang tadinya terasa terik kini disaring oleh dedaunan yang rapat, menciptakan suasana yang sejuk dan agak redup. Udara terasa lebih lembap, diisi dengan aroma tanah basah dan bunga-bunga yang mekar di tempat yang teduh. Setelah berjalan selama satu jam lebih, kami tiba di sebuah tempat yang menakjubkan—sebuah gua besar yang mulutnya dihiasi oleh tanaman merambat berbunga, dengan air terjun kecil yang jatuh dari atas dan membentuk kolam jernih di depannya.


Di depan gua itu berdiri seorang pria dengan penampilan yang berbeda dari yang kami bayangkan. Dia tampak berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan kulit pucat namun tidak pucat seperti mayat, dan rambut hitam yang panjang terurai hingga bahunya. Matanya berwarna coklat tua yang dalam, dan tatapannya tidak menakutkan—justru terlihat tenang dan bijaksana. Dia mengenakan pakaian sederhana berwarna coklat dan hijau, yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.


"Aku sudah menantikan kedatangan kalian," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas. "Namaku Arjuna. Aku adalah pemimpin kelompok vampir yang memilih jalan damai ini."


Kami tertegun sejenak, tidak menyangka disambut dengan cara yang begitu tenang. "Bagaimana kamu tahu kami akan datang?" tanya Anindya.


"Alam ini berbicara padaku," jawab Arjuna sambil tersenyum tipis. "Aku bisa merasakan kehadiran darah Nagual yang kuat, kekuatan werewolf yang terhormat, dan energi-energi lain yang datang dengan misi yang mulia. Silakan masuk, tempat ini aman bagi kalian."


Di dalam gua itu ternyata tidak gelap dan suram seperti yang dibayangkan. Ada celah-celah di langit-langit yang membiarkan sinar matahari masuk dengan lembut, diteruskan oleh kristal-kristal alami yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Di sana ada beberapa orang lain—pria dan wanita—yang tampak hidup dengan damai, beberapa sedang merawat tanaman obat, yang lain sedang membaca gulungan kuno, atau hanya duduk menikmati ketenangan.


"Kalian pasti terkejut melihat kami seperti ini," ucap Arjuna sambil mempersilakan kami duduk di atas tikar dari daun kering. "Selama ini cerita tentang kami selalu penuh dengan ketakutan dan kesalahpahaman. Memang benar bahwa sifat asli kami membutuhkan darah untuk bertahan hidup, namun bukan berarti kami harus mengambilnya dengan paksa."


Dia kemudian menjelaskan sejarah kelompok mereka. Beberapa ratus tahun yang lalu, ketika perselisihan antara ras gaib semakin memanas, sekelompok vampir sadar bahwa jalan kekerasan hanya akan membawa kehancuran bagi semua pihak. Mereka melakukan penelitian dan pengamatan selama puluhan tahun, hingga akhirnya menemukan cara untuk memodifikasi kebutuhan tubuh mereka.


"Kami tidak meminum darah manusia lagi," jelas Arjuna. "Sebagai gantinya, kami mengonsumsi campuran dari getah tumbuhan tertentu, madu, dan sedikit darah hewan yang diberikan secara sukarela oleh hewan-hewan yang hidup di sekitar sini—tanpa membunuh atau menyakiti mereka. Ini membutuhkan disiplin dan pengendalian diri yang sangat besar, namun ini adalah harga yang kami bayar untuk hidup dengan damai dan tidak menjadi ancaman bagi siapa pun."


Seung-hyun yang selama ini waspada mulai melonggarkan sikapnya. "Ini sungguh berbeda dari apa yang kami ketahui. Selama ini kami diajari bahwa vampir adalah makhluk yang tidak bisa dikendalikan dan selalu haus darah."


"Itulah kesalahpahaman yang telah berlangsung selama berabad-abad," jawab Arjuna dengan nada sedih. "Seperti halnya werewolf yang bisa memilih untuk mengendalikan naluri hewani mereka, kami juga memiliki pilihan. Tidak semua dari kami memilih jalan ini, dan itulah sebabnya kami memisahkan diri dari kelompok utama. Mereka menganggap kami lemah dan mengkhianati sifat asli kami, sedangkan kami melihat mereka terjebak dalam lingkaran kekerasan yang tidak ada akhirnya."


Percakapan kami berlanjut sepanjang siang. Arjuna menceritakan banyak hal tentang sejarah ras gaib, keseimbangan alam, dan ancaman yang mulai terasa semakin dekat. Dia juga memiliki pengetahuan yang luas tentang sihir kuno dan tempat-tempat suci yang tersebar di seluruh Nusantara dan Asia.


"Kalian mencari cara untuk melindungi bulan merah dan mencegah kekacauan yang akan terjadi jika keseimbangan terganggu," ucapnya sambil menatap kami dengan pandangan yang dalam. "Aku bisa merasakan bahwa kalian memiliki peran penting dalam hal ini. Namun perlu kalian ketahui—ancaman yang kalian hadapi tidak hanya datang dari luar. Ada kekuatan yang berusaha memanfaatkan ketakutan dan kesalahpahaman di antara ras-ras kita sendiri."

Lihat selengkapnya